Bittersweet, Saya, dan Fairyland



Bagi saya, hidup itu tidak hanya seperti kayu manis hanya terasa manis, bukan juga peria yang hanya terasa pahit. Akan hadir beberapa karakter manusia mengiringi perjalanan hidup kita, mereka semua tidak hanya seperti rosemary, tanaman berbagai macam manfaat yang banyak membatu kita, terkadang mereka bisa menjadi seperti aconitum, tanaman indah yang ternyata beracun dan bisa melukai kita. Tapi itulah hidup, akan terasa manis dan pahit (bittersweet). Akan ada seyuman dan air mata yang menjadi warna mutlak dari gambar hidup ini.
Mungkin ini hanya autobiografi singkat hidup saya selama 22 tahun di dunia ini. Berbagai macam hal yang saya telah alami, akan saya bagi disini. Dalam kerumunan huruf-huruf yang terangkai dalam paragraf demi paragraf.
Saya, Yane Lilananda Belawati, dilahirkan pada 8 Januari 1990 di kota Sidoarjo, Jawa Timur tepat pukul satu pagi di sebuah rumah seorang bidan, sangat bersyukur telah terlahir dari keluarga yang begitu istimewa. Saya tumbuh di keluarga yang demokratis. Mama dan Papa tidak pernah sekalipun memaksa saya untuk melakukan hal yang saya tidak suka. Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa indahnya kasih sayang yang Mama dan Papa berikan pada saya.
Mama dan Papa begitu sabar dalam mendidik saya, sampai saya berusia 22 tahun sekarang pun Papa tetap menjadi Superhero saya dan Mama adalah  malaikat cantik yang selalu ada dimana dan kapan pun saya membutuhkannya. Saya juga dianugerahi adik cantik yang selalu menjadi penghibur dan penawar lelah, meski terkadang ia juga bisa menjadi trouble maker dan sosok yang bisa menstimulus kekesalan.
Papa, terlahir dengan nama Bambang Mulyanto di kota Surabaya 52 tahun yang lalu. Meski usianya tidak lagi muda tapi Papa selalu terlihat muda. Banyak yang mengira kalau Papa baru berusia 40 tahunan. Papa paling suka sepak bola dan balapan grand prix, bahkan saya yang tadinya tidak suka pun jadi ikut-ikutan menyukainya. Papa adalah orang yang mengenalkan saya pada Maradona, John Terry, Joe Cole, Lampard, Jose Mourinho, dan banyak lagi insan sepak bola lainnya. belum lagi di Motto GP, Papa juga lah yang mengenalkan saya pada sosok om Rossi, panggilan sok akrab saya pada pembalam asal Italy ini. Apa yang saya suka sekarang adalah kesukaan Papa yang ditularkan pada saya. Saya juga banyak belajar tentang kesabaran dari Papa, Papa lah yang selalu memberikan ketenangan pada saya saat saya merasa tidak bisa menghadapi hal-hal yang menurut saya sulit. You are my star Dad….
Mama, sosok malaikat yang menjadi peneduh dalam setiap ketidakberdayaan saya. Dikirim oleh Tuhan dengan segala kelebihan yang bisa menutupi kekurangan saya. Ante Widianingsih, beliau adalah anugerah terindah yang tak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Meski tak saya pungkiri pernah terjadi beberapa kesalahpahaman antara saya dan Mama namun Mama selalu memberikan maafnya pada saya. You are my sun Mom…
Inof Lilananda Lemaputri, gadis ini lebih muda sembilan tahun dari saya, ya, dia adalah adik saya yang memang lebih cantik dari saya, dia adalah seorang adik sekaligus teman yang menyenangkan namun terkadang dia juga bisa jadi teman yang menyebalkan. Meski begitu semenjak saya kuliah di Bandung saya sering kangen sama dia. Kangen kalau dia sedang manja, atau saat dia sedang ngeselin.
……………………………………..
