Rose of Edlothia; Chapter II (FanFic)

Aku menoleh ke arah rumahku, ayah dan ibu kembali masuk ke dalam tanpa melihat keanehan yang terjadi di halaman. Dan dihadapanku, terowongan bunga mawar masih terbuka dengan lebarnya. Bunga mawar itu bilang aku juga bisa menemui keluargaku di Edlothia. Baiklah harus segera aku putuskan. Aku setidaknya harus mencoba untuk memberanikan diri, berani menghadapi tantangan yang bahkan belum pernah terbayangkan. Aku langkahkan kakiku selangkah demi selangkah masuk ke terowongan bunga itu dan seketika setelah kedua kakiku berada di dalam, terowongan bunga langsung tertutup dengan kilatan cahaya. Rasa takut mulai muncul, tapi aku berusaha untuk menenangkan diriku. Aku pun kembali berjalan menyusuri terowongan yang ternyata dipenuhi juga dengan bunga-bunga. Selain bunga mawar merah dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari yang biasa kulihat, ada juga bunga baby breath yang menambah indah pemandangan di kanan dan kiriku, Bahkan ada juga pohon sejenis sakura dan beberapa bunga indah lainnya.
Ini indah, sangat indah, aku bergumam di dalam hatiku. Lalu setelah beberapa langkah aku berjalan, kulihat seberkas cahaya yang mulai menandakan akhir dari terowongan ini. Benar saja setelah aku keluar dari terowongan itu aku berada di tempat yang sebenarnya tidak terlalu asing bagiku. Tempat ini sungguh mirip dengan tempat yang bunga mawar itu katakan, bahwa aku ada di dalam periode middle earth. Periode fiksi karya J.R.R Tolkien yang memang aku kagumi.
“Shire, ini mirip dengan Shire!” gumamku
Tapi bunga mawar itu bilang aku tinggal di Edlothia, nama tempat yang belum aku tahu. Lalu apakah aku ada di Edlothia?. Disini nampaknya pagi menjelang siang hari, karena aku merasakan kesejukan dan kehangatan dalam waktu yang bersamaan. Aku terus menyusuri jalan setapak yang masih dihiasi dengan bunga-bunga dan pepohonan yang cukup rindang. Semerbak bau alam memenmani perjalananku. Sesekali terdengar suara kicau burung yang saling bersahutan. Aku benar-benar menyukainya. Pemandangan indah yang kulihat seperti hadiah Tuhan, hadiah karena keberanianku dalam mengambil keputusan malam hari tadi.
Tak lama aku menemukan sungai kecil dengan air yang jernih, suara aliran airnya sangat menenangkan hati. Beberapa batuan berwarna keabuan yang bersih menambah indahnya pemandangan sungan ini. Lalu aku pun mulai melihat beberapa rumah yang juga tidak asing, rumah-rumah ini tidak seperti rumah kebanyakan. Terbuat dari batu dan kayu, dinding dan atapnya sedikit tertutupi dedaunan merambat. Beberapa tanaman menghiasi halaman yang dikelilingi dengan pagar kayu yang unik. Iya, ini seperti rumah Hobbit, tapi dengan ukuran yang lebih besar. Jika benar aku ada di Shire aku mungkin akan bertemu Frodo dan Sam, pikir isengku dalam hati. Tapi kenapa disini sepi? Apakah mereka masih tertidur? Padahal saat ini terlihat seperti jam sembilan atau jam sepuluh pagi.
“Meril..!”
Lagi-lagi namaku dipanggil, aku dengan seksama melihat sosok itu dari kejauhan, ia pun menghampiriku dengan setengah berlari. Kakiku sempat sedikit melangkah ke belakang, tapi lama-kelamaan sosok itu juga seperti sosok yang ku kenal. Tidak, itu adikku Ellelya. Benar kata bunga mawar itu, adikku ada disini.
“Ell...itu kamu”
“Ell? Ini aku Lelya, ada apa dengan mu Meril?, sedang apa kamu disini? Baju apa yang kau pakai ini? Sepatumu?” ia menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan yang aneh. Ya ini pakaianku yang kupakai tadi malam, Rok tulle putih dengan kaos merah muda, dan sepatu kets putih ini tak sengaja kupakai saat akan keluar rumah.
