Bittersweet, Saya, dan Fairyland
Bagi saya, hidup itu tidak hanya seperti
kayu manis hanya terasa manis, bukan juga peria yang hanya terasa pahit. Akan
hadir beberapa karakter manusia mengiringi perjalanan hidup kita, mereka semua
tidak hanya seperti rosemary, tanaman berbagai macam manfaat yang banyak
membatu kita, terkadang mereka bisa menjadi seperti aconitum, tanaman indah
yang ternyata beracun dan bisa melukai kita. Tapi itulah hidup, akan terasa
manis dan pahit (bittersweet). Akan ada seyuman dan air mata yang menjadi warna
mutlak dari gambar hidup ini.
Mungkin ini hanya autobiografi singkat
hidup saya selama 22 tahun di dunia ini. Berbagai macam hal yang saya telah
alami, akan saya bagi disini. Dalam kerumunan huruf-huruf yang terangkai dalam
paragraf demi paragraf.
Saya, Yane Lilananda Belawati, dilahirkan
pada 8 Januari 1990 di kota Sidoarjo, Jawa Timur tepat pukul satu pagi di
sebuah rumah seorang bidan, sangat bersyukur telah terlahir dari keluarga yang
begitu istimewa. Saya tumbuh di keluarga yang demokratis. Mama dan Papa tidak
pernah sekalipun memaksa saya untuk melakukan hal yang saya tidak suka. Tidak
ada yang bisa menggambarkan betapa indahnya kasih sayang yang Mama dan Papa
berikan pada saya.
Mama dan Papa begitu sabar dalam mendidik
saya, sampai saya berusia 22 tahun sekarang pun Papa tetap menjadi Superhero
saya dan Mama adalah malaikat cantik
yang selalu ada dimana dan kapan pun saya membutuhkannya. Saya juga dianugerahi
adik cantik yang selalu menjadi penghibur dan penawar lelah, meski terkadang ia
juga bisa menjadi trouble maker dan sosok
yang bisa menstimulus kekesalan.
Papa, terlahir dengan nama Bambang
Mulyanto di kota Surabaya 52 tahun yang lalu. Meski usianya tidak lagi muda
tapi Papa selalu terlihat muda. Banyak yang mengira kalau Papa baru berusia 40
tahunan. Papa paling suka sepak bola dan balapan grand prix, bahkan saya yang
tadinya tidak suka pun jadi ikut-ikutan menyukainya. Papa adalah orang yang
mengenalkan saya pada Maradona, John Terry, Joe Cole, Lampard, Jose Mourinho,
dan banyak lagi insan sepak bola lainnya. belum lagi di Motto GP, Papa juga lah
yang mengenalkan saya pada sosok om Rossi, panggilan sok akrab saya pada pembalam asal Italy ini. Apa yang saya suka
sekarang adalah kesukaan Papa yang ditularkan pada saya. Saya juga banyak
belajar tentang kesabaran dari Papa, Papa lah yang selalu memberikan ketenangan
pada saya saat saya merasa tidak bisa menghadapi hal-hal yang menurut saya
sulit. You are my star Dad….
Mama, sosok malaikat yang menjadi peneduh
dalam setiap ketidakberdayaan saya. Dikirim oleh Tuhan dengan segala kelebihan
yang bisa menutupi kekurangan saya. Ante Widianingsih, beliau adalah anugerah
terindah yang tak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Meski tak saya
pungkiri pernah terjadi beberapa kesalahpahaman antara saya dan Mama namun Mama
selalu memberikan maafnya pada saya. You are my sun Mom…
Inof Lilananda Lemaputri, gadis ini lebih
muda sembilan tahun dari saya, ya, dia adalah adik saya yang memang lebih cantik
dari saya, dia adalah seorang adik sekaligus teman yang menyenangkan namun
terkadang dia juga bisa jadi teman yang menyebalkan. Meski begitu semenjak saya
kuliah di Bandung saya sering kangen sama dia. Kangen kalau dia sedang manja,
atau saat dia sedang ngeselin.
……………………………………..