Kembali menerawang ke masa lalu, lahir dengan berat 3,3 kilogram saya tumbuh menjadi anak yang pemalu. Bila bertemu orang lain yang saya belum kenal, saya akan cepat mencari mama atau papa untuk kemudian sembunyi di balik tubuh mereka. Bahkan tak ayal saya langsung menangis sejadi-jadinya. Bahkan ketika menginjak bangku taman kanak-kanak, saya tidak mau masuk kelas jika papa atau mama tidak menunggu di luar, lebih parah lagi, saya harus melihat wajah mama atau papa di jendela, jika tidak maka saya akan menangis dan tidak mau sekolah.
Tidak beda dengan saat saya masuk sekolah dasar, sifat pemalu saya belum juga hilang. Pergi dan pulang sekolah saya selalu di jemput oleh Papa. Baru saat menginjak kelas 4, saya pun belajar menjadi anak yang mandiri. Saya belajar pulang sendiri dengan menaiki becak atau angkot dekat sekolah. Saya pun berhasil menjadi anak SD yang pemberani sampai lulus Sekolah Dasar.
Seiring musim yang berganti saya pun beranjak menjadi remaja yang mulai mencari jati diri. Banyak hal yang ingin saya ketahui di saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, dari mulai apa itu keluarga, persahabatan, bahkan cinta pada lawan jenis. Saya rasa semua orang pun akan merasakan hal yang sama dengan saya ketika menginjak usia tanggung. Mengenal hal-hal yang unik dari berbagai macam perspektif, saya pun menjadi orang yang tidak lagi terlalu pemalu. Mempunyai teman-teman yang selalu ceria membuat saya pun menjadi gadis periang kala itu.
Sedikit demi sedikit saya pun mengerti apa itu permasalahan, bagaimana masalah itu ada, dan bagaimana cara penyelesaiannya. Namun semua itu saya dapat dari pengalaman teman-teman di sekitar saya. Awalnya pernah saya berpikir, bahwa saya adalah orang yang paling beruntung, karena saya tidak pernah merasakan punya masalah. Rasanya hidup saya begitu mulus tanpa luka. Ya, dari mulai saya lahir dan menjadi anak remaja, tidak ada hal berarti yang membuat saya menerjunkan air mata. Tapi itu semua salah. Karena bagaimana pun hidup itu adalah senyum dan tangis. Mungkin saat itu saya masih terbiasa berpikir pendek.
Tahun terlalu asyik berlari, mengantarkan saya menjadi pemakai seragam putih abu, yang kata orang adalah masa yang paling indah. Mungkin hanya saya yang berkata tidak!. Disini saya mulai belajar menjadi manusia yang manusiawi. Disini pula lah predikat manusia paling beruntung mulai surut samar tergambar di pikiran saya. Pengalaman demi pengalaman hidup yang biasanya saya dapat dari orang lain, kini saya dapat dari pengalaman hidup saya sendiri, sehingga mulai membuat saya sadar bahwa saya lah tokoh utama dalam cerita hidup saya ini.
Saya rasa sulit mengungkit hal-hal yang saya sudah janjikan pada diri saya sendiri untuk melupakan semuanya. Meski begitu, apapun yang Allah Swt tuliskan untuk saya, adalah jalan yang tidak akan pernah buntu. Peran protagonis yang sebelumnya saya mainkan rasanya terlalu datar jika tanpa adanya suspensi dalam ceritanya. Di episode inilah saya menemukan karakter-karakter lain dalam diri saya.
Saat saya mempertanyakan ketidakadilan, saat saya berseteru dengan diri saya sendiri, disaat harus ada air mata disekeliling saya. Mereka mungkin sudah lupa tapi tidak dengan saya, saya masih berselimut dalam kelambu yang usang, membisu dalam hitam dan putihnya. Lidah ini terlalu kelu untuk menyanyikan kisah itu. Terlalu perih bila harus memaksa untuk memberi nada-nada pada nyanyian itu. Rasanya disinlah saya baru mengenal apa makna dari air mata, karena bukan hanya keluar dari mata saya, namun juga dari orang-orang di sekeliling saya. Meski masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang masih saya belum temukan jawabannya, namun biarlah musim yang akan menjawab semuanya.