“Dengar, orang-orang sudah berkumpul di Lometalf untuk merayakan panen bunga” ia lalu menggenggam tanganku dan segera menarikku.
“Tunggu dulu, namamu Lelya? Bukankah nama lengkapmu Ellelya? apakah kau saudaraku? adikku?” aku tidak henti bertanya sambil mengikuti langkah cepatnya. Di pun berhenti dan menatapku.
“Apa? Pertanyaan-pertanyaan bodoh apa itu? Ia menatapku tajam tanpa tersenyum sedikitpun
“Sudahlah jangan konyol Meril, Ayah dan Ibu juga sudah menunggumu, kita harus lekas kesana” lanjutnya
“Ayah? Ibu?”
“Iya” ia menjawab dengan tekanan suara yang jelas sambil melihat ke arahku
Benar, Ayah dan ibuku juga ada disini. Kenapa bisa terjadi? Tidak hanya di dunia nyata, disini pun aku diselimuti oleh banyaknya pertanyaan.
“Lebih baik kita ke rumah dulu, dan ganti bajumu itu” ia kemudian membawaku masuk ke sebuah halaman rumah khas middle earth yang sering aku lihat di film trilogi Lord of The Ring dan The Hobbit. Aku sejenak terpana di depan pintu, sambil meneliti apapun yang kulihat. Rumah ini dipenuhi dengan bunga berwarna-warni dan tumbuhan hijau lainnya. Bahkan ada sebuah pohon berbuah hijau seperti jambu biji. Buah apa itu?
“Ayo cepat Meril, acaranya akan segera dimulai” lengkingan suaranya membuyarkan penelitianku.
Ini aneh, meski sikapnya sangat mirip sekali dengan adikku, sedari tadi dia tidak pernah memanggilku kakak seperti yang biasanya. Aku tidak punya pilihan lain, aku hanya bisa menururti permintaannya. Saat masuk ke dalam rumah, aku melihat interior yang sangat unik, semua peralatan didominasi oleh batu dan kayu. Ada juga bunga-bunga yang semakin mempercantik dekorasi di dalam rumah. Tidak kusangka disini pun mereka sudah mengerti cara mendekorasi rumah. Ada karpet yang nampaknya terbuat dari bulu hewan, kursinya pun demikian.
“Meril kesini!”. Aku pun menghampiri suara adikku. Wow, disini juga ada tangga kecil berkelok yang tidak terlalu tinggi, terbuat dari kayu cokelat yang halus. Di atas aku melihat dua buah ruangan, salah satu ruangan terlihat seperti tempat belajar dan ruangan lainnya terisi dua tempat tidur ala middle earth. Mungkin ini kamar tidurku dengan adikku.
“Pakai ini, kamu sangat cantik saat memakai baju ini Meril”
Ia mengeluarkan gaun berwarna merah carmine berbahan velvet yang nampak dihiasi dengan beberapa lace di tangan dan kerahnya. Dan di bagian pinggang dilingkari bebatuan berkilauan senada dengan warna gaun.
Gaun ini nampaknya mirip dengan gaun yang ia pakai, hanya saja ia memakai gaun berwarna ungu”
“Ini mirip dengan gaun yang kau pakai, tampaknya gaun ini sangat mahal”
“Tentu saja, gaun ini adalah hadiah dari Raja Acer, karena kita menghasilkan banyak bunga-bunga yang bagus untuk dipakai sebagai hiasan istana”
“Raja Acer? Bukankah Raja Gondor adalah Aragorn?”
Dia pun tersenyum sambil memalingkan wajahnya
“Kau hidup ratusan tahun yang lalu Meril?, ataukah kamu benar-benar sedang sakit?. Dengar Meril, jangan memberikan pertanyaan yang aneh-aneh lagi, cepat ganti bajumu”
“Tapi kau belum menjawab satu pun pertanyaanku”
“Meril, apakah aku harus menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol darimu?”
“Pertanyaan konyol? Aku serius. Aku baru pertama kali kesini, ini membingungkan”
“Meril, jangan membuatku kesal, cepat ganti bajumu dan berhenti melontarkan pertanyaan-pertanyaan aneh, aku tunggu di luar, cepat!”
