hingga (not yet)



BANDUNG, 8 MARET 2001
    Di sudut kota Bandung tepatnya Jln Ir.H.Juanda masih dibasahi rintik-rintik hujan. Maklum sudah tiga hari kota Kembang nan sejuk itu diguyur hujan. Hari ini pun hujan tak mau enyah, seakan ia tahu bahwa Bandung sangat memerlukan kesejukan setelah berbulan- bulan tersengat oleh sang mentari. Seorang laki- laki berjaket abu-abu serasi dengan warna celana yang ia pakai terlihat gelisah, dengan warna mata cokelat berbinar ia memandangi sebuah bangunan tinggi yang kokoh dimana terdapat plang bertuliskan SMA NEGERI 1 BANDUNG. Ia memang bukan siswa SMA tersebut, mungkin karena sekolahnya sudah dipulangkan lima menit lebih awal ia sudah dapat bersiap memarkirkan mobil sedannya di bawah pohon beringin yang teduh. Itu memang kegiatan sehari-hari dari laki-laki tersebut.
     Setelah terdengar suara bel sekolah berbunyi ia perlahan membuka sedikit kaca jendela mobilnya dengan mengaktifkan kameranya ia membidik satu raga berparas manis yang keluar bersama teman-temannya melewati gerbang sekolah. Lahirlah gambar-gambar indah dari hasil bidikannya tersebut. Entah mengapa hanya bagian wajah gadis itu yang ia bidik, matanya, hidungnya, senyumnya, mungkin hanya bagian rambutnya saja yang tak terlihat karena tergantikan oleh indahnya jilbab yang menghiasi kepalanya. Ia memang pandai menentukan enggle yang tepat, dengan kamera canggihnya ia dapat menghasilkan sesuatu yang terlihat mahal dan elegan. Sudah hampir satu tahun ia melakukan hal itu. Mungkinkah ada suatu alasan yang ia pendam?. Ya ia memang punya alasan mengapa ia melakukan hal itu.
      Muhammad Iman, nama lelaki tersebut sesuai dengan namanya yang memiliki arti percaya, ia pun mempunyai kepercayaan yang tinggi bahwa suatu saat nanti ia dapat meraih cintanya yang tertunda.
                                                                                                                                                          
6 tahun kemudian

BANDUNG, 3 JANUARI 2007
      Kita tinggalkan cerita tentang lelaki tampan tersebut, dari sinilah cerita yang sebenarnya dimulai. Gadis itu sudah bukan siswi SMA lagi. Gadis manis itu menjelma menjadi seorang wanita dewasa yang anggun dan berpendidikan. Dengan memakai kacamata minus satu dan pakaian dengan style yang elegan layaknya seorang wanita pekerja yang penuh dengan kesibukan, ia berjalan dengan kepala tegak sembari tersenyum kepada beberapa orang di sekitarnya. Keteguhan hatinya untuk menutup auratnya pun masih ia junjung, mungkin karena sangat percayanya ia kepada kebesaran ALLAH SWT. Namanya Mawar Fitria Andini.Ia kini menjadi seorang direktur muda di sebuah produksi majalah fashion terkenal di Indonesia.
     Sebut “Lux Style” nama majalah tersebut. Majalah ini sudah banyak memikat hati masyarakat Indonesia, selain isinya yang aman dibaca oleh semua kalangan, entah muda, maupun dewasa, majalah ini membahas tentang style-style yang sedang in dan berbagai macam tips dalam berpakaian serta bersih dari unsur-unsur pornografi. Maklum sang direktur utama, yang tidak lain adalah neneknya sendiri, Ibu Dini Andini seorang haji. Ia sangat anti yang namanya pornografi. Selain seorang Dirut, ia juga seorang pemilik sekaligus pengelola tanaman dan bunga hidup maupun hias. Bisa dibilang Ibu Dini adalah orang yang terpandang khususnya di daerah Bandung. Saking sibuknya ia pun menyerahkan sebagian pekerjaannya kepada cucu kesayangannya itu. Walau sebenarnya Mawar bukanlah cucu kandungnya. Ia mengadopsi Mawar dari panti asuhan dekat rumahnya. Hal ini ia lakukan karena ia merasa Mawar memiliki kesamaan dengan puterinya, Sarah. Ia tinggal bersama suaminya dan kedua cucu kandungnya Laina, yang sebaya dengan Mawar, dan Puguh adik Laina. Mereka adalah anak-anak dari puteri ibu Dini yang memiliki kesamaan dengan Mawar. Namun sayang puteri kesayangannya tersebut telah tiada, dan ia pun teramat sangat kehilangan. Ia pun terlihat lebih menyayangi Mawar daripada kedua cucu