Rose of Edlothia; Chapter III (FanFic)
Aku tidak sepenuhnya menikmati pesta ini,
aku hanya membatu ibu memanggang daging domba yang tampak sebelumnya sudah
dibumbui. Aku jarang sekali makan daging domba, bahkan kadang aku tidak terlalu
suka baunya. Tapi entah kenapa daging domba disini tidak mengeluarkan bau
menyengat seperti bau daging domba yang aku tahu di dunia nyata. Delian dan
adikku entah sedang mengobrol apa, sesekali mereka juga menyapa orang-orang
yang lalu lalang. Aku sama sekali tidak mengenal mereka, aku hanya bisa
membalas sapaan mereka dengan senyuman. Mungkin setelah ini aku akan banyak
bertanya pada adikku, tanpa harus membuat dia semakin curiga. Aku juga harus
mengilangkan kebiasaanku memanggilnya dengan sebutan Ell, dia nampaknya tidak
suka dengan itu, mungkin karena namanya disini hanya Lelya. Dan masih banyak
lagi hal-hal baru yang harus aku pelajari disini.
“Ibu, apa daging domba ini sudah matang?”
“Sudah..sudah pindahkan ke piring”
“Baik bu”
“Baru kali ini kamu bertanya pada ibu,
biasanya kamu paling mengerti cara memanggang daging”
Ah, aku mulai ceroboh lagi.
“Aku hanya ingin minta pendapat ibu saja”
Ibu hanya tersenyum sambil mengusap
rambutku.
Keluarga yang sedari tadi mengobrol bersama
ayah dan ibu adalah orang tua Delian, dari pembicaraan mereka aku mencuri
beberapa informasi. Sepertinya Delian dan keluarganya tinggal di samping rumah
kami. Mereka tidak banyak berbicara hal pribadi, hampir 70% hal yang mereka
bicarakan hanya seputar tanaman. Seperti Shire yang aku tahu, disini terasa
sangat damai dan nyaman. Tapi aku benar-benar ingin bertemu bangsa hobbit, elf
atau dwarf. Aku ingin melihat secara langsung.
.....
Pesta ini tidak berlangsung lama, setelah
kira-kira tiga jam, kami sudah harus membereskan meja-meja dan sampah-sampah
makanan. Kami pun pulang ke rumah dengan perut kenyang dan nampaknya mereka
sangat bahagia, tak terkecuali aku, aku pun bisa merasakan kebahagiaan mereka. Setelah
berjalan kurang lebih dua ratus meter kami pun sampai di rumah, sungguh ini
seperti mimpi menjadi nyata. Setelah menonton trilogy The Lord of The Ring dan
The Hobbit aku jadi ingin memiliki rumah dengan interior dan exteriornya mirip
dengan rumah hobbit, dan disini ternyata aku tinggal di rumah yang aku impikan.
Ayah dan ibu berisitirahat di kamar, begitupun dengan Lelya, ia langsung naik ke lantai dua Sewaktu Lelya
membawaku pertama kali ke rumah ini aku tidak sempat melihat-lihat semua bagian
di dalam rumah ini, selagi mereka di kamar masing-masing, aku pun mulai menjelajahi
isi rumah. Karena rumah kami tidak begitu besar aku hanya belum melihat ruangan
di belakang, saat aku menuju ruangan itu ternyata ada satu pintu dengan ukiran
alam middle earth, saat aku buka ternyata ada sebuah kolam kecil dengan kincir
air. Aku juga melihat beberapa benda seperti ini saat perjalanan dari Lometalf
tadi. Mungkin ini seperti kamar mandi, karena di sisi-sisinya di bentengi
dengan kayu yang cukup tinggi. Ini sungguh pemandangan yang menakjubkan.
Ternyata middle earth yang aku tinggali sekarang sudah memiliki banyak
perkembangan.
“Meril diamana kau?” itu suara Lelya, Aku
harus lekas ke lantai dua. Ah baiklah aku sudahi dulu kekagumanku akan tempat
ini.