Sekarang saya sudah duduk di bangku kuliah semester 6. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kini saya sudah menjadi wanita dewasa yang benar-benar harus dewasa dalam mengahadapi segala hal, meskipun terkadang saya rindu masa-masa dulu.
“That time when I was happy and used to dream
That time when I only had innocent dreams
I long for those times, I want to go back
That time when I became happy by just imagining
That time when I became the main character of a fairy tale
I long for those times, I want to go back…”
Potongan lirik lagu diatas sungguh menggambarkan keadaan saya saat ini, sebuah lagu milik band asal korea yang juga ternama di Jepang, CN Blue, yang liriknya menggugah hati saya baru-baru ini. Sehingga membuat saya ingin kembali ke masa-masa lalu, masa-masa kecil dimana saya belum mengenal apa itu masalah, disaat saya belum mempunyai tanggung jawab terhadap diri saya sendiri. Disaat saya hanya mengenal cerita-cerita peri dengan segala keajaibannya.
Namun bagaimanapun waktu tak akan pernah bisa kembali, toh, ada beberapa episode dari hidup saya yang tidak ingin saya lalui lagi jika waktu memang bisa diputar kembali. So, saya waktu yang akan saya jalani adalah waktu yang berputar kedepan dengan manis dan pahitnya.
Saya itu…..
Saya suka musik, meski saya tidak bisa memainkan alat musik, segala jenis musik saya suka, asalkan mengena di hati saya. Entah itu pop. rock, balada, bahkan dangdut sekalipun. selain lagu-lagu dalam negeri, saya juga suka lagu Barat, Korea, Jepang, atau lagu yang berasal dari India, negara asal aktor yang saya sukai, Shah Rukh Khan. Selagi enak di dengar dan ada terjemahannya, lagu bisa membuat saya menangis dan juga tersenyum. Dari musik saya belajar banyak hal, buat saya, saya bisa  belajar bahasa dan semangat dari musik, bahkan pelajaran sisi kemanusiaan pun sering saya dapatkan dari musik.
Papa, mengenalkan saya pada The Beatles, Michael Jackson, The Beegees dan beberapa musisi barat lainnya. beberapa lagu mereka pun kini selalu ada di daftar musik saya, entah itu di handphone maupun di laptop, lagu-lagu itu selalu menjadi pengiring tidur ataupun saat saya mengerjakan tugas. Terkadang teman-teman saya menyebut saya sebagai orang klasik, karena menyukai lagu-lagu barat tempo dulu. Tapi memang karya-karya mereka sangat luar biasa, lagu-lagu mereka selalu menjadi hits dunia. Tidak salah memang Papa begitu suka pada mereka.
Kebetulan saya bukan orang yang bertipe reading habbit tinggi. saya hanya akan suka membaca jika bacaan tersebut benar-benar menarik kati saya. Selebihnya saya adalah orang yang memang malas baca. Meski sebenarnya jika saya benar-benar mau, saya bisa membiasakan diri untuk membaca, namun dasar saya yang pemalas sehingga sulit membiasakan hal yang bermanfaat tersebut.
Saya suka hujan gerimis di pagi hari. Pemandangan terindah yang pernah saya tahu di dunia ini adalah saat jalanan masih basah,  dan awan dilangit pun terlukis di air yang menggenang. Tetes demi tetes air hujan menimpa bunga-bunga yang jatuh dari pohonnya, warna bebatuan pun menjadi menua karenanya. Sambil ditemani lagu-lagu balada yang mengalun bersama air mata langit membuat bumi yang saya pijak terasa begitu sejuk. Saat-saat seperti itu sering saya gunakan untuk merenung dan berimajinasi. Ya, saya adalah orang yang senang berimajinasi, kemudian saya untai dalam beberapa paragraf yang ternyata tidak pernah menemui ending. Saya kumpulkan saja dalam halaman-halaman kenangan yang bisa saya baca kembali di kemudian hari.
