story of season
hampir setahun cerita ini ada di kepala,, ini pun masih 10 % bagian dari ceritanya dan masih berantakan,, mudah mudahan tahun depan bisa selesai nulisnya,, soalnya ceritanya udah tamat jauh jahuh hari ( versi yang ada di kepala mahh...hehe)
Sore
ini aku melihat langit ramai oleh layang-layang. Lagi-lagi aku lakukan ini. Di
lantai empat gedung ini. Gedung Sekolah Dasar kita dahulu. Aku melihat ke
tempatmu dan tetap masih mencari jalan kesana, walau aku tahu sebentar lagi
kita akan bertemu. Ingatkah saat kau akan meninggalkanku kau ajak aku ke lantai
empat ini, kau tunjukkan dimana tempatmu nanti. Meski ku tahu kau bisa saja
salah. Namun saat kau yakinkan aku, aku pun percaya padamu.
Beberapa
gumpal awan kecil menggantung di langit yang menudung bumi. Di hamparan sebelah
kanan aku lihat langit dua warna, warnanya begitu indah, jingga bercahaya dan
abu kebiruan. Dan di tempatmu yang masih aku kira-kira, yaitu di hamparan
sebelah kiri itu tampak sendu dengan awan biru muda. Dan perlahan air mataku pun
jatuh menimpa kulit pipi ku. Entah kenapa ada rasa tak mau bertemu denganmu, mungkin
karena aku terlalu naif.
Selama
ini kita memang seperti asing, waktu sepertinya kehilangan jejak kita, sehingga
tak ada tempat untuk kita mebuat cerita. Namun tiga minggu yang lalu, saat
waktu kembali menemukan kita, lewat sebuah percakapan singkat telepon seluler,
aku seakan tak percaya kau masih ada. Kau bilang kita harus bertemu, dan aku
yang masih mersakan ketidakpercayaan ini rasanya ingin menyerah saja. Aku tak
menyangka hanya karena sebuah lagu kau bisa mengenaliku.
Lagu
yang dulu sering kita nyanyikan bersama, di bawah pohon rindang sekolah kita.
Kokoronotomo lagu yang dinyanikan oleh seorang penyanyi Jepang. Mayumi Kojima.
Aku tahu kau tak akan melupakannya, begitu juga aku. Saat umur kita masih
delapan tahun rasanya sungguh hebat kita hapal lagu asing ini. Namun mungkin
tidak terlalu hebat bagimu, karena karena kau memang punya darah Jepang. Aku
ingat saat kau pertama masuk di kelasku dan memperkenalkan dirimu. Haruma
Miura, nama yang baru sekali aku dengar, aneh dan lucu.
Di
sebuah tempat yang dahulu kerap kita sambangi selagi belum seperti sekarang.
Mungkin kau akan datang dengan sepedamu dengan gendongan tas gitar dan ransel
hitam milikmu. Mungkin juga kau kenakan sepatu putih tak bertali. Aku selalu
ingat jikalau kau tak suka tali. Bahkan dulu saat kita masih berseragam putih
merah, kau selalu menyuruhku untuk tidak mengikat rambutku. Padahal aku suka
sekali ikatan ibu. Tapi kau selalu memintaku untuk membukanya.
Masa
itu kembali terkenang kala aku mengingat akan bertemu denganmu. Dan entahlah
apakah engkau akan mengingat aku?. Kau tahu pertemuan kala itu teramat singkat.
Satu tahun saja. Tapi entah mengapa aku dan kau
bisa seakrab itu, mungkin karena kita kanak-kanak. Rasanya tidaklah adil jika
pertemuan kita yang setahun itu harus terhenti dengan perpisahan selama 14
tahun ini. Kau harusnya ingat saat kau bilang. Kau kan pergi bersama orang
tuamu ke tempat yang kau suka. Dengan sombongnya kau meninggalkanku. Aku ingin
katakana sekarang. Jikalau saja kau tahu, saat aku membalikkan badanku, aku
bukannya tak peduli padamu, aku hanya tak bisa menahan air mataku. Namun aku
tak mau kau tahu.