“Meril, wajahmu tampak senang sekali”
Oh aku tidak sadar kalau kebahagiaanku ada
disini membuat aku tersenyum
“Ah iya Lelya, aku senang ada disini,
hmm...maksudku pesta tadi membuatku merasa senang”
“Dan sekarang waktunya tidur Meril, aku
terlalu banyak makan tadi”
“Kau duluan saja, aku ingin disini dulu”
“Baiklah, ini memang ruangan favoritmu”
Jadi ruangan belajar ini ruangan favoritku.
Ada beberapa lembaran-lembaran kertas yang disusun seperti buku. Namun
kertas-kertas nampaknya ini dibuat dari dedaunan atau kulit hewan yang tipis.
Alat pengikat lembaran-lembarannya pun terbuat dari serat pohon. Beberapa
tulisan di lembaran-lembaran itu tidak aku mengerti, itu seperti huruf-huruf
yang pernah muncul di film, mungkin itu bahasa yang digunakan elf. Tapi
beberapa lembaran-lembaran lainnya menggunakan common speech. Syukurlah aku
masih bisa membacanya.
Matahari sudah condong ke arah barat, entah
jam berapa sekarang, aku sepertinya ketiduran. Lelya sudah tidak ada di
kamarnya. Ah aku mencium harum masakan dari bawah. Benar saja ibu sedang
memasak, Ayah dan Lelya sedang minum sesuatu di halaman. Ya, seperti di dunia
nyata, Lelya malas sekali membatu ibu memasak. Tapi meskipun ia tidak suka
memasak, ia sangat suka makan, daging, buah, sayur, tidak ada yang tidak dia
sukai. Adikku lebih suka bersih-bersih rumah dan melakukan perkerjaan yang
berat. Mungkin karena dia terlihat lebih kuat dariku. Disini dia pasti lebih
suka membantu pekerjaan Ayah.
“Ibu maaf aku ketiduran” aku merasa
bersalah karena tidak membantu ibu memasak.
“Ah kamu sudah bangun, tidak apa-apa kamu
pasti kelelahan”
“Ibu membuat salad dan udang bakar:
“Udang?, darimana ibu mendapat udang?
“Ini dari pamanmu di Sindi”
Oh iya aku punya paman, berarti pamanku
juga ada disini. Aku pikir hanya orang tua dan adikku saja. Paman Natara dan
Bibi Amelia pasti memiliki nama lain disini. Aku ingin bertanya pada Ibu, tapi
nanti ibu pasti curiga. Kalau ada paman dan Bibi, sepupu-sepupuku juga ada
disini. Ah memikirkannya pun aku sudah senang. Tapi aku masih penasaran, siapa
saja teman-temanku di middle earth. Sampai saat ini aku hanya bertemu dengan
Delian. Mungkin Delian dan adikku juga bisa membantuku bertemu dengan
teman-temanku yang lain disini.
“Ini udah air tawar ya bu”
“Iya udang air tawar di sungai Sindi sangat
enak rasanya”
“Lalu Paman kemana bu?”
“Sudah pulang, dia kemari hanya mengantar
udang-udang ini saja”
“Aku boleh kan bu berkunjung ke rumah
Paman”
“Tentu saja, bukankah kamu sering kesana,
dua hari yang lalu kamu baru saja kesana mengantarkan daun basil”
Ups, aku melakukan kesalahan lagi. Aku
harus cepat mengalihkan pembicaraan.
“Bu jagung ini harus aku apakan?”
“Oh iya rebus saja disana, airnya pasti
sudah mendidih”
“Baiklah”
Selesai membantu ibu memasak, kami pun
makan bersama. Tadi siang kami kekenyangan, tapi di malam hari perut sudah
mulai minta diisi lagi. Rasa makanan disini tidak setajam rasa makanan di dunia
nyata, lebih sederhana tanpa bumbu aneh-aneh, semuanya berasal dari tanaman
rempah dan herbal. Meski begitu aku sangat suka, terasa lebih sehat dan enak.