Kembali menerawang ke masa lalu, lahir
dengan berat 3,3 kilogram saya tumbuh menjadi anak yang pemalu. Bila bertemu
orang lain yang saya belum kenal, saya akan cepat mencari mama atau papa untuk
kemudian sembunyi di balik tubuh mereka. Bahkan tak ayal saya langsung menangis
sejadi-jadinya. Bahkan ketika menginjak bangku taman kanak-kanak, saya tidak
mau masuk kelas jika papa atau mama tidak menunggu di luar, lebih parah lagi,
saya harus melihat wajah mama atau papa di jendela, jika tidak maka saya akan
menangis dan tidak mau sekolah.
Tidak beda dengan saat saya masuk sekolah
dasar, sifat pemalu saya belum juga hilang. Pergi dan pulang sekolah saya
selalu di jemput oleh Papa. Baru saat menginjak kelas 4, saya pun belajar
menjadi anak yang mandiri. Saya belajar pulang sendiri dengan menaiki becak
atau angkot dekat sekolah. Saya pun berhasil menjadi anak SD yang pemberani
sampai lulus Sekolah Dasar.
Seiring musim yang berganti saya pun
beranjak menjadi remaja yang mulai mencari jati diri. Banyak hal yang ingin saya
ketahui di saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, dari mulai apa itu
keluarga, persahabatan, bahkan cinta pada lawan jenis. Saya rasa semua orang
pun akan merasakan hal yang sama dengan saya ketika menginjak usia tanggung.
Mengenal hal-hal yang unik dari berbagai macam perspektif, saya pun menjadi
orang yang tidak lagi terlalu pemalu. Mempunyai teman-teman yang selalu ceria
membuat saya pun menjadi gadis periang kala itu.
Sedikit demi sedikit saya pun mengerti apa
itu permasalahan, bagaimana masalah itu ada, dan bagaimana cara
penyelesaiannya. Namun semua itu saya dapat dari pengalaman teman-teman di
sekitar saya. Awalnya pernah saya berpikir, bahwa saya adalah orang yang paling
beruntung, karena saya tidak pernah merasakan punya masalah. Rasanya hidup saya
begitu mulus tanpa luka. Ya, dari mulai saya lahir dan menjadi anak remaja,
tidak ada hal berarti yang membuat saya menerjunkan air mata. Tapi itu semua
salah. Karena bagaimana pun hidup itu adalah senyum dan tangis. Mungkin saat
itu saya masih terbiasa berpikir pendek.
Tahun terlalu asyik berlari, mengantarkan
saya menjadi pemakai seragam putih abu, yang kata orang adalah masa yang paling
indah. Mungkin hanya saya yang berkata tidak!. Disini saya mulai belajar
menjadi manusia yang manusiawi. Disini pula lah predikat manusia paling
beruntung mulai surut samar tergambar di pikiran saya. Pengalaman demi
pengalaman hidup yang biasanya saya dapat dari orang lain, kini saya dapat dari
pengalaman hidup saya sendiri, sehingga mulai membuat saya sadar bahwa saya lah
tokoh utama dalam cerita hidup saya ini.
Saya rasa sulit mengungkit hal-hal yang
saya sudah janjikan pada diri saya sendiri untuk melupakan semuanya. Meski
begitu, apapun yang Allah Swt tuliskan untuk saya, adalah jalan yang tidak akan
pernah buntu. Peran protagonis yang sebelumnya saya mainkan rasanya terlalu
datar jika tanpa adanya suspensi dalam ceritanya. Di episode inilah saya
menemukan karakter-karakter lain dalam diri saya.
Saat
saya mempertanyakan ketidakadilan, saat saya berseteru dengan diri saya sendiri,
disaat harus ada air mata disekeliling saya. Mereka mungkin sudah lupa tapi
tidak dengan saya, saya masih berselimut dalam kelambu yang usang, membisu
dalam hitam dan putihnya. Lidah ini terlalu kelu untuk menyanyikan kisah itu. Terlalu
perih bila harus memaksa untuk memberi nada-nada pada nyanyian itu. Rasanya disinlah saya baru mengenal apa
makna dari air mata, karena bukan hanya keluar dari mata saya, namun juga dari
orang-orang di sekeliling saya. Meski masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang
masih saya belum temukan jawabannya, namun biarlah musim yang akan menjawab
semuanya.