Kau
suka gitar, kau bilang kau ingin menjadi sorang gitaris terkenal. Sambil
membawa ranting pohon yang kau pegang layaknya gitar. Kau nyanyikan lagu
kesukaanku. Dulu kau selalu menggodaku, Kau bilang aku boleh naik sepedamu jika
aku tidak mengikat rambutku, kau memperhatikan cara jalanku. Kau sengaja
mendahuluiku dengan sepedamu jika aku menolak membuka ikat rambutku. Kau pun
tak mau memboncengku ke sekolah. Namun
diam-diam, setelah kau berada jauh di depanku, kau pun memutar jalan dan
kembali mengikutiku. Dan memperhatikan aku dari jauh..
Seikat
bunga mawar kau bawa padaku. Dengan sedikit memaksa seperti kebiasaanmu. Kau
memintaku membuat pudding mangga kesukaanmu. Sengaja kau pilih yayasan ku
sebagai tempat yang sudah kau persiapkan untukku membuat pudding. Kau undang
anak-anak disana dan kau pun beralasan,
kau bilang anak-anak lah yang memintaku
membuat pudding. Aku sudah tahu benar tentang kau. Padahal aku lelah. Tapi
lagi-lagi aku menyerah, aku tak bisa menolakmu.
Sebelumnya
kau memintaku datang ke tempat itu, tempat pertama kita bertemu, tempat yang
kita tunjuk sebagai tempat pertemuan kita
untuk berangkat sekolah bersama dan tempat yang kita pilih untuk bertemu
setelah 14 tahun lamanya. Hari ini Nampak berbeda, aku pun seperti tak biasa
seperti biasanya, kurasakan ada beban yang mengikutiku sejak keberangkatanku
dari rumah tadi, setelah ku putuskan untuk mengungkapkan semua yang kurasa
namun sesaat aku ragu untuk melakuan itu. Bahkan aku ingin berbalik dan
berlari. Namun ku urungkan, ketika melihatmu tengah menungguku di kursi taman
itu. Kulihat kau dari dibalik pohon, sesekali kau perhatikan jam tanganmu. Aku
pun langkahkan kakiku yang tersa berat ini. Belum saja aku sampai, kau langsung
menghampiriku,, “dari mana saja, aku punya kejutan untuk mu” kau pun
mendorongku ke tempat yang kau bilang kejutan itu. Sepanjang perjalanan tak
henti-hentinya kau berbicara, entah apa yang kau bicarakan, tiba-tiba semua
konsentrasiku hilang. Terasa tak karuan.
Hari
itu saat kita sedang menikmati indahnya pgi bersama anak-anak panti, aku
melihat dia dengan seseorang. Nampaknya laki-laki itu begitu dekat dengannya. Disitu batinku
bergejolak, bagaimana bisa?. Bagaimana jika Iu melihatnya?. Aku pun tanpa sadar
mencoba memalingkan pandangan Iu. Aku paksa dia melihatku. Aku igin mengalihkan
perhatian Iu
dari ketidakpercayaan ini. Aku pura-pura merasa sakit sehingga Iu bisa lebih
fokus padaku. Syukurlah Iu tidak sempat meilihatnya. Meski begitu aku pun takut
Iu merasa aneh tetag gerak-geriku. Akhirnya kita pun pulang karena Iu merasa
khawatir akan keadaanku.
Pagi
itu dengan sepeda kesayangannya iu datang ke toko bunga milikku, seperti
kebiasaan rutin yang ia lakukan setiap hari. Ia menitipkan gitarnya lalu pergi
lagi dengan membawa tas kerja gendongnya yang berisi peralataan memotret.
Seorang fotografer dan pemusik membuat Iu menjadi sangat sibuk. Tidak lain
tidak bukan untuk kelangsungan hidup bersama ibunya. Iu seorang pekerja keras
meski aku tahu, ayahnya yang keturunan Jepang bukan orang sembarangan. Meskipun
setiap bulan ayahnya selalu mengrim uang, tapi Iu tidak pernah mau menerimanya.
Ia selalu menyimpannya tanpa Ibu dan Ayahnya tahu. Memang bukan uang yang Iu
butuhkan . ia hanya mau ayahnya ada bersamanya. Ia hanya mau keberadaa ayahnya
di sisi ibunya. Apalagi kini ibu sering sakit yangmembuat Iu selalu khawatir
bila ia harus kerja seharian dengan meninggalkan ibunya seorang diri di rumah.
Walau begitu ibu adalah orang yang kuat. Ia juga tidak mau membuat Iu khawatir.