Saya ingin merasakan musim gugur dan musim semi, andai saja disini ada kedua musim tersebut. Musim semi, bunga-bunga warna-warni bermunculan dan bergoyang bersama angin, menggambarkan sebuah kegembiraan dan keceriaan yang menjadi salah satu sisi kehidupan. Sisi kehidupan yang lain akan tergambarkan oleh musim gugur, dimana daun-daun menguning kemudian kering. Mereka berjatuhan bersama angin. Helai demi helai menima jalanan, menggambarkan bahasa kesedihan dan renungan. Sebuah ketetapan Allah Swt yang begitu indah.
Saya adalah orang yang sulit mengungkapkan sesuatu namun sulit juga untuk meyembunyikannya. Jika saya merasakan sesuatu, entah itu sedih atau bahagia maka saya akan lebih suka menggambarkannya dalam sebuah rangkaian tulisan yang kata orang disebut puisi, namun sebenarnya saya sendiri tidak mengerti bagaimana itu puisi, bagaimana itu bahasa sastra, atau aliran apa yang digunakan oleh para sastrawan atau penyair dalam membuat puisi, yang saya tahu hanyalah mengungkapan segala isi hati saya lewat tulisan kiasan. Dengan begitu saya bisa mengungkapkan hal yang saya rasakan namun tidak dengan bahasa sebenarnya. Dengan menggunakan bahasa kiasan, saya rasa tulisan tersebut hanya bisa dimengerti oleh orang-orang tertentu saja. Namun teman-teman saya bilang kalau tulisan tulisan yang biasa saya share di jejaring sosial adalah jenis puisi, ya mungkin saja.
Seperti yang saya utaran di awal, kita tidak akan melulu merasakan kebahagiaan. Bahkan, buat saya kebahagiaan sesungguhnya adalah dikala ada air mata syukur yang menemani kebahagiaan itu sendiri. Pengalaman hidup yang saya alami membuat saya menjadi seorang yang mungkin berbeda dari yang lain. Kata orang, saya adalah orang yang pendiam, bahkan beberapa teman saya menyebut saya sebagai wanita yang dingin, cuek dan misterius. Saya hanya tersenyum saja mendengar pengakuan mereka. Mungkin karena itu saya menjadi sulit mempunyai banyak teman dan sulit untuk dekat dengan laki-laki. Tapi saya bersyukur saya mempunyai teman-teman yang selalu ada di sekeliling saya. Meskipun hanya beberapa, namun mereka begitu istimewa. Perbedaan karakter dan sikap mereka membuat warna hidup saya semakin indah.
Menurut beberapa teman saya, saya termasuk orang yang tidak berpendirian, sehingga akan mudah goyah dalam meyakini sesuatu, saya juga di cap sebagai anak mamah yang terlalu penurut. Sebenarnya saya tidak menyangkal itu semua, karena saya sendiri merasakannya. Saya memang termasuk orang yang mudah ragu terhadap sesuatu hal.
Bahkan salah satu teman terdekat saya malah meyebut saya sebagai Miss simple, ya, saya akui saya orang yang sangat cuek dan jaim (jaga image). Terkadang saya juga bisa menjadi orang yang menjengkelkan, namun saya yakin penilaian yang teman-teman berikan kepada saya adalah penilaian yang sebenar-benarnya.
“Your altitude does not depend on your aplitude but depend on your attitude, so you can make magnitude”. Pepatah bahasa Inggris tersebut tidak sengaja saya temukan di halaman internet, saat saya iseng-iseng browsing untuk mengisi waktu senggang saya. Kurang lebih artinya begini, “Kebesaran seseorang itu tidak terpancar dari kecakapannya berbicara akan tetapi akan terpancar dari sikap dan perbuatannya, dengan begitu ia akan menjadi orang besar”.