Sekarang saya sudah duduk di bangku kuliah
semester 6. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kini saya sudah menjadi
wanita dewasa yang benar-benar harus dewasa dalam mengahadapi segala hal,
meskipun terkadang saya rindu masa-masa dulu.
“That
time when I was happy and used to dream
That time when I only had innocent dreams
I long for those times, I want to go back
That time when I only had innocent dreams
I long for those times, I want to go back
That
time when I became happy by just imagining
That time when I became the main character of a fairy tale
I long for those times, I want to go back…”
That time when I became the main character of a fairy tale
I long for those times, I want to go back…”
Potongan lirik lagu diatas sungguh
menggambarkan keadaan saya saat ini, sebuah lagu milik band asal korea yang
juga ternama di Jepang, CN Blue, yang liriknya menggugah hati saya baru-baru
ini. Sehingga membuat saya ingin kembali ke masa-masa lalu, masa-masa kecil
dimana saya belum mengenal apa itu masalah, disaat saya belum mempunyai
tanggung jawab terhadap diri saya sendiri. Disaat saya hanya mengenal
cerita-cerita peri dengan segala keajaibannya.
Namun bagaimanapun waktu tak akan pernah
bisa kembali, toh, ada beberapa episode dari hidup saya yang tidak ingin saya
lalui lagi jika waktu memang bisa diputar kembali. So, saya waktu yang akan saya jalani adalah waktu yang berputar
kedepan dengan manis dan pahitnya.
Saya itu…..
Saya suka musik, meski saya tidak bisa
memainkan alat musik, segala jenis musik saya suka, asalkan mengena di hati
saya. Entah itu pop. rock, balada, bahkan dangdut sekalipun. selain lagu-lagu
dalam negeri, saya juga suka lagu Barat, Korea, Jepang, atau lagu yang berasal
dari India, negara asal aktor yang saya sukai, Shah Rukh Khan. Selagi enak di
dengar dan ada terjemahannya, lagu bisa membuat saya menangis dan juga tersenyum.
Dari musik saya belajar banyak hal, buat saya, saya bisa belajar bahasa dan semangat dari musik, bahkan
pelajaran sisi kemanusiaan pun sering saya dapatkan dari musik.
Papa, mengenalkan saya pada The Beatles,
Michael Jackson, The Beegees dan beberapa musisi barat lainnya. beberapa lagu
mereka pun kini selalu ada di daftar musik saya, entah itu di handphone maupun
di laptop, lagu-lagu itu selalu menjadi pengiring tidur ataupun saat saya
mengerjakan tugas. Terkadang teman-teman saya menyebut saya sebagai orang
klasik, karena menyukai lagu-lagu barat tempo dulu. Tapi memang karya-karya
mereka sangat luar biasa, lagu-lagu mereka selalu menjadi hits dunia. Tidak
salah memang Papa begitu suka pada mereka.
Kebetulan saya bukan orang yang bertipe reading habbit tinggi. saya hanya akan
suka membaca jika bacaan tersebut benar-benar menarik kati saya. Selebihnya
saya adalah orang yang memang malas baca. Meski sebenarnya jika saya
benar-benar mau, saya bisa membiasakan diri untuk membaca, namun dasar saya yang
pemalas sehingga sulit membiasakan hal yang bermanfaat tersebut.
Saya suka hujan gerimis di pagi hari. Pemandangan
terindah yang pernah saya tahu di dunia ini adalah saat jalanan
masih basah, dan awan dilangit pun terlukis
di air yang menggenang. Tetes demi tetes air hujan menimpa bunga-bunga yang
jatuh dari pohonnya, warna bebatuan pun menjadi menua karenanya. Sambil ditemani lagu-lagu balada yang
mengalun bersama air mata langit membuat bumi yang saya pijak terasa begitu
sejuk. Saat-saat seperti itu sering saya gunakan untuk merenung dan
berimajinasi. Ya, saya adalah orang yang senang berimajinasi, kemudian saya
untai dalam beberapa paragraf yang ternyata tidak pernah menemui ending. Saya kumpulkan saja dalam
halaman-halaman kenangan yang bisa saya baca kembali di kemudian hari.