kandungnya tersebut, walaupun ia termasuk orang kaya ia tidak pernah menghamburkan uangnya dengan percuma uangnya ia gunakan untuk usahanya yang bersaham-saham tersebut dan akan ia wariskan kepada ketiga cucunya. Mawar termasuk orang yang beruntung walaupun ia bukanlah cucu kandung ibu Dini tapi ia sangat disayangi oleh Ibu Dini dan Bapak Lukman suaminya. Hanya Mawar lah harapan bu Dini, Laina yang seharusnya ada di posisi Mawar hanya bisa duduk di kursi roda sedangkan Puguh  tak tertarik dengan kerja kantoran. Ia lebih senang mengurusi bengkel besar peninggalan alamarhum ayahnya yang juga suami Sarah. Sarah dan keluarganya mengalami kecelakaan hebat yang mengakibatkan Laina dan Puguh kehilangan kedua orang tuanya. Laina pun harus menerima kenyataan bahwa kedua kakinya lumpuh. Hanya Puguh yang sedikit beruntung karena ia hanya mendapatkan luka kecil di tangannya. Mawar sangat menyayangi kedua kakek dan neneknya ia tidak mau mengecewakan mereka dan Mawar pun berjanji akan membahagiakan kakek dan neneknya ia tidak mau hanya memanfaatkan kesamaan dengan putri bu Dini dan suaminya. Mawar pun bisa dibilang berhasil dalam mengelola perusahaan majalah tersebut. Buktinya ia bisa membuat booming saat peluncuran perdana majalah tersebut. Namun setelah hampir tiga tahun majalah tersebut dikenal masyarakat, mulai banyak kendala yang muncul di perusahaannya. Banyak model yang sudah dikontrak tiba-tiba membatalkan kontrak dengan alasan fotografer di perusahaan tersebut tidak profesional.
Tentu Mawar merasa pusing karena ulah para modelnya itu. Akhirnya Ia memutuskan untuk mengganti fotografer di majalahnya itu. Namun Ia juga harus ekstra hati-hati untuk memilih fotografer yang benar-benar profesional.                                                                                                                 
BANDUNG, 18 April 2007                                                                                
         Mawar beserta keluarganya memutuskan pindah ke daerah Lembang. Hal ini dilakukan agar Mawar juga dapat memantau usaha bunga potong milik neneknya tersebut sekaligus menjalani hari-hari sibuknya di Lux Style. Ia memilih tempat tinggal di sebuah Perumahan elit di daerah Lembang. Hari ini hari kepindahannya. Turun dari mobil sedan mewah Mawar terlihat anggun ia tertatap pada seorang lelaki tampan yang sedang memetik senar gitar dengan alunan musik yang indah. Tapi bukan Mawar namanya kalau tidak langsung membuang mukanya begitu saja. Ia kadang terlihat antipati bila mebicarakan yang namanya lelaki maklum saja Mawar belum pernah merasakan yang nananya jatuh cinta dalam arti yang sebenarnya, mungkin ia sengaja menghindar karena  suatu hal. Ya, mungkin karena “Rasa”. Ia percaya bahwa “Rasa” akan menepati janjinya untuk datang dan menemuinya. Tentu saja untuk meyakinkan Mawar bahwa ia sangat mencintai Mawar dan akan terus menjaga dan mencintai Mawar. 
        Mawar mampunyai seorang sahabat yang amat ia sayangi, mereka sangat dekat maklum, mereka sudah bersahabat sejak kelas 1 SMA. Namanya Aya. Oiya jangan kira kalau Aya itu wanita karir yang anggun dan elegan. Bahkan sebaliknya. Ia adalah seorang lelaki tampan, muda, gagah, dan… tajir. Ia pemilik perusahaan perhiasan yang sukses. Sebenarnya Aya tidak terlalu senang dengan pekerjaannya itu namun apa boleh buat Ia adalah satu-satunya pewaris tunggal Perusahaan Diamond Real. Di Keluarganya Aya memang anak tunggal Ia sangat dimanja oleh kedua orang tuanya. Ia sering pergi ke luar negeri karena perusahaannya itu terkenal di Asia dan sebagian Eropa. Di Asia ia biasa pergi ke Jepang, Korea, Malaysia, dan Singapura, sedangkan di Eropa, ia berhasil memasarkan produknya ke kota London, dan Milan. Aya adalah sahabat Mawar dari SMA. Ya ia adalah orang yang membuat Iman mengurungkan niatnya mendekati Mawar. Aya hanya nama panggilan kecil Mawar kepadanya, di perusahaannya tentu tak ada yang mengenal nama Aya, karena nama aslinya adalah Diarra Rahadiana Putra.