Ya, pepatah tersebut benar adanya, bahwa kecakapan seseorang tidak akan dipandang jika tidak beriringan dengan perbuatan. Saya sering kagum pada orang-orang yang cakap berbicara namun rasa kagum tersebut sering juga hilang setelah tahu bahwa kecakapannya tersebut hanya sebatas di mulut saja. Apa yang ia katakan tidak pernah ia lakukan. Dari pepatah tersebut saya mendapatkan sebuah pelajaran, bahwa sikap dan perbuatan yang kita lakukan akan menentukan penilaian orang lain terhadap kita. Sebanyak apapun kita berbicara tidak akan ada artinya jika tidak diakukan juga dengan perbuatan.
Tempat ini….
Fairyland, ini adalah “tempat” saya menjalani hidup yang bittersweet ini, saya sebut demikian karena saya suka “tempat” ini. “Tempat” dimana saya bisa menyelami makna dari setiap rencana Allah Swt dan tempat dimana imajinasi saya dapat terlihat dengan jelas. Berbagai macam renungan saya dapatkan disini, bahwa sebuah rencana memang tak jua selalu dapat terlaksana. Terkadang sesuatu yang kita sudah persiapkan tak senada dengan kenyataan. Niat mengerjakan sesuatu yang memang sudah menjadi kewajiban pun tak luput dari pengabaian yang tak disengaja. Kadang perasaan sesal menyelinap hadir, saat menyadari akan ketidakmaksimalan diri dalam melakukan sesuatu. Namun, orang-orang terdekatlah yg selalu menjadi penyemangat dan pemberi solusi terbaik disaat pikiran terbelenggu dengan aksen-aksen kebuntuan.
Merasa diperhatikan dan bisa menjalani ketidaksesuaian ini adalah berkat mereka. Kata-kata yang tak keluar langsung dari mulut mereka, yang hanya bisa terbaca di layar handphone melalui pesan singkat atau layar monitor saat menggunakan aplikasi jejaring sosial pun mampu menyemangati diri saat keadaan yang dialami tak sejalan dengan segala hal yang telah dibayangkan sebelumnya. Apalagi jika perhatian itu dirasakan secara langsung, sungguh, merupakan sebuah kekuatan yang luar biasa. Itu semua merupakan doa yg sangat istimewa. Meski rasa khawatir sulit untuk dihindari, karena mereka tak selamanya bisa kita bebani dengan permasalahan kita, kita pun harus memahami mereka. Meskipun mungin tak ada rasa demikian di dalam diri mereka.
Disaat diri membaik, maka sikap terbaiknya adalah meyakini semuanya akan kembali seperti semula. Meski buat saya, meyakini diri sendiri lebih sulit dilakukan dibandingkan meyakinkan orang lain. Saat memberikan semangat dan keyakinan kepada orang lain, maka rasa yang ada adalah rasa lega, berbeda saat harus meyakini diri sendiri, begitu sulit dan terkadang merasa hal itu mustahil, meskipun tak ada yang tak mungkin d dunia ini 
Maka, rencana apapun itu tak ada yg bisa menentukan kecuali Allah SWT yang maha penuh kasih. Semua yg tertulis akan kita jalani meski akan ada kesulitan yg akan dihadapi, dan Allah akan mengirim orang-orang terpilih untuk menjadi mediator tercanggih untuk kita, serta menjadi bagian dari hidup kita, berbahagialah karena kita mempunyai orang-orang yang mencintai dan menyayangi kita. Berdoalah agar setiap hal yang kita hadapi selalu bersama mereka, bukan hanya kesulitan, akan tetapi indahnya senyuman di setiap hari kita.