Saya ingin merasakan musim gugur dan musim
semi, andai saja disini ada kedua musim tersebut. Musim semi, bunga-bunga
warna-warni bermunculan dan bergoyang bersama angin, menggambarkan sebuah
kegembiraan dan keceriaan yang menjadi salah satu sisi kehidupan. Sisi
kehidupan yang lain akan tergambarkan oleh musim gugur, dimana daun-daun
menguning kemudian kering. Mereka berjatuhan bersama angin. Helai demi helai
menima jalanan, menggambarkan bahasa kesedihan dan renungan. Sebuah ketetapan
Allah Swt yang begitu indah.
Saya adalah orang yang sulit mengungkapkan
sesuatu namun sulit juga untuk meyembunyikannya. Jika saya merasakan sesuatu,
entah itu sedih atau bahagia maka saya akan lebih suka menggambarkannya dalam
sebuah rangkaian tulisan yang kata orang disebut puisi, namun sebenarnya saya
sendiri tidak mengerti bagaimana itu puisi, bagaimana itu bahasa sastra, atau aliran
apa yang digunakan oleh para sastrawan atau penyair dalam membuat puisi, yang
saya tahu hanyalah mengungkapan segala isi hati saya lewat tulisan kiasan.
Dengan begitu saya bisa mengungkapkan hal yang saya rasakan namun tidak dengan
bahasa sebenarnya. Dengan menggunakan bahasa kiasan, saya rasa tulisan tersebut
hanya bisa dimengerti oleh orang-orang tertentu saja. Namun teman-teman saya
bilang kalau tulisan tulisan yang biasa saya share di jejaring sosial adalah jenis puisi, ya mungkin saja.
Seperti yang saya utaran di awal, kita
tidak akan melulu merasakan kebahagiaan. Bahkan, buat saya kebahagiaan
sesungguhnya adalah dikala ada air mata syukur yang menemani kebahagiaan itu
sendiri. Pengalaman hidup yang saya alami membuat saya menjadi seorang yang
mungkin berbeda dari yang lain. Kata orang, saya adalah orang yang pendiam,
bahkan beberapa teman saya menyebut saya sebagai wanita yang dingin, cuek dan
misterius. Saya hanya tersenyum saja mendengar pengakuan mereka. Mungkin karena
itu saya menjadi sulit mempunyai banyak teman dan sulit untuk dekat dengan
laki-laki. Tapi saya bersyukur saya mempunyai teman-teman yang selalu ada di
sekeliling saya. Meskipun hanya beberapa, namun mereka begitu istimewa.
Perbedaan karakter dan sikap mereka membuat warna hidup saya semakin indah.
Menurut beberapa teman saya, saya termasuk
orang yang tidak berpendirian, sehingga akan mudah goyah dalam meyakini
sesuatu, saya juga di cap sebagai anak mamah yang terlalu penurut. Sebenarnya
saya tidak menyangkal itu semua, karena saya sendiri merasakannya. Saya memang termasuk
orang yang mudah ragu terhadap sesuatu hal.
Bahkan salah satu teman terdekat saya
malah meyebut saya sebagai Miss simple, ya, saya akui saya orang yang sangat
cuek dan jaim (jaga image). Terkadang
saya juga bisa menjadi orang yang menjengkelkan, namun saya yakin penilaian
yang teman-teman berikan kepada saya adalah penilaian yang sebenar-benarnya.
“Your altitude does not depend on your
aplitude but depend on your attitude, so you can make magnitude”. Pepatah
bahasa Inggris tersebut tidak sengaja saya temukan di halaman internet, saat
saya iseng-iseng browsing untuk
mengisi waktu senggang saya. Kurang lebih artinya begini, “Kebesaran seseorang
itu tidak terpancar dari kecakapannya berbicara akan tetapi akan terpancar dari
sikap dan perbuatannya, dengan begitu ia akan menjadi orang besar”.