Ayah iu yang seorang pengusaha memamng memilih tinggal di Jepang bersama Istri
pertamanya. Dan tidak pernah datang lagi setelah perceraiannya dengan ibu. Ia
hanya mengirimkan uang untuk kebutuan sehari-hari setiap bulannya. Namun itulah
yang membuat iu semakin tidak terima. Ia berharap ayahnya bisa kembali bersamanya.
Hari
ini iu memang tidak seperti biasa. Ia nampak lesu dan tidak kulihat lesung
pipitnya hari ini. Padahal aku tau, hari ini ulang tahun orang yang dia cintai.
Dan seperti rencana iu yang ku tahu, ia akan mengungkapkan perasaannya pada
gadis itu. Maka dengan spontan aku menawarkan diri merangkaikan bunga untuk
dibrerikan pada gadis
pujaannya. Iu hanya tersenyum, dan senyuman itu menandakan persetujuannya.
Meski terasa sakit bagiku, namun aku tetap tidak ingin iu tahu.
Aku
rangkaikan bunga itu untuknya dan tanpa terasa tetes demi tetes airmataku
membulir dan terjatuh. ada pertentangan dalam hatiku. Kumasukkan bunga itu ke
dalam lemari penyejuk
agar selalu segar. Tanpa sadar adikku memperhatikan ku. “Mbak,, kenapa mbak
tidak mengungkapakan perasaan mbak kepada kak Iu?, sampai kapam mbak akan
menyembunyikan persaan mbak?” lekas aku mengusap air mataku dan mencoba
tersenyum. Selama ini hanya adik dan mama yang tahu tentang perasaanku kepada Iu. Namun bagaimanapun
aku tidak bisa
menjadi
seseorang yang bisa dicintai Iu. Tanpa menjawab pertanyaan adiku, aku pun
berpamitan pergi. Dan menitipkan bunga itu untuk diberikan kepada iu, saat dia
kembali membawa gitarnya.
Aku
pun pergi ke tempat yang biasa menjadi penghiburku dikala sedih, anak-anak lucu
dan manis membuatku merasa lebih baik. Tempat yang selalu aku kunjungi disaat hatiku
tak menentu. Panti asuhan yang tidak jauh dari toko bungaku. Seharian penuh aku bermain bersama
anak-anak panti, dan tanpa
sadar iu sudah ada di tengah-tengah kami, aku pun tersenyum. “kenapa kau
disin?” tanyaku. “bagiamana,
apakah kau sudah menemuinya ? apakah dia menerima mu?” aku lesatkan beberapa
pertayaan tanpa kusadari. Iu tersenyum
dan mengangguk. Dan saat itu lah hatiku
kembali bercampur aduk. Tapi yang biasa aku lakukan adalah tersenyum. “
selamat, pasti itu karena bunga dariku” aku mencoba mencairkan suasana hatiku
sendiri.
“kau senang?” ia bertanya padaku. “jelas saja aku senang, tidak usah kau tanyakan? Jawabku. “apakah kau merasa
bahagia?” ia kembali bertanya. “kenapa
kau ini?, jelas saja ku bahagia. Bila sahabatku bahagia, aku pasti bahagia”
elakku. “menangislah” ia menghentakkan hatiku. “menangis? Untuk apa?” tanyaku
heran. “selama 2 tahun ini, aku tidak pernah melihatmu menagis, jadi
menagislah” jawaban iu semakin membuatku tak mengerti. Meski begitu itu adalah
hari diamana iu mengerti hatiku. Airmata yang selalu kupendam di hadapannya,
sudah hampir tak terbendung. “ada apa kau ini?” kataku sambil membawa tas miliku dan beranjak pergi. Tiba-tiba ia
menarik tasku dengan kuat dan terus memintaku untuk menangis. Hal itu semakin membuat aku tidak
kuat menahannya. Aku tarik tas ku namun iu pun kembali menariknya lebih kuat “menangislah”
dengan perasaan yang tak karuan ini aku pun meninggalkan iu yang masih memegang tasku.
Aku menangis saat membalikkan badanku dan berjalan dengan langkah yang berat.