“Tunggu..tunggu! Ell”
Tapi Ell sudah hilang dari pandangan, tapi seketika terdengar lagi suara langkah kaki mendekat
“Satu lagi, berhenti memanggilku dengan sebutan itu, aku Lelya, putri kedua dari pasangan petani bunga terbaik di Edlothia, Varya dan Mire, dan kau, kau adalah kakakku yang hari ini tetiba menjadi orang yang aneh, sangat aneh!”. Dengan wajah cantik dan ketusnya ia kembali turun ke bawah dengan langkah yang lebih cepat.
Betul jadi dia adalah adikku, dan siapa? Namanya hanya Lelya? Nama orang tuaku Varya dan Mire? Bukankah nama ayahku Andarya Soedjono? Dan Ibuku Amira Widya?. Apa benar mereka orang tuaku? Ya Tuhan, aku harus cepat ganti baju sebelum adikku marah-marah lagi”
Aku melihat dia sedang melihat bunga di halaman.
“Aku sudah siap”
“Wah kau cantik Meril, tambahkan ini di kepalamu, kamu pasti akan lebih terlihat cantik”
Ia memberikanku mahkota yang terbuat dari kumpulan bunga baby breath merah muda. Adikku memang begitu, dibalik sikap ketusnya, ia tidak segan memujiku. Dia juga nampaknya sangat mengkhawatirkanku. 
“Ayo sekarang kita harus pergi ke Lometalf”
Di tengah perjalanan...
“Kalian baru akan berangkat ke Lometalf?”
Sosok laki-laki dengan alat panah di punggungnya muncul di depan kami
“Iya Delian, kau juga baru akan berangkat kesana?”
“Iya, aku terlambat karena harus ke hutan”
“Bagaimana dengan keadaan hutan?”
“Aku sudah menanam beberapa bibit pohon untuk menggantikan tiga pohon yang aku tebang”
“Siapa yang membutuhkan kayu sebanyak itu?”
“Keluarga Iorlass, mereka memiliki banyak anggota keluarga”
“Ah iya, mereka pasti membutuhkan banyak kayu bakar”
“Wah kalian cantik sekali memakai gaun dari Raja Acer”
“Benarkah? Tentu saja, ini bukan gaun sembarangan”
Kami bertiga berjalan beriringan, Lelaki yang bernama Delian, adikku, dan aku. Tapi nampaknya hanya mereka yang asyik mengobrol tentang banyak hal yang sama sekali aku tidak tahu. Aku jadi seperti nyamuk yang tak dianggap.
“Meril, kenapa dari tadi kau diam saja? Kau bahkan tidak menyapaku” laki-laki itu mendorong sedikit kepalanya ke depan dan melihat kearahku.
“Eh?”
Pantas saja aku merasa dia memperhatikanku, ternyata dia menyadari kalau aku tidak bicara sedikit pun dari tadi.
“Kau baik-baik saja kan Meril?”
“Emmm..”
“Entahlah, Meril bertingkah laku aneh setelah pergi ke hutan pagi tadi” adikku menimpali.
“Ke hutan? Untuk apa? Tapi kita tidak bertemu, padahal aku juga dari hutan”
Hening sejenak. Aku bingung, apa yang harus aku jawab.
“Saat aku bangun pagi tadi, Meril sudah tidak ada di tempat tidur, Aku pikir dia pergi melihat westeria di ladang bunga, tapi saat aku cari kesana tidak ada siapa-siapa. Barulah setelah aku mencarinya ke arah hutan aku menemukannya berdiri di dekat rumah keluarga Nier yang dekat dengan hutan, sebenarnya apa yang tadi kamu lakukan disana Meril?”
“Emmm.. aku hanya jalan-jalan saja, melihat pemandangan”, Iya aku pikir ini jawaban yang paling aman.
“Seharusnya kau bilang padaku Meril, kita kan bisa pergi bersama-sama, kau tidak boleh pergi jauh ke dalam hutan sendirian”
“ah..iya baiklah”
Laki-laki itu nampaknya dekat dengan aku dan adikku. Mungkin dia teman kami. Mungkin dia juga salah satu dari teman yang mawar itu maksud. Kami pun berhenti di sebuah lapangan yang penuh dengan orang-orang. Seperti layaknya pesta kebun yang biasa kulihat di dunia nyata.