Ya, pepatah tersebut benar adanya, bahwa kecakapan
seseorang tidak akan dipandang jika tidak beriringan dengan perbuatan. Saya
sering kagum pada orang-orang yang cakap berbicara namun rasa kagum tersebut
sering juga hilang setelah tahu bahwa kecakapannya tersebut hanya sebatas di
mulut saja. Apa yang ia katakan tidak pernah ia lakukan. Dari pepatah tersebut
saya mendapatkan sebuah pelajaran, bahwa sikap dan perbuatan yang kita lakukan
akan menentukan penilaian orang lain terhadap kita. Sebanyak apapun kita
berbicara tidak akan ada artinya jika tidak diakukan juga dengan perbuatan.
Tempat
ini….
Fairyland, ini adalah “tempat” saya
menjalani hidup yang bittersweet ini,
saya sebut demikian karena saya suka “tempat” ini. “Tempat” dimana saya bisa
menyelami makna dari setiap rencana Allah Swt dan tempat dimana imajinasi saya dapat
terlihat dengan jelas. Berbagai macam renungan saya dapatkan disini, bahwa sebuah
rencana memang tak jua selalu dapat terlaksana. Terkadang sesuatu yang kita
sudah persiapkan tak senada dengan kenyataan. Niat mengerjakan sesuatu yang
memang sudah menjadi kewajiban pun tak luput dari pengabaian yang tak
disengaja. Kadang perasaan sesal menyelinap hadir, saat menyadari akan
ketidakmaksimalan diri dalam melakukan sesuatu. Namun, orang-orang terdekatlah
yg selalu menjadi penyemangat dan pemberi solusi terbaik disaat pikiran
terbelenggu dengan aksen-aksen kebuntuan.
Merasa diperhatikan dan bisa
menjalani ketidaksesuaian ini adalah berkat mereka. Kata-kata yang tak keluar
langsung dari mulut mereka, yang hanya bisa terbaca di layar handphone melalui
pesan singkat atau layar monitor saat menggunakan aplikasi jejaring sosial pun
mampu menyemangati diri saat keadaan yang dialami tak sejalan dengan segala hal
yang telah dibayangkan sebelumnya. Apalagi jika perhatian itu dirasakan secara
langsung, sungguh, merupakan sebuah kekuatan yang luar biasa. Itu semua
merupakan doa yg sangat istimewa. Meski rasa khawatir sulit untuk dihindari, karena
mereka tak selamanya bisa kita bebani dengan permasalahan kita, kita pun harus
memahami mereka. Meskipun mungin tak ada rasa demikian di dalam diri mereka.
Disaat diri membaik, maka sikap
terbaiknya adalah meyakini semuanya akan kembali seperti semula. Meski buat
saya, meyakini diri sendiri lebih sulit dilakukan dibandingkan meyakinkan orang
lain. Saat memberikan semangat dan keyakinan kepada orang lain, maka rasa yang
ada adalah rasa lega, berbeda saat harus meyakini diri sendiri, begitu sulit
dan terkadang merasa hal itu mustahil, meskipun tak ada yang tak mungkin d
dunia ini
Maka, rencana apapun itu tak ada
yg bisa menentukan kecuali Allah SWT yang maha penuh kasih. Semua yg tertulis
akan kita jalani meski akan ada kesulitan yg akan dihadapi, dan Allah akan
mengirim orang-orang terpilih untuk menjadi mediator tercanggih untuk kita, serta
menjadi bagian dari hidup kita, berbahagialah karena kita mempunyai orang-orang
yang mencintai dan menyayangi kita. Berdoalah agar setiap hal yang kita hadapi
selalu bersama mereka, bukan hanya kesulitan, akan tetapi indahnya senyuman di
setiap hari kita.