Namun tiba tiba langkahku terhenti saat ia berteriak padaku. “kenapa kau begitu
licik?” aku mengusap air mataku dan menoleh dan merasa tak percaya akan
kata-kata itu. Ia pun memperjelas kata-katanya. “kenapa kau begitu licik?,
kenapa kau banyak menyembunyikan hal-hal yang aku tidak tahu, padahal aku
selalu mencurahkan apapun padamu,” sesuatu terlintas di pikranku. Apakah ia
sudah tahu? Tentang perasaanku?. Wajahku masih tertegun. “ haruskah kau
menyembunyikan perasaan itu” ia pun kembali bertanya. Aku semakin yakin akan
maksud ucapannya, darimana dia tahu? Kenapa dia bisa tahu?. Aku pun tidak tahu
harus menjawab apa. Aku hanya diam. Dan saat itu adalah saat dimana air mataku
tak bisa terbendung dihadapannya. Aku menangis di hadapannya. Aku pun melihat mata
iu seketike menggenang,
iu tersenyum, dan
berkata “ menangislah ane, tidak apa, biarkan aku pun merasakan kesedihanmu,
jangan kau biarkan aku menjadi seorang
sahabat yang bodoh”, kita pun membiarkan
waktu berlalu menemani air mata kita.
Tidak ada kata-kata yang terucap dari kita berdua. Tak
berapa lama, ia pun mengajakku untuk pulang. Aku yang masih
bisu, tak tahu harus bagaimana menghadapi keadaan ini. Seperti tak terjadi
apa-apa. Kami pun berjalan kembali ke toko bunga. Kini iu kembali menjadi sosok
iu yang aku kenal. “jangan pernah kau sembunyian lagi apapun dariku” dengan senyum khasnya ia bicara padaku. Aku
tetap bisu. Iu pun seperti
nya mengerti akan keadaanku. Ia membawa tasku dan tiba-tiba… aku lihat bunga
yang kurangkai untuk iu ada ditempat sampah.
Aku berhenti dan melihat
nya lebih seksama dan langsung melihat
ke arah iu. “aku sengaja mebuangnya, bunga itu telah membuamu menagis tanpa
sepengetauanku” seakan tahu pertanyaan dalam hatiku. Aku kembali tertegun. Kali ini apa yang
harus aku bicarakan. tapi lagi-lagi iu menenangkanku” ayo kita pergi” seolah
memaksaku untuk melangkah kembali. entah apa yang ada di hati iu. Kali ini aku
tidak bisa menebaknya. Tapi yang aku tahu iu tidak sama sekali menemui gadis
yang dia cintai
Suasana
perjalanan
yang tidak pernah
kami lewati sebelumnya. Kami hanya terdiam dan sesekali iu menghela nafasnya.
Di pintu toko bungaku, aku lihat adikku. Ia tiba-tiba meminta maaf padaku.
“maaf mbak, aku sudah tidak bisa melihat mbak seperti ini terus” aku baru
mengerti teryaata adiku lah yang mengatakannya kepada iu. “ kenapa kau meminta
maaf, kau adalah orang yang membuat aku
mengerti
kakakmu” iu yang menjwab permintaan
maaf dari adikku. Aku tetap menjadi bisu.
Iu
berpamit pulang Dan semua berlalu sampai tak kurasa hari sudah pagi. Ada yang
berbeda dengan iu, perhatian yang ia berikan tidak lagi kurasakan dari seorang
sahabat, kali ini berbeda. Dia mengajaku
berjalan-jalan, seolah tidak terjadi apa-apa di hari kemarin. Dan di tengah
perjalan ia berkata “jangan pernah lagi menyembunyikan air matamu, biarkan aku
tahu. Mulai sekarang aku akan menjadi orang yang paling mengerti dirimu,
biarkan aku mencintaimu” kalimat itu membuatku ingin menangis. “aku…” aku mencoba berucap
setelah tak ada yang kucapkan sehari kemarin padanya. “sudah jangan biara
apa-apa, aku adalah orang yang paling mengerti dirimu, hanya aku” ia seolah
tahu aku belum
siap untuk menanggapi semua ini.
Sebulan
berlalu. Aku dan iu menjalani hari-hari dengan senyum, ia semakin membuatku
bahagia. Ia tidak pernah membicarakan gadis yang ia cintai lagi. Ia membuat
hari-hariku istimewa. Meski aku tetap tidak tahu apa yang ada dalam hatinya. Ia
mengajakku pergi ke acara musiknya, kali ini orchestranya akan mengadakan
pertunjukkan di sebuah gedung kesenian. Aku melihat iu begitu memukau di atas panggung, dengan alunan suara nya bergema bersama
musik yang mengalun. Petikan gitar dan
suara gitar yang sudah tidak asing bagiku.