Sekarang saya ingin menyapa mereka, teman-teman istimewa untuk mengenang masa-masa yang juga istimewa dalam perjalanan hidup saya yang Bittersweet di sebuah tempat yang saya beri nama Fairyland
Hei Dania dan Nde!, masih ingat tidak 14 tahun yang lalu saat kita main belanja-belanjaan di pekarangan rumah Nde, yang mungkin sekarang sudah tak ada lagi. Atau ingat tidak waktu kita janjian untuk lari pagi setiap hari minggu?. Dan ada lagi, masih ingat tidak saat dulu kita pernah musuhan gara-gara sesuatu hal, tapi akhirnya kita baikkan lagi, kita acungkan jari kelinking kita dan kita kaitkan sebagai tanda damai. 
Hei Ash dan Elsa!, masih ingat kah kalian dengan AYE (Ash, Yane, Elsa)?. Masa-masa SD yang penuh canda tawa. Tak pernah merasa sedih, dan tak ada tanggung jawab yang harus dipertanggugjawabkan. Saya dan kalian adalah anak-anak SD yang selalu bersama. Merah rok kita, merah juga semangat kita saat itu. Masih ingatkah kalian waktu kita main lompat tali saat istirahat sekolah,  jajan di kantin sama-sama, dan main-main di rumah Ash?.
Hei Fani dan Anita!, kalian adalah kisah yang istimewa. Ingat tidak saat kita jalan-jalan ke sebuah bukit? Bukit apa itu? Saya lupa. Ingat juga tidak saat perjalanan melewati sebuah sungai saat kita tersesat?, saat itu juga ada Reni,Taufik, Didin, dan Fajar juga. Kita adalah anak-anak SMP yang sedang mencari jati diri. Kalian bukan hanya sahabat, kalian adalah penyemangat, dan penasihat yang handal. Saat saya terpuruk kalian lah yang ada di samping  saya.
Kita juga pernah dihukum gara-gara tidak ikut kuliah dhuha saat itu. Apalagi ya? Oh ya, ada lagi, ingat tidak waktu kita selesai belajar silat di rumah Yushal? Ada Tendi juga kan? Saat itu saya menabrak pagar rumah orang gara-gara naik motor punya Fani, padahal saya sama sekali tidak bisa mengendarai motor.  Tendi dan Yushal malah tertawa melihat saya. Saya sempat diurut setelah kejadian itu, dan rasanya sakit sekali. Dan saat keesokan harinya saya masuk sekolah saya tidak bisa menulis gara-gara tangan saya sakit. 
Dan tanpa saya minta, sahabat saya yang paling cantik, Anita, kamu langsung mengambil buku dan pulpen milik saya. Kamu menuliskan semua yang guru terangkan di buku saya. Dan saya hanya terdiam melihatmu begitu. Tak ada kata yang bisa saya ungkapkan. Fani, kamu ingat tidak? Saat saya mau menjemput adik saya dari sekolahnya, kamu tak mau melihat saya lelah. Dan kamu menjemput saya dengan sepeda motormu yang pernah saya benturkan ke pagar rumah milik orang itu. Kamu relakan waktumu untuk mengantar saya menjemputnya.
Hei Yeyen, Icus, Wini, dan Mei!, ingat tidak sama pandawa lima? Kesedihan dan canda tawa kita bagi selama hampir selama tiga tahun, meski kadang kesedihan itu terlebih dominan karena beberapa  masalah dari luar. Tapi kita tetap utuh dan tak terpecah , tak pernah kita pedulikan omongan orang  yang membuat kita tersisih atau tak terlihat. Sungguh persahabatan anak SMA yang luar biasa, kita saling meguatkan satu sama lain.
Ingat tidak saat sepulang sekolah kita sempatkan nonton dvd di rumah saya, dvd horor, drama, dan komedi, kita ngejerit sama-sama, nangis sama-sama, tertawa sama-sama. Sampai-sampai kasur saya ngaborobot. Ingat kan? Kita juga sering ngebaso bareng di baso dorongnya Mas Bruk. 
Hei Meilya!, masih ingat tidak?, semoga kamu masih ingat ketika kita sama-sama pergi ke dokter mata yang sedikit horor itu Mei. Saat itu  kami ingin masuk Universitas dambaan kami sedari masuk SMA, yaitu UNPAD. Saat itu kami memilih jurusan kimia di pilihan pertama, dan ilmu pemerintahan di pilihan kedua. Karena kimia merupakan jurusan yang berbasis IPA dalam persyaratannya kami harus punya mata yang normal (tidak buta warna) sehingga kami pun harus memeriksakan mata kami ke dokter.