Sekarang saya ingin menyapa
mereka, teman-teman istimewa untuk mengenang masa-masa yang juga istimewa dalam
perjalanan hidup saya yang Bittersweet
di sebuah tempat yang saya beri nama Fairyland
Hei Dania dan Nde!, masih ingat
tidak 14 tahun yang lalu saat kita main belanja-belanjaan di pekarangan rumah
Nde, yang mungkin sekarang sudah tak ada lagi. Atau ingat tidak waktu kita
janjian untuk lari pagi setiap hari minggu?. Dan ada lagi, masih ingat tidak
saat dulu kita pernah musuhan gara-gara sesuatu hal, tapi akhirnya kita baikkan
lagi, kita acungkan jari kelinking kita dan kita kaitkan sebagai tanda damai.
Hei Ash dan Elsa!, masih ingat
kah kalian dengan AYE (Ash, Yane, Elsa)?. Masa-masa SD yang penuh canda tawa.
Tak pernah merasa sedih, dan tak ada tanggung jawab yang harus dipertanggugjawabkan.
Saya dan kalian adalah anak-anak SD yang selalu bersama. Merah rok kita, merah
juga semangat kita saat itu. Masih ingatkah kalian waktu kita main lompat tali
saat istirahat sekolah, jajan di kantin sama-sama, dan main-main di rumah
Ash?.
Hei Fani dan Anita!, kalian adalah
kisah yang istimewa. Ingat tidak saat kita jalan-jalan ke sebuah bukit? Bukit
apa itu? Saya lupa. Ingat juga tidak saat perjalanan melewati sebuah sungai
saat kita tersesat?, saat itu juga ada Reni,Taufik, Didin, dan Fajar juga. Kita
adalah anak-anak SMP yang sedang mencari jati diri. Kalian bukan hanya sahabat,
kalian adalah penyemangat, dan penasihat yang handal. Saat saya terpuruk kalian
lah yang ada di samping saya.
Kita juga pernah dihukum
gara-gara tidak ikut kuliah dhuha saat itu. Apalagi ya? Oh ya, ada lagi,
ingat tidak waktu kita selesai belajar silat di rumah Yushal? Ada Tendi juga
kan? Saat itu saya menabrak pagar rumah orang gara-gara naik motor punya Fani,
padahal saya sama sekali tidak bisa mengendarai motor. Tendi dan Yushal
malah tertawa melihat saya. Saya sempat diurut setelah kejadian itu, dan
rasanya sakit sekali. Dan saat keesokan harinya saya masuk sekolah saya tidak
bisa menulis gara-gara tangan saya sakit.
Dan tanpa saya minta, sahabat
saya yang paling cantik, Anita, kamu langsung mengambil buku dan pulpen milik
saya. Kamu menuliskan semua yang guru terangkan di buku saya. Dan saya hanya
terdiam melihatmu begitu. Tak ada kata yang bisa saya ungkapkan. Fani, kamu
ingat tidak? Saat saya mau menjemput adik saya dari sekolahnya, kamu tak mau
melihat saya lelah. Dan kamu menjemput saya dengan sepeda motormu yang pernah
saya benturkan ke pagar rumah milik orang itu. Kamu relakan waktumu untuk
mengantar saya menjemputnya.
Hei Yeyen, Icus, Wini, dan Mei!,
ingat tidak sama pandawa lima? Kesedihan dan canda tawa kita bagi selama
hampir selama tiga tahun, meski kadang kesedihan itu terlebih dominan
karena beberapa masalah dari luar. Tapi kita tetap utuh dan tak terpecah
, tak pernah kita pedulikan omongan orang yang membuat kita tersisih atau
tak terlihat. Sungguh persahabatan anak SMA yang luar biasa, kita saling
meguatkan satu sama lain.
Ingat tidak saat sepulang
sekolah kita sempatkan nonton dvd di rumah saya, dvd horor, drama, dan komedi,
kita ngejerit
sama-sama, nangis sama-sama, tertawa sama-sama. Sampai-sampai kasur saya ngaborobot. Ingat
kan? Kita juga sering ngebaso bareng
di baso dorongnya Mas Bruk.
Hei Meilya!, masih ingat tidak?,
semoga kamu masih ingat ketika kita sama-sama pergi ke dokter mata yang sedikit
horor itu Mei. Saat itu kami ingin masuk
Universitas dambaan kami sedari masuk SMA, yaitu UNPAD. Saat itu kami memilih
jurusan kimia di pilihan pertama, dan ilmu pemerintahan di pilihan kedua.