Di
tengah acara tiba-tiba aku dengar “itu pacar iu, bukannya ane itu sahabat iu?
Seseorang yang tidak aku kenal menyebut
namaku, tanpa sepengetahuan mereka aku pun semakin mendekat. “ia mungkin,
lagipula iu belum cerita apa-apa, aku juga merasa aneh kenapa dengan iu saat
ini, ia jadi tidak pernah lagi terlihat bersama laras, selama ini kan dia
menyukai laras, aku tahu bagaimana
usahanya mendekati laras, sekarang dia tiba-tiba saja menjauhi laras. Ya
walaupun aku dengar laras tidak begitu menyukai iu, mungkin iu hanya menjadikan
anesebagai pelariannya”
“aku
rasa tidak, mana mungkin iu sejahat itu, aku pikir dia hanya merasa kasihan
pada ane, yang aku tahu ane sudah lama punya perasaan lebih pada iu, aku yakin iu hanya
ingin membuat sahabatnya bahagia”
“apa
iya”
“tentu
saja, kau tidak seperti kenal iu saja, dia adalah sahabat yang baik, dia tidak pernah itungan buat sahabatnya sendiri, sekarang
ingat,
dia rela menjual mobilnya waktu tomy sakit parah dan harus dipoerasi, sekarang
kenapa tidak dia mngorbankan persaannya untuk sahabat yang ia sayangi”
Tapi
tetap saja iu tidak benar-benar mencintai ane kan”
“ya
sudahlah, kita lihat saja nanti, ayo kita latihan lagi”
Percakapan
itu membuat sebulan yang kurasakan ini berakhir begitu saja, apakah benar yang
mereka katakana?, aku tidak
bisa menhan air mataku dan pergio ke toilet untuk menenangkan diriku, rasanya
aku semakin tidak bisa menjalani ini dengan cara ini. Setelah aku keluar dari
toilet, aku melihat iu sudah ada di depan pintu toilet, dia sepertinya tahu aku
kesini. Acara sudah selesai. Ayo kita pulang. Di perjalanan aku
pun meminta Iu untuk tidak lagi berpura-pura. “jangan kau paksakan iu, aku
baik-baik saja” akhiri sampai disini”
“apa
maksud mu” kata iu
Sudah
jangan diteruskan.”
Iu nampak marah.
Aku pun tidak bisa bertanya lagi.
Ia
mengajakku pulang, di perjalanan wajah marahnya tak lagi terlihat, ia kembali membuat aku
semakin mencintainya, namun disisi lain rasa itu pun membuatku merasa semakin
bersalah padanya. Ia mengantarku
sampai bertemu papa dan mama. Mama pun semakin percaya pada iu, namun tidak
bagiku, aku semakin ragu padanya. ‘saya titip bidadari saya ya ma” kata iu.
Mama mengangguk dan berkata “ ia pangeran” dengan nada bercanda. Aku hanya tersenyum melihat percakapan itu, sungguh membuatku
menjadi semakin bersalah. Teryata benar, mama memang semakin percaya pada iu,
apalagi mama tahu betapa ku mencintai iu. “liat. Kesabaranmu membuahkan hasil
kan?, Allah memberikan yang terbaik, cinta yang kamu pendam tidak lagi terasa menyakitkan” aku
menatap wajah mama, dan memeluk mama erat, aku sandarkan tubuhku di pelukan
hangat itu. Rasanya hanya
pelukan mama yang membuatku
nyaman. Air mata
kembali menetes. Tapi aku tidak mau mama tahu. Kalau yang aku rasakan adalah
kebalikan dari apa yang mama rasakan.
Pagi
menjelang
“antarkan
makanan ini ke rumah iu ya” mama memintaku mengantarkan puding kesukaan iu.
“ane
tidak bisa ma, ane tidak enak badan, aku coba beralasan, bukan apa-apa. Aku
hanya ingin sedikit berpikir atas apa yang sudah dilakukan iu.