Malam-malam kami menentukan tempat untuk bertemu, tepatnya di depan tempat praktek dokter tersebut. Sumpah, jantung saya berdegup kencang dag dig dug dag dig dug, gak karuan. Kebetulan saat itu saya datang lebih dulu. Hah! Terus saja saya mondar mandir karena gelisah.
Dokternya seperti yang saya bayangkan, menakutkan. (Pak dokter, asal tahu saja, cara bicara anda membuat saya sakit perut). Setelah disuruh memakai macam alat yang saya tidak tahu namany,  untuk mengetes mata kami berdua, akhirnya diputuskan saya dan Mei punya mata yang normal. Tapi hasil tes itu dirasa percuma, toh kita tidak lolos jurusan kimia. Walau begitu kami hampir saja menjadi mahasiswa UNPAD jurusan ilmu pemeritahan.
Namun tiba-tiba hal yang tidak diinginkan terjadi, dan kamu pasti ingat Mei. Saat-saat terbaik dengan sampul terburuk bagi saya saat itu. Tapi itu semua sudah terlewati, dan saya tidak mau mengulasnya. Saya hanya mau mengenang pak dokter yang seram itu saja.
Mei, masih ingat tidak sama Bara? Karakter yang kita ciptakan karena inspirasi tanggal 17 Agustus itu? Atau masih ingatkah akan mimpi kita untuk duet membuat novel?. Mungkin mimpi kita masih sama Mei, tapi sudah tak beringinan karena waktu yang cepat berlalu 
Hei Ratih, Nia, Ami, Opi, Umi, teh Ulfah, Ani, Abi, Ade, teh Kiki!, kalian semua sekarang adalah karakter-karakter yang menemani hari-hari saya. Tak hanya kalian, saya juga punya Syifa, Nurul dan Imi. Kini hari-hari saya lewati bersama kalian.  Kalian tahu betapa merasa berharga nya saya ada diantara kalian. Entah bagaimana dengan kalian. Saya harap kalian pun merasakan apa yang saya rasakan.
Ratih, Nia, Ami, Opi, Umi, ingat kah masa-masa indah waktu pertama kali mengenal jurnalistik? Sungguh masih teringat dikepala. Atau masih ingatkah saat kita makan baso bareng di rumah umi,  nengok Opi waktu sakit, saat-saat masuk SUAKA,  saat jajan di kopma,  ngejailin orang-orang yang lewat, main ke rumah  belajar anak jalanan, sampai menghabiskan waktu di kampus sambil mencari kegiatan. Banyak sekali hal-hal yang sudah kita lewati bersama.
Hei Syifa, Imi, dan Nurul! kalian pasti masih ingat masa-masa indah kita. Banyak kan? Beli makan bareng selepas shalat magrib, nonton tv bareng, nonton dvd bareng, makan saat mati lampu bareng, curhat-curhatan bareng, kalian ingat nama-nama ini?, ada kang kabayan, si mamang, dan ibu gorengan. Mudah-mudahan kalian masih ingat.
Sekarang mungkin saya masih banyak mengingat hal-hal yang  indah bersama kalian semua. Namun waktu bisa saja kembali menjadi penghalang kita. Meskipun saya tak mau itu terjadi, tapi memang sudah seperti itu adanya. Hari-hari sebelum hari ini akan menjadi hari kemarin yang mungkin akan terlupa, meski kita tak ingin. 
Maka rasa terimakasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan untuk Allah Swt yang telah mempertemukan kami dan membuat kisah-kisah yang indah diantara kami, dan terimakasih juga untuk kalian yang sudah menjadi bagian dari Bittersweet di Fairyland saya ini.


Komentar

Postingan Populer