         Sebenarnya Aya sangat mencintai Mawar namun saat ia mengungkapkan perasaannya terhadap Mawar, Mawar selalu menganggap itu hanya bercanda. Aya sangat menyesal karena ia pernah mengungkapkan perasaannya dengan bercanda karena ia takut kalau nanti Mawar marah mengingat persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak lama dan sangat erat, saat ia mulai sungguh-sungguh untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya, ia malah mendapat jawaban gurauan dari Mawar.
        Kembali ke kepindahan Mawar, kepindahan Mawar dan keluarga ke Lembang adalah kabar terindah bagi Aya. Mengingat Aya tinggal di daerah yang sejuk nan dingin itu. Selama ini mereka sering berkomunikasi lewat telepon namun kali ini Aya pasti akan sering bertemu muka dengan Mawar. Aya punya alasan kuat untuk sering menemui Mawar, karena Aya dan Mawar telah lama bekerja sama dalam menjalani usaha mereka. Dua Dirut muda ini sama-sama saling membutuhkan. Mawar memerlukan perhiasan-perhiasan mahal dan elegan untuk mendukung kecantikan para modelnya dalam berpose di depan kamera. Sedangkan Aya memerlukan majalah Mawar untuk lebih mempublikasikan usahanya lebih luas lagi. Karena majalah Mawar pun telah menembus ke Negara tetangga meski hanya sebatas Malaysia dan Singapura. Mungkin hal ini dikarenakan majalah Mawar yang selalu in dalam setiap terbitannya dan aman dibaca oleh siapa saja.  Hari ini hari yang cerah, tapi Mawar sedang termenung sendiri ia teringat kejadian 6 tahun yang lalu pada tanggal yang sama dengan hari ini, 19 April 2007.Ia teringat akan seorang Pangeran yang telah menyelamatkan hidupnya, Pangeran itu telah mendonorkan ginjalnya pada Mawar pada saat Mawar mengalami kecelakaan berat yang hampir merenggut nyawanya. Namun sampai saat ini ia tidak pernah tahu siapa orang yang telah berbaik hati padanya. Tapi Mawar tidak akan pernah berhenti menunggu Pangerannya itu. Dalam surat yang Pengeran itu tuliskan ia menamakan dirinya “Rasa”. Entah apa maksud orang itu, yang jelas, ia menuliskan kata-kata penuh makna yang menyentuh hati siapa pun yang membacanya, termasuk Mawar. Pangeran itu pun menuliskan kata-kata indah bahwa ia akan terus mencintainya.
        Saat ini Mawar masih tidak bisa mencintai orang lain karena ia yakin bahwa suatu saat nanti Pangerannya akan datang dan membawakan  sebuket bunga mawar merah,bunga kesukaan Mawar. Dan ia percaya suatu saat nanti ia akan tahu siapa Pangerannya tersebut. Ia selalu berdoa kepada ALLAH SWT agar segera mampertemukan ia dengan Pangerannya, dan ia berharap bahwa Pangeran itulah yang diciptakan ALLAH SWT untuk menjadi imamnya di dunia maupun di akhirat.
        Singkat cerita Mawar dan tetagganya itu sudah kenal akrab. Apalagi dengan Bu Nisha dengan puteranya pun Mawar sudah tak angkuh lagi. Siapa sangka tanpa ia tahu laki-laki tersebut adalah Iman. Iman pun tak menyangka ia akan bertemu dengan Mawar, karena di mata Iman Mawar adalah wanita yang hampir  sempurna, walaupun sebenarnya tak ada yang sempurna di dunia ini. Mawar pun meminta Iman untuk menjadi fotografer di kantornya mengingat Iman sangat menyukai pekerjaan yang berhubungan dengan photografi. Ia mencoba bertahan melawan penyakit yang dideritanya, hanya untuk bisa mengungkapkan sesuatu yang sudah lama ia pendam. Namun tak ada yang tahu apa yang ia pendam selama ini. Mawar pun merasa ada yang aneh dalam diri Iman. Tanpa Mawar sadari kedekatannya dengan Iman membuat Mawar mencintai Iman. Mawar sangat mengagumi kepribadian Iman yang taat dalam beragama, sopan, baik, lembut, dan bijaksana. Satu hal yang membuat Mawar simpati pada Iman, besarnya rasa sayang Iman pada ibunya sangat ia junjung. Tapi Mawar pun selalu mencoba melupakan Iman karena ia yakin akan “Rasa”. Begitu pula dengan Iman ia berusaha melupakan Mawar karena penyakitnya, ia takut tak bisa membahagiakan Mawar dan hanya bisa membuat Mawar sedih akan penyakitnya yang tak kunjung membaik, perlahan Mawar melihat sosok “Rasa” dalam diri Iman. Mawar tak salah, Iman adalah Rasa dan Rasa adalah Iman . selama ini itulah rasa yang Iman pendam. Seandainya Mawar tahu kalau dia adalah Rasa Iman takut Mawar malah membenci Iman atas ketidak jujurannya namun apa daya Iman lebih tak mau melihat Mawar bersedih bila pangeran yang selama ini ia tunggu akan meninggalkan ia untuk selama-lamanya karena dokter yang memvonis Iman tak kan hidup lebih lama lagi. Iman pikir apabila Mawar tak mengetahui ia sebenarnya Mawar akan bisa mencoba mencintai orang lain dan melupakan Iman.   