Inilah saat yang tepat bagiku untuk
“mencuri” informasi apa saja yang ada di Edlothia. Aku mendengarkan pembicaraan
orang tua dan adikku dengan seksama, sesekali aku ikut tersenyum saat mereka
bercerita hal-hal yang lucu dan menarik, terkadang aku juga mencoba memasang
wajah serius saat mereka membicarakan hal-hal yang sedikit menyeramkan. Bahasan
menyeramkan apalagi disini selain membicarakan kisah masa lalu, saat perang
besar melawan kejahatan Sauron. Ya, apa yang mereka bicarakan sangat mirip
dengan cerita yang aku tonton di trilogi The Lord of The Ring dan The Hobbit.
Aku sungguh tak percaya kalau aku ada di masa ini. Meski sudah cukup jauh dari
periode perang cincin, tapi suasana disini benar-benar mengingatkanku akan masa
itu. Meski nampaknya peradaban disini bisa dibilang mengalami beberapa
perkembangan. Selesai makan malam kami pun tidur.
Di kamar aku mencoba bertanya hal-hal yang
ingin aku ketahui lebih banyak pada adikku, tapi Lelya sepertinya sudah ingin
tidur.
“Apakah kau sudah akan tidur Lelya?”
“Iya aku ngantuk sekali Meril, masakan ibu
juga terlalu enak, aku jadi makin terlalu banyak”
“Oh baiklah, tidurlah”
“Kau juga tidur Meril, selamat malam semoga
mimpi indah”
“Iya selamat malam, kau juga”
Adikku memang seperti memiliki dua
kepribadian, ada saat dia begitu sangat manis dan perhatian padaku, ada kalanya
juga dia bisa menjadi gadis yang cerewet dan menjengkelkan. Ini hari pertama
aku ada di Edlothia, aku sudah merasakan banyak hal yang membuatku bahagia.
Tak terasa pagi sudah menjelang, suara
lolongan serigala sudah berubah menjadi suara ayam dan burung-burung di alam.
Meski di luar masih terlihat gelap aku sudah mendengar suara di bawah, tepatnya
suara alat-alat masak ibu. Lelya nampaknya masih terlelap. Aku diam-diam turun
ke bawah untuk membantu Ibu. Saat aku turun ke bawah aku bisa melihat Ayah dari jendela kecil di bawah
tangga, ayah sudah ada di luar, mungkin beliau sedang menikmati sejuknya udara
pagi hari sambil memeriksa tanaman di halaman.
“Pagi bu”
“Pagi Meril, kau sudah bangun?”
“Iya bu, Ibu sudah mulai memasak pagi ini?”
“Pagi Meril, kau sudah bangun?”
“Iya bu, Ibu sudah mulai memasak pagi ini?”
“Iya Meril, seperti biasanya, setelah panen
besar, kita tidak usah pergi ke ladang bunga selama beberapa hari. Kita juga
harus membuat pikiran dan jiwa kita tetap sehat setelah bekerja berbulan-bulan.
Dan hari ini kita akan berjalan-jalan”
‘Jalan-jalan?, pasti ini hal yang paling
menyenangkan’ hatiku mulai bicara kegirangan. Pasti ibu memasak untuk bekal
kita saat jalan-jalan. Ini seperti kebiasaan keluargaku di dunia nyata.
“Ah iya ibu, aku sangat merindukan liburan
ini” Aku mencoba berakting, seakan-akan pernah mengalaminya.
“Iya tentu saja, kau dan Lelya sangat suka
liburan ini”
“Hari ini kita akan jalan-jalan kemana bu?”
“Shire”
‘Shire? Aku akan ke Shire?’ bicaraku lagi-lagi dalam hati. Sungguh, aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku saat mendengar kata Shire, rasanya aku ingin tersenyum lebar selebar-lebarnya, tapi aku tetap mencoba memansang wajah datar di hadapan ibu.
‘Shire? Aku akan ke Shire?’ bicaraku lagi-lagi dalam hati. Sungguh, aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku saat mendengar kata Shire, rasanya aku ingin tersenyum lebar selebar-lebarnya, tapi aku tetap mencoba memansang wajah datar di hadapan ibu.
“Jadi ibu akan masak apa sekarang?”
