kepo sihh...

Teringat kejadian beberapa hari lalu di bus, saat perjalanan pulang ke majalengka
Saya duduk di kursi paling belakang karena kursi jajaran deoan dan tengah sudah diisi orang. Saya lebih suka duduk dekat jendela supaya bisa melihat pemandangan di luar. Kursinya ternyata agak macet, jadi gak bisa saya tarik ke depan. Alhasil duduk saya agak tidak nyaman. Okelah gak apa, supaya jangan tidur. Saya simpan tas dan barang bawaann saya di kursi sebelah. Saya pun dengan segera pasang headset dan memutar list lagu yang saya suka.Seperti biasa. Tiga sampai lima menit kemudian kondektur pasti menghampiri untuk menagih ongkos. Saya kasih uang Rp100.000 karena saya gak ada uang pas. Setelah ditukar dengan karcis yang diberi angka 60 oleh sang kondektur  saya kembali lihat pemandangan luar. Kenapa 60? Mau tau ajah apa mau tau banget?. Saya kasih tahu yahh..itu artinya kondektur belum punya uang kembalian. Kebetulan ongkos bus ke cirebon naik Rp5.000 setelah lebaran kemarin. Walaupun saya turun di majalengka tarif ongkosnya tetap tarif bandung-cirebon, karena letak kota majalengka yang terlewati tempat kontrol bus.
Kemudian ada bapak-bapak yang duduk di samping saya sambil secara tidak langsung menyadarkan saya dari khusuknya menikmati pemandangan di luar.
“punten neng” kata si bapak
“Oh mangga pa” sahut saya sambil mengambil tas leptop yang tadi saya simpan di kursi sebelah ke pangkuan saya.
Seperti biasa lagi, kondektur menghampiri si bapak untuk menagih ongkos.
“jatiwangi” kata si bapak sambil mengasih uang Rp20.000
“ongkosnya Rp40.000 pak” kata kondektur
“kok Rp40.000?” kata si bapak kaget
“Ya pak, biasanya juga segitu ini kan bus AC” (kalau gak salah kondektur bilang gitu)
Si bapak kayanya memang salah naik bus. Bus yang saya tumpangi ini ada versi non AC nya juga. Mungkin dikiranya bus yang nonAC kali yah. Dan juga jatiwangi itu kan majalengka juga.
“oh ya sudah saya turun lagi ajah” kata si bapak sambil ambil posisi berdiri
“di depan ya pak” kata kondektur
Setelah uang kembali, si bapak pun akhirnya turun dan mungkin naik bus yang versi non AC.
Beberapa detik kemudian…
Kondektur duduk di sebelah kursi saya yang sudah kosong karena si bapak tadi lebih memutuskan untuk turun. kondektur pun ngobrol sama penumpang di seberang kursi saya yang kayaknya memang udah saling kenal. Kebetulan saya pake headset dengan volume musik 80% jadi entah lah mereka ngobrol apa.
 “kembalian teh?” kata kondektur sambil ngitung uang
Sepertinya memang dia bertanya pada saya. Saya pun matikan list musik sambil menunjukkan karcis yang tadi dia kasih.
“ini a” kata saya
“mau kemana gitu teh” katanya
“majalengka”
“ ngapaian ke majalengka?”
“pulang”
“emang rumahnya dimana?” dia nanya lagi
“majalengka” saya jawab lagi
“kuliah nya di bandung?” nanya lagi
“iya” jawab lagi
“kuliah dimana?”
“UIN Bandung”
“ooh..di UIN mah pada gak boleh punya pacar iya?”
“ahh..gak juga,, banyak kok yang punya pacar juga”
“ahh masa teh?” sambil menunjukkan wajah seakan tak percaya
“iya” jawab saya lagi
“termasuk juga yah teh?” nanya lagi sambil senyum senyum.
“saya mah tergolong yang gak punya”
“ahh masa? bohooong…” katanya SKSD
“ ia saya mah gak punya”
“kenapa atuh  gak pacaran teh?, pernah disakitin iya?”
“gak juga”
“kayaknya teteh pernah disakitin iya,, jadinya gak mau pacaran”
Ini orang sotoy banget daaaah. Saya Cuma senyum senyum ajah sambil kembali liat pemandangan di luar.
“jurusan apa teh” dia nya lagi
“jurnalistik a”
“ooh pantesan..”
“pantesan kenapa?”
“pinter”
Saya jadi agak geer sambil senyum senyum lagi
“pasti pinter juga yah kalau milih-milih cowok”
Gubraaaaak…Nah loh..Ini orang tambah  ngaco kayaknya. Apa hubungannya???
“milihmilih?” saya bertanya tanya
“Ia,, teteh keliatannya pinter milih, milih laki-laki yang terbaik buat teteh, jadinya gak asal pacaran ”
“ahh c aa mah bisa ajah” saya balas dengan senyuman lagi. Dia juga senyum-senyum (gak tau deh nyindir apa gimana gitu)
“ngekos sama siapa teh?
“sama siapa” saya yang sekarang nanya
“iya” katanya
“sama teman lah” saya mulai gak nyaman dalam obrolan ini
“oooh…kalau ada temen cowok main gimana?”
“kosan saya mah ketat, jadi cowok gak boleh masuk, kalau main mah sampai ruang tamu ajah, yang punya kos juga suka ngawasin  kita”
“iya gitu, segitunya banget?” katanya
“iya” saya masih senyum senyum sambil terpaksa
“oooh gitu, sekalian ajah pakai CCTV iaa teh” katanya bercanda sambil beranjak dari tempat duduk dan bekerja lagi seperti biasa, mungkin c aa kondektur udah bete liat wajah saya yang emang ngebetein. Hahaaa..
Setelah saya amati dari hasil obrolan saya dengan kondektur tadi,  bahwa penilaian seseorang terhadap kita bisa berbeda-beda. Dari apa yang kita punya, kita jalani, kita lakukan. Pasti akan ada penilaian. Dan penilaian tersebut akan berbeda beda, tergantung dari “kedekatan” yang kita miliki, kenapa saya beri tanda kutip? Mau tau ajah? Apa mau tau banget?. Saya kasih tau yah, meskipun itu sahabat kita sendiri, orang yang paling sering kita temui dan akhirnya menjadi dekat, tidak menjamin akan memberikan penilaian yang tepat. Karena penilaian yang tepat adalah penilaian yang diberikan oleh seseorang yang mengerti kita dengan baik. Penilaian yang diberikan seseorang kepada kita akan terbatas kepada dekat atau tidaknya pikiran dah hatinya terhadap kita. Sejauh mana dia mengenal dan mengerti kita. Maka akan semakin tepat penilaian yang ia berikan.



Komentar

Postingan Populer