“Hei lihat itu, keluarga Tiuca membawa banyak makanan, aku akan meminta kue feijoa pada Lar, kalian juga mau kan? Aku akan mengampiri mereka” adikku langsung melesat mengahampiri sebuah keluarga yang kesemuanya berbadan gempal dan meninggalkan kami berdua. Canggung, aku bahkan tidak berani melihat wajahnya. Sepanjang jalan tadi aku hanya melihat manusia yang berlalu lalang, tidak satu kali pun aku melihat bangsa hobbit atau dwarf. Adikku bilang ini sudah beratus-ratus tahun setelah Tahta Raja Aragorn, apa mungkin mereka sudah punah?.
“Apa di pesta ini ada hobbit dan dwarf?” rasa penasaranku akhirnya membuat aku memberanikan diri bertanya pada Delian
“Tidak Meril, ini kan hanya pesta untuk bangsa manusia”
‘Tapi mereka masih ada kan?”
“Tentu saja Meril, kenapa kamu bertanya hal aneh seperti itu?” ia menjawab dengan senyuman kecil
Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum kebingungan. Saat sesekali aku mencuri pandang, ia juga terlihat memandangiku dengan tatapan penasaran. Dia pasti berpikiran sama dengan Ell atas sikapku yang dianggap aneh. 
“Meril, darimana saja kamu?” 
Itu ibuku, terlihat ayah juga ada di sampingnya sambil mengobrol dengan seseorang. Pakaian yang mereka kenakan pun khas pakaian dari middle earth. Ah mereka sangat serasi, ayahku terlihat sangat tampan, dan ibuku juga sangat cantik. Mawar itu ternyata tidak berbohong padaku. Kulihat ibu yang tidak memalingkan sedikutpun tatapannya padaku saat aku mulai menghampirinya
"Jangan bilang kalau kamu pergi ke hutan sendirian Meril, kamu mungkin akan dilarang keluar rumah oleh ayahmu” Delian berbisik kepadaku. Aku pun menganggukkan kepala tanda mengerti.
“Akhirnya kau datang juga nak” kali ini ayah menyadari kebaradaanku
“Ah iya yah, bu, aku pergi berjalan-jalan tadi”
“Meril berjalan-jalan bersamaku Tuan Varya” Delian seperti mencoba membantu meyakinkan orang tuaku
“Ah begitu, lalu dimana Lelya?”
“Itu Lelya Tuan, sedang bersama keluarga Tiuca”
“Anak itu..dia pasti sedang mengganggu Lar dengan meminta kue feijoa” Ibu ternyata sudah tahu apa yang  biasa dilakukan adikku. Ini sama seperti di dunia nyata. 
“Baiklah sekarang nikmati makanan yang tersedia, jangan lupa bantu ibumu memanggang daging domba”
“Iya Ayah”
Di tengah kebinguganku aku berusaha untuk bersikap senatural mungkin, cukup adikku dan Delian saja yang merasa kalau aku menjadi orang yang aneh. Aku bukan Meril di dunia nyata, sekarang aku ada di zaman ke-empat middle earth.

Note :
Setelah perang cincin, Aragorn yang memegang tahta Raja Gondor lalu meyatukan kerajaan Gondor dan Arnor. Manusia, Hobbit, Kurcaci dan bangsa peri hidup dengan damai. Orc dan makhluk jahat lainnya yang berhasil melarikan diri tidak pernah terlihat lagi. Beratus-ratus tahun kemudian Kerajaan Gondor dan Arnor yang kini lebih dikenal dengan Kerajaan Arnor kini dipimpin oleh Raja Acer keturunan Raja Eliandor anak dari Raja Aragorn. Bangsa manusia di Bree mulai banyak mengalami perkembangan, Kemudian Bree pun terbagi menjadi dua bagian, Bree sebelah utara dinamakan Sindi karena banyak dialiri aliran sungai. Dan Bree bagian selatan diberi nama Edlothia karena banyak ditumbuhi berbagai macam bunga. Penduduk Edlothia mulai membangun rumah-rumah seperti rumah Hobbit namun dengan ukuran yang lebih besar karena menyesuaikan dengan ukuran tubuh mereka sebagai bangsa manusia. Mereka juga banyak belajar dari bangsa Hobbit tentang bagaimana mengurus tanaman bunga dan segala macam hal yang berhubungan dengan botani. Selama itu bangsa manusia dan bangsa Hobbit hidup berdampingan dengan damai”


Komentar

Postingan Populer