Ibu akan membuat makanan kesukaan Tuan Gell
Tuan Gell? Siapa lagi itu?. Kalau aku
bertanya, ibu pasti curiga. Mungkin Tuan Gell itu nama bangsa hobbit. Aku pun
meredam rasa penasaranku. Ah aku tidak peduli, siapapun Tuan Gell itu aku
benar-benar bahagia bisa jalan-jalan ke Shire. Aku harus membantu ibu supaya
cepat menyelesaikan masakkannya. Ternyata ibu bukan hanya memasak untuk kami
tapi juga untuk Tuan Gell
Matahari mulai menampakkan cahayanya, pagi
hari di Edlothia benar-benar sangat indah, pemandangan khas pedesaan dengan
suara-suara alam yang menyejukkan hati sungguh membuatku merasa bersyukur bisa
menikmatinya.
Lelya sudah bangun dan membuat teh untuk
kami, diam-diam aku pun melihat bagaimana cara Lelya membua teh. Ini sebagai
persiapan jika nanti aku ingin membuat teh untuk mereka. Ya, dari kemarin,
selain mendengarkan dengan seksama tentang berbagai macam cerita di sini, aku
juga harus memperhatikan hal-hal terkecil yang mereka lakukan, aku tidak mau
mereka menjadi curiga karena ketidaktahuanku ini.
“Lelya, hari ini kita akan jalan-jalan ke
Shire dan bertemu Tuan Gell” aku mencari topik pembicaraan saat Lelya sedang
membuat teh
“Iya aku tahu, hari pertama liburan kan
kita memang selalu mengunjungi Tuan Gell”. Oh jadi begitu, lalu bagaimana
dengan hari berikutnya? Ah lagi-lagi aku tidak bisa bertanya semauku. Aku harus
benar-benar mencari waktu dan topik yang tepat.
Setelah bersiap-siap untuk pergi
jalan-jalan Ayah pun segera pergi ke rumah Tuan Thalion untuk menyewa kereta
kuda. Tuan Thalion memiliki tiga kereta kuda, beliau sering menyewakan kereta
kudanya bagi para tetangga jika ada yang ingin mengangkut hasil panen bunga
atau kayu-kayu dari hutan. Dari hasil “mencuri” informasi lewat pembicaraan
saat makan semalam, aku banyak sekali mendengar nama Tuan Thalion disebut. Tuan
Thalion adalah ayah Delian sekaligus sahabat Ayah, karena Tuan Thalion sahabat Ayah,
beliau juga menginjinkan kereta kudanya untuk kami pakai jalan-jalan. Ibunya
Delian, Nyonya Lisse juga sangat dekat dengan Ibu. Ibu bilang, Nyonya Lisse dan
ibu sering berbagi cara memasak jika tidak pergi ke ladang bunga. Terkadang Ibu
yang mengunjungi rumah Nyonya Lisse, maupun sebaliknya. Dan aku juga baru tahu
kalau Delian lahir setelah aku lahir, tapi Delian lebih sering bersamaku ketimbang
dengan Lelya, Ibu bahkan sempat menggoda Lelya dengan bilang kalau Delian tidak
nyaman berteman dengan Lelya karena Lelya gadis yang cerewet. Aku dan Ayah pun
hanya bisa tertawa melihat wajah cemberut Lelya saat ibu menggodanya. Tapi dari
perawakan dan sikapnya Delian memang tidak terlihat lebih muda dariku, dia
bahkan terlihat lebih dewasa dan memiliki watak ksatria.
Ah Aku benar-benar sudah tidak sabar lagi
ingin segera jalan-jalan ke Shire dan bertemu Tuan Gell. Seperti apa Tuan Gell?
Apakah beliau benar-benar dari bangsa Hobbit?. Aku juga mungkin akan bertemu
dengan teman-temanku dari bangsa Hobbit seperti kata bunga mawar di halaman
rumahku. Membayangkannya saja sudah membuatku merasa senang bukan kepalang.
Entah kejutan indah apalagi yang akan aku dapatkan disini.


Komentar
Posting Komentar