SAKURA (not yet)



TOKYO, JEPANG
      Namaku Amayra Berliana, aku biasa dipanggil Amy, aku adalah salah satu dari ratusan orang Indonesia yang tinggal di Jepang. Sudah hampir satu tahun aku tinggal di Jepang. Aku disini bukan tanpa alasan, aku mendapatkan beasiswa dari Perguruan Tinggi dari negaraku untuk melanjutkan studiku di  Jepang. Tentu aku tak kan menyia-nyiakan kesempatan yang berharga ini. Aku meneruskan kuliahku di Tokyo. Bila keluargaku di Indonesia menanyakan keadaanku, aku pasti menjawab bahwa aku sangat nyaman tinggal di Jepang, selain lingkungannya yang selalu terlihat bersih, penduduknya pun sangat nenjunjung tinggi kedisiplinan. Aku benar-benar tak menyesal atas keputusanku untuk menetap di Jepang sampai aku lulus kuliah nanti.
      Karena aku tinggal di sebuah apartemen, aku hanya tinggal sendiri, dan hanya mengandalkan fasilitas yang disediakan apartemen ini. Tapi di sebalah kamarku ada salah seorang teman yang berasal dari Indonesia yang sama-sama mendapatkan beasiswa dan menjadi teman dekatku, namanya Dania. Kami selalu berangkat bersama ke kampus dan selalu hang out bersama bila kami membutuhkan hiburan karena jenuh setelah belajar seharian. Sampai sekarang kami masih menjunjung tinggi kebudayaan Negara kami. Mudah mudahan itu berlaku untuk selamanya, walaupun kami tinggal di Jepang tapi kami tetap orang Indonesia.  
     Selain Dania aku juga mempunyai dua orang teman dekat  yang berasal dari Jepang namanya Rieru dan Miyazawa. Mereka adalah teman-temanku  yang sangat baik.

    Di kampus ada salah seorang mahasiswa yang sampai saat ini masih misterius bagiku namanya Nao Masaki. Ia cukup terkenal di kampus, bukan hanya karena ketampanannya namun juga karena ia sangat cerdas. Tapi dia terlalu tertutup dan sangat pendiam. Namun itulah yang membuat aku semakin berpikir dan ingin tahu lebih jauh tentang Nao, walaupun sebenarnya itu bukan hal yang penting, tapi hatiku berkata aku tidak boleh menyerah. Tentunya aku tak mau membuat kuliahku terganggu hanya karena itu,tapi entahlah perasaan apa ini?. Setiap aku bertemu dengannya ia hanya  menundukan kepalanya seperti kebiasaan orang Jepang lainnya bila menyapa orang lain, ia tidak pernah berkata banyak hal. Namun kenapa aku harus merasakan perasaan yang sebenarnya aku ragu tentang ini. Tuhan…sekali lagi aku bertanya perasaan apakah ini?.



      Sebenarnya pertama kali aku bertemu dengan Nao bukan di kampus, tapi di Bandara Narita, Tokyo waktu pertama kali aku dan Dania datang ke Negara ini. Dan di sanalah pertama kalinya aku merasakan perasaan yang membuat hatiku tertegun dan terdiam. Aku tak tau sedang apa dia di bandara itu, yang jelas ia sedang duduk terdiam di sebuah kursi tunggu. Sesekali ia melihatku, berkali kali hatiku berbicara ada apa ini apa yang kurasakan saat ini?. Ternyata perasaan ini berlanjut sampai saat ini. Entah?, apakah Nao merasakan dan mengerti apa yang aku rasakan. 
     Hari ini aku bertemu dengan Nao di depan gerbang kampus, seperti biasa ia hanya menundukan kepalanya dan beranjak pergi. Tanpa sengaja aku bertemu dengannya di taman kampus tiba-tiba ia bertanya kepadaku, aku memang belum sepenuhnya mengerti bahasa Jepang tapi bila diartikan dengan bahasa Indonesia, ia bertanya,”kenapa kau sering ke tempat ini?” aku tak mengerti mengapa ia tanyakan hal ini.                                                                                                                                                

     Bukankah semua mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini berhak mengunjungi taman ini? “memangnya salah kalau aku sering ke tempat ini? Bukankah ini tempat umum? Kalau kau kenapa sering berada di sini?” tak kusadari pertanyaan ku terlalu banyak padanya.. “  “ tidak apa, aku hanya merasa aneh kenapa hanya kita yang sering datang ke tempat ini? Sedangkan yang lain lebih sering pergi ke luar bila sedang jam kosong atau istirahat? Menurutmu apa menariknya tempat ini?” “ tempat ini indah, sejuk, dan nyaman untuk disinggahi dan aku pun tak mengerti sejak pertama kali aku ke tempat ini aku langsung jatuh hati dan selalu ingin datang ke tempat ini bila aku sedang suntuk” “kalau begitu apa yang kau rasakan sama seperti apa yang aku rasakan aku juga sangat nyaman bila ada di tempat ini, tapi aku punya satu tempat yang tak kalah indahnya dengan tempat ini, aku yakin kau akan menyukainya” entah mengapa ia jadi lebih terbuka dan lebih banyak bicara tapi aku senang ia juga memberitahukan aku tempat yang selama ini menjadi tempat ia untuk melepaskan semua beban yang mungkin ia pendam.
      “Habis jam pelajaran nanti aku akan tunjukan padamu tempat itu” “baiklah, aku akan menemuimu disini”. Jam pelajaran terakhir hari ini baru saja selesai, aku pun bergegas menemui Nao di taman. Namun sepertinya Nao belum datang, aku pun menunggu di kursi taman. “Maaf aku terlambat””tak apa aku juga baru sampai”. “Kalau begitu ayo kita pergi”. Dia berjalan di sebelahku, langkah kakinya sejalan dengan langkah kakiku, aku semakin tak mengerti sebenarnya tempat apa yang akan ia tunjukan padaku?. sepuluh menit kami berjalan kami pun menghentikan langkah kami di sebuah tempat yang… mataku tak berkedip, hatiku terdiam sejenak
     Ternyata tempat ini betul-betul membuatku terpaku. Pohon-pohon sakura berwarna-warni berbaris indah menghiasi taman yang menurut Nao hanya dia yang bisa menghabiskan waktunya di tempat ini. Aku pun berpikir, aku juga tak kan merasa bosan bila berada di tempat seindah ini. Terdapat beberapa buah kursi taman yang artistic. Di bawah pohon sakura pun tumbuh beberapa macam bunga seperti mawar, krisan dan bunga-bunga lainnya yang terlihat seperti perhiasan pohon sakura itu.

Komentar

Postingan Populer