Satu hal yang bisa membuat Iman perlahan melupakan Mawar, yaitu Nisha sahabatnya dari kecil yang amat sangat mengerti Iman. Nisha sebenarnya mencintai Iman namun Iman tak pernah sadar akan kehadiran Nisha yang selama ini selalu menghiburnya di saat sedih dan duka. Sosok Nisha yang memang  seperti Mawar membuat Iman merasa ada di dekat Mawar. Sifat dan fisik mereka pun tak beda jauh Nisha adalah seorang gadis yang sangat baik. Karena itulah Iman selalu nyaman bila Nisha di sampingnya. Jilbab yang selalu menjaga Nisha, membuat Iman tak bisa membedakan antara Nisha dan Mawar. Nisha yang sangat dekat dengan keluarga Iman membuat Ibu Laras menyayangi Nisha seperti anak sendiri. Awalnya pun mereka akan dijodohkan. Namun semua itu terlambat karena Nisha telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan orang lain. Pemuda yang dijodohkan pun adalah sepupu Aya. Nama pemuda itu adalah Irham, Walaupun begitu Nisha tak bisa menolak keinginan kedua orang tuannya. Ia pun sangat menghormati keluarga Irham yang sudah kenal baik dengan keluarga Nisha. Irham berbeda dengan Nisha. Ia malah jatuh cinta pada Nisha. Irham juga seorang pria yag baik. Ia pemuda modern yang sangat mementingkan agama. Mungkin karena ia dibesarkan di kelurga yang islami. Ia pemuda yang saleh dan bijaksana. Itulah yang membuat Nisha sangat menghormati Irham. Keluarga Irham pun telah menganggap Nisha adalah  bagian dari keluarga mereka.. Mereka sangat mengenal Nisha. Ibu Irham pun tak mau kalau calon menanatunya tersebut tidak jadi menikah dengan Irham. Ia terlanjur menyukai Nisha. Di sisi lain Nisha mencoba melupakan Iman ia berharap kalau Irham adalah pilihan ALLAH SWT untuknya. Tapi semuanya mengalir seperti air, Iman sendiri malah membantu proses ta’aruf Nisha dan Irham. Irham dan Nisha pun merasa berhutang budi pada Iman. Irham adalah produser sekaligus penyiar radio ternama di Bandung. Ayahnya adalah pemilik kantor radio tersebut, meski pun bila sedang siaran Irham terdengar banyak bicara namun subhanallah… dia benar benar pemuda yang ramah dan sopan.
Namun banyak sekali rahasia dalam diri Iman yang tak diketahui siapa pun. Dan itu pun hanya Iman dan ALLAH SWT yang tahu. Secara garis besarnya pun cerita cinta antara Mawar, Iman, Nisha, Irham dan Aya sangat rumit. Singkat cerita mereka berlima pun saling mengenal. Nisha yang berkerja sama dengan bu Andini memasarkan bunga potong pun perlahan mengenal Mawar. Ayya yang juga sepupu Irham pun lambat laun mengenba Nisha yang juga sahabat Iman, yang bekerja sbg photographer di perusahaan milik gadis yang amat ia cintai. Nisha Adalah gadis pekerja keras. Ia menjadi tulang punggung keluarga. Ia tidak hanya kuliah di jurusan komunikasi public tapi ia juga bekerja sebagai desain grafis di perusahan Mawar. Selain itu ia menjadi guru les di sebuah organisasi bimbngan belajar setiap hari sabtu dan minggu..ia hanya kuliah 3 hari itu pun dari pagi hingga sesudah dzuhur. Pulang kuliah ia selalu sempatkan diri untuk memantau toko bunga miliknya yang ia kelola dari hasil kerjanya dan  dibantu oleh bu andini sebagai.penyalur bunga potong tersebut. Ibu andini sangat kagum dengan kerja keras Nisha sehingga ia pun membantu Nisha dalam memodali toko bunga tersebut itu semua ia lakukan untuk kedua adiknya. Dan itupula  yang membuat Irham sangat mengagumi Nisha.   






Komentar

Postingan Populer