Karena kimia merupakan jurusan yang berbasis IPA dalam persyaratannya kami
harus punya mata yang normal (tidak buta warna) sehingga kami pun harus
memeriksakan mata kami ke dokter.
Malam-malam kami menentukan
tempat untuk bertemu, tepatnya di depan tempat praktek dokter tersebut. Sumpah,
jantung saya berdegup kencang dag
dig dug
dag dig dug, gak
karuan. Kebetulan saat itu saya datang lebih dulu. Hah! Terus saja saya mondar
mandir karena gelisah.
Dokternya seperti yang saya
bayangkan, menakutkan. (Pak dokter, asal tahu saja, cara bicara anda membuat
saya sakit perut). Setelah disuruh memakai macam alat yang saya tidak tahu
namany, untuk mengetes mata kami berdua,
akhirnya diputuskan saya dan Mei punya mata yang normal. Tapi hasil tes itu
dirasa percuma, toh kita tidak lolos jurusan kimia. Walau begitu kami hampir
saja menjadi mahasiswa UNPAD jurusan ilmu pemeritahan.
Namun tiba-tiba hal yang tidak
diinginkan terjadi, dan kamu pasti ingat Mei. Saat-saat terbaik dengan sampul
terburuk bagi saya saat itu. Tapi itu semua sudah terlewati, dan saya tidak mau
mengulasnya. Saya hanya mau mengenang pak dokter yang seram itu saja.
Mei, masih ingat tidak sama
Bara? Karakter yang kita ciptakan karena inspirasi tanggal 17 Agustus itu? Atau
masih ingatkah akan mimpi kita untuk duet membuat novel?. Mungkin mimpi kita masih
sama Mei, tapi sudah tak beringinan karena waktu yang cepat berlalu
Hei Ratih, Nia, Ami, Opi, Umi, teh
Ulfah, Ani, Abi, Ade, teh Kiki!, kalian semua sekarang adalah karakter-karakter
yang menemani hari-hari saya. Tak hanya kalian, saya juga punya Syifa, Nurul
dan Imi. Kini hari-hari saya lewati bersama kalian. Kalian tahu betapa
merasa berharga nya saya ada diantara kalian. Entah bagaimana dengan kalian.
Saya harap kalian pun merasakan apa yang saya rasakan.
Ratih, Nia, Ami, Opi, Umi, ingat
kah masa-masa indah waktu pertama kali mengenal jurnalistik? Sungguh masih
teringat dikepala. Atau masih ingatkah saat kita makan baso bareng di rumah umi, nengok Opi waktu sakit, saat-saat masuk SUAKA,
saat jajan di kopma, ngejailin
orang-orang yang lewat, main ke rumah belajar anak jalanan, sampai
menghabiskan waktu di kampus sambil mencari kegiatan. Banyak sekali hal-hal
yang sudah kita lewati bersama.
Hei Syifa, Imi, dan Nurul!
kalian pasti masih ingat masa-masa indah kita. Banyak kan? Beli makan bareng selepas shalat magrib, nonton tv
bareng, nonton dvd bareng, makan saat mati lampu bareng, curhat-curhatan
bareng, kalian ingat nama-nama ini?, ada kang kabayan, si mamang, dan ibu
gorengan. Mudah-mudahan kalian masih ingat.
Sekarang mungkin saya masih
banyak mengingat hal-hal yang indah bersama kalian semua. Namun waktu
bisa saja kembali menjadi penghalang kita. Meskipun saya tak mau itu
terjadi, tapi memang sudah seperti itu adanya. Hari-hari sebelum hari ini akan
menjadi hari kemarin yang mungkin akan terlupa, meski kita tak ingin.
Maka rasa terimakasih yang
sebesar-besarnya saya ucapkan untuk Allah Swt yang telah mempertemukan kami dan
membuat kisah-kisah yang indah diantara kami, dan terimakasih juga untuk kalian
yang sudah menjadi bagian dari Bittersweet
di Fairyland saya ini.


Komentar
Posting Komentar