“kalau
ketemu iu pasti sembuh” mamah malah mengejekku
Bagaimanapun aku tidak bisa menolak apa yang
mama suruh. Aku pergi ke rumah iu dengan langkah yang berat. Aku tahu iu tidak
ada di rumah. Ia pasti sedang bekerja. Aku memberi salam dan mengetuk pintu,
dan tidak lama pintu ter buka,
“iu?
Kamu tidak bekerja?” tanyaku
“ibu
sakit, vertigo nya
kambuh, ayo masuk” ia melebarkan pintu dan kita pun masuk
“ibu
sakit? kenapa kamu tidak bilang?”
“iya
aku belum sempat”, kamu tahu sendiri kan ibu anti rumah sakit, ibu semakin
sakit kalu di bawa kerumah sakit, aku sudah panggil dokter, ibu juga sudah
minum obat”
Saat
aku sampai ke kamar ibu, ibu sepertimya terlihat begitu lemas, matanya pun tebuka,
“ane?”
dengan nada lemas ibu mencoba bangun, aku pun menahannya,
‘’ibu
tidur saja, ane bawa puding kesukaan iu, ane kaget waktu iu yang membukakan
pintu, ternyata ibu sakit”
‘padahal ibu suah tidak apa-apa, iu yang
berlebihan, harusnya hari ini
dia kerja, apalagi nanti malam ada pertunjukkan yang dihadiri bapak presiden,
pergilah sana, ibu sudah tidak apa-apa”
“tidak
apa-apa bagaimana? Tadi pagi ibu pingsan, sampai sekarang saja masih pucat” jawab iu
‘ibu
tidak apa-apa, apalagi sudah melihat calon menantu ibu” ibu mengusap tanganku
Aku
terkaget dengan ucapan ibu, kenapa lagi ini? Ada harapan yang besar dari mata
ibu. Aku pun melihat ke arah iu, iu hanya tersenyum. Aku tidak bisa menyangkal
dalam keadaan ibu sedang sakit. Ibu memang begitu baik kepadaku. Saat kecil sebelum perpisahan kami 14 tahun pun ibu adalah
orang yang begitu menyayangiku, ibu yang lebih memilih menjewer iu saat iu
menganngguku, ibu yang selalu mengikat lagi rambutku setelah iu merusaknya. Aku pun semakin
sulit menghadapi semua ini. Kenapa iu senekat ini. Harusnya ia juga pikirkan
kebahagiannya sendiri. Kenapa ia harus memaksakan ini sedemikian jauh?. Aku
mencoba mengalihkan pembicaraan,
Iu,
kamu pergi saja, biar aku yang menunggu ibu, kalu perlu aku menginap, nanti aku
akan telepon mama, mama pasti mengizinkan” kataku
“iya,
pergilah nak, ibu sudah tidak apa-apa, ada ane yang menemani ibu, kamu tidak
sedang sibuk kan nak? Tanya ibu
“tidak
bu”
“baiklah
kalau begitu, aku tenang sekarang”
Iu
bergegas sersiap-siap, aku dan ibu saling tersenyum. Kami bercakap sebentar mengenai kabar mama dan papa.
Tidak lama iu pun berpamit dan meminta doa dari ibu.
Aku
mencari watu untuk bicara berdua dengan iu, aku beralasan mengantar iu sampai depan
rumah
“bu
aku kunci pintu dulu ya”
“ia
nak”
“iu
tunggu, apa maksud perkataan ibu tadi, iu, aku mohon jangan membuatku merasa
bersalah”
“kenapa?
Sudahlah aku sudah bilang aku akan mencintaimu seperti kau mencintaku”
“cukup
iu, aku tidak ingin ini dilanjutkan, aku sudah bilang aku baik-baik saja, apa
yang akan terjadi nanti. Kamu tidak bisa hidup dengan orang yang tidak kau
cintai”
“ane,
tolong jangan berkata seperti itu lagi, tolong jaga ibu, aku pulang malam” iu
menutup pembicraan kami begitu saja
Tiba-tiba
ia kembali menoleh dan berkata, “masakan makanan yang enak ya untuk nanti malam
bidadariku”
Kata-kata
itu membuat gugur keraguanku
sesaat, sepertinya hanya kata-kata itu yang bisa membuatku melupakan sejenak
ketidakpercayaanku
(sebenaranya
iu tahu saat laras bersama laki-laki di taman bermain itu, pada saat ane mncoba mengalihkan
pandangan iu dan pura-pura sakit, saat itu iu ia malah
melihat dengan jelas dari kaca di belakang ane, yang ane tidak sadari, namun iu
hanya terdiam seolah tak melihat apa-apa, dia seperti mengerti kalau ane hanya ingin mengalihkan padangan
iu)
Ingatkah saat hujan turun, kubiarkan kau bicara, dan aku
hanya memperhatikan setiap ucapan yang keluar dari mulutmu. Semua huruf, kata,
kalimat yang kau rangkai menjadi sebuah hal yang amat bermakna. Tanpa mau
melihatmu, kupalingkan wajahku. Dan kutumpahkan air mata ini. Semuanya
menjadikan ku merasa bersalah. Rasanya terlalu salah akan semua ini.
Mungkin aku yang belum percaya padamu. Semua yang telah
kau katakan. Seharusnya aku percaya padamu, sebagaimana kau telah
mempercayaiku. Percaya akan perasaan yang aku miliki padamu. Seharusnya aku
percaya padamu. Bahwa kau bisa mencintaiku. Namun apa yang aku perbuat sungguh
tak ingin kulakukan. Kau membuktikan semuanaya, hal yang aku ragukan. Hal yang
aku ingin percaya namun sulit, hal yang ingin aku ingin namun teramat terasa
jauh, hal yang begitu indah namun terasa menyesakkan. Kini aku ingin kau
mendengarkanku, aku percaya padamu.
Setiap kata yang kau ucapakan tak akan lagi kuragukan.
Setiap yang berikan padaku, terasa begitu dekat dan
berari bagiku, namun aku tak mau sepereti ini, aku tak mau memperbesar rasakau
hanya kaerena kebaikanmu. aku ingin menampikkannya, namun semuanya terasa
menyedakku. Membuatku nyaris menyerah menghapus rasa ku.
Setiap kata kuhapus namun semakin sering lagi kau
menuliskannya. Semua itu membuatku merasa berat. Mungkin aku yang terlalu naif
untuk mniadakan rasa ini.
Kau simpan foto masa kecil kita hingga kita bertemu
sekarang. Kau abadikan lewat hobi barumu.
Kini
aku yang harus pergi. Mungkin yang kau rasakan saat ini adalah cerminan
perasaanku kala itu.
Di
jepang, kau mengejutkan ku dengan kedatanganmu. Kau ajak aku makan di tempat
kesukaanmu. Disana ternyata sudah ada keluargaku dan ayah serta ibumu. Aku benar-benar
senang. Kau pun berjanji akan menjadi guide selama 3 hari liburan ini. Kita
habiskan hari-hari indah. Syukurku atas apa yang diberikan-Nya. Kau ajak ke
semua tempat kesukaanmu. Termasuk masjid yang sering kau kunjungi. Padahal aku
baru 3 bulan di Jepang. Lagi-lagi seikat
mawar diantara guguran sakura kau tepati janjimu.
Membuatku
selalu tersenyum. Dan kata-kata yang selalu teringat juga dalam ingatanku saat
kau bilang aku bisa mencintaimu sungguh
perasaanku tak menentu kala itu. Aku tak mau membuatmu terpaksa mencintaiku.
Namun kau pun slalu menyangkalnya. Keputusanku ke jepang pun karena aku ingin
menjauh darimu. Walaupun sebenarnya aku tak mau. Namun kau buktikan semuanya.
Kau buktikan kata-katamu. Mungkin aku yang belum bisa mempercayaimu.
Aku
duduk di kursi taman itu, menunggu kamu datang denagn sepeda kesayanganmu.
Penjual bunga potong disampingku tiada henti memperhatikan gerak-geriku saat
menunggumu, ia melempar senyum padaku dan berkata “sebentar lagi ia datang”. Dan
kerap aku melihat jamtanganku, yang terus berjalan sama seperti kamu. Dan rasa
jenuh membuatku beranjak dan pergi. Mungkin kamu memang tak akan datang.
Mungkin penjual bunga itu juga mengerti. Dan seberapa jauh aku melangkahkan
kakiku menjauh darimu. Berlawana dari mana kau dating. Dan entah kenapa
tiba-tiba kamu sudah ada didepanku. Dengan seyuman manismu.
Saat ku mencoba menghinmdari mu kau begitu sulit
kuhindari.saat kita berpayung, ku tsak kuasa menahan air mataku.


Komentar
Posting Komentar