Rose of Edlothia; Chapter I (FanFic)


“Terinspirasi dari karya hebat  seorang penulis keren J.R.R Tolkien (The Lord of The Ring, The Hobbit) dan kisah gadis cantik pemberani (Alice in Wonderland). Kisah dan karakter yang ada dalam kisah ini hanya untuk hiburan semata. Sebagai penggemar cerita bertema fantasi petualangan saya hanya ingin membuat sebuah karya yang didasari dari kisah-kisah hebat yang sudah ada”


Langit malam ini tidak ramai oleh bintang-bintang, hanya terlihat tiga sampai empat bintang saja yang kulihat berkelap-kelip ke arahku. Sesekali terlihat awan berjalan karena terkena cahaya bulan. Aku rebahkan tubuhku di rumput hijau nan empuk, tercium aroma mawar di sebelah kananku. Tetiba hati dan pikiranku terperanjat dengan munculnya satu pertanyaan. “Apa yang sudah kau lakukan untuk mencapai tujuan hidupmu?”. Apalagi di usiaku yang hampir menginjak 30 tahun. Usia dimana seorang wanita lajang mulai ketar-ketir berpikir ini dan itu. Lalu aku kembali melihat langit yang kini lebih indah. Ada bintang-bintang lain yang tadi bersembunyi di balik awan. Setelah kuhitung, aku bisa melihat dengan jelas lebih dari sepuluh bintang yang berkilauan. Dan muncul lagi pertanyaan lain, “Apa yang akan kau lakukan sekarang?”.
Ya, setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda, mereka juga memiliki cara masing-masing dalam menjalani takdirnya, termasuk aku. Ada fase dimana aku merasa gagal dalam memilih cara yang tepat untuk menjalani takdirku. Aku merasa menjadi makhluk terlemah yang hanya mampu mengagumi indahnya bintang di langit. Jujur saja aku bukan tipikal orang yang berjibaku dengan target, akan melelahkan bagiku jika harus dengan berat hati memberikan tanda silang pada target yang tidak bisa kucapai. Aku akan mudah kalut dan tidak akan bisa dengan syahdu menikmati kerlip bintang di langit. Lalu aku akan merasa kesepian meski aku mendengar banyak suara gaduh di sekitarku. Sialnya aku juga penakut, tidak pernah sekalipun aku berpikir untuk memilih sesuatu yang akan membuatku menanggung resiko yang belum tentu aku bisa menghadapinya. Ah begitulah aku. Beruntungnya aku memiliki Ayah, Ibu dan adik yang selalu ada untukku dan aku pun sangat menyayangi mereka. Hal itulah yang membuatku semakin sulit untuk berkeluh kesah tentang kesulitan yang aku hadapi kepada orang-orang yang kusayangi, karena malah akan membuat mereka khawatir.
Sebentar, aku rasa ada yang sedang memanggilku.
“Meril...” katanya dengan nada lembut dan sedikit berbisik
Suara itu nampak berasal dari balik tanaman mawar yang sedang tumbuh dengan lebatnya. Aku memandanginya sejenak, bunga-bunga dan dedaunan nampak bergoyang terkena angin. Tapi suara itu tidak terdengar lagi. Apa mungkin itu suara samar ibuku dari dalam rumah? Tidak, aku yakin suara itu dari balik tanaman mawar itu. Ataukah hanya perasaanku saja karena terlalu banyak berpikir hari ini?
Mungkin betul ibuku memanggil dari dalam rumah, Ibu biasa memanggilku untuk makan malam jika aku terlalu asyik bersantai di halaman. Aku angkat tubuhku yang terasa berat dan sedikit lemas karena belum makan malam. Tapi...
“Meril...” suara itu datang lagi, masih dengan tekanan suara yang lembut , kali ini aku yakin bukan suara ibu dari dalam rumah.
“Siapa disitu?” sahutku dengan suara rendah, lalu aku fokuskan pikiranku sambil menatap tanaman mawar itu.
Selang beberapa detik tidak ada jawaban. Aku dekati tanaman mawar itu dengan merangkak perlahan karena belum sempat berdiri, aku takut tapi aku penasaran.
“Meril... ini aku” sebelum aku lebih dekat, suara itu datang lagi.
Kali aku aku terperanjat kaget, karena suara itu semakin jelas terdengar di telingaku. Aku mundur seketika dengan menyeret pantat dan tanganku beberapa kali. Aku menoleh ke arah rumah, dan rumahku terlihat baik-baik saja, ada siluet ayah, ibu, dan adikku di ruang tengah. Haruskan aku berteriak dan memanggil mereka saja? Atau apa yang harus aku lakukan?. Mataku kembali tertuju pada tanaman mawar itu. Tapi tidak ada yang aneh selain suara itu. Aku putuskan untuk tetap diam di tempatku karena rasa penasaran yang melebihi rasa takutku.
“Siapa? Siapa yang memanggil namaku? Apa kau hantu?”
“Ini aku, aku bukan hantu Meril” suara itu benar-benar semakin jelas terdengar.
Semakin kuteliti, tetap saja tak bisa kutemukan sosok yang memanggil namaku. Tapi aku benar-benar tidak percaya aku mendengar sesuatu yang tak berwujud.
“Lalu siapa kamu? dimana kamu sembunyi?” aku semakin penasaran meski tubuhku mulai terasa dingin dan bergetar.
“Aku tidak sembunyi, aku dari tadi disini menemanimu”
“Tolong jangan bercanda, siapa kamu sebenarnya?”
“Aku temanmu Meril, aku disini, mendekatlah...” suara itu semakin membuatku bingung.
Kukerahan semua keberanianku dan kembali medekati tanaman mawar itu.
“Kamu dimana? Aku tak bisa melihatmu”
“Hai Meril ini aku”
Aku tak bisa berpikir jernih, suara itu nampaknya memang berasal dari tanaman mawar itu, mawar itu berbicara padaku. Aku seperti patung yang terpaku, aku tidak percaya dengan apa yang aku alami.
“Apakah kamu bisa bicara bunga mawar? Benarkah itu suaramu?”
“Iya Meril ini memang aku”
Aku mulai mengumpulkan kesadaranku dan memberanikan diri untuk memecahkan rasa penasaranku.
“Kenapa kamu bisa bicara? dan kenapa kau tau namaku?, ini benar-benar aneh”
“Meril, aku temanmu, tentu saja aku mengenalmu”
“Tidak mungkin, kamu temanku?”
Aku mungkin sudah gila, kenapa aku tetap duduk disini dan berbicara pada suara yang muncul dari mawar ini?. Suatu hal yang mustahil bagiku, aku harus benar-benar mengembalikan kesadaranku. Aku mungkin terlalu lelah dengan pikiran-pikiran yang berlalu lalang di otakku akhir-akhir ini.
“Ya Meril, aku temanmu yang selalu menemanimu di halaman ini, kamu sering tersenyum jika melihat langit malam, terkadang kamu juga menangis, aku tahu Meril”
“Aku tidak gila kan? Kenapa baru kali ini kamu bicara padaku?”
Aku baru ingat aku membeli tanaman mawar ini kira-kira satu bulan setengah yang lalu. Saat itu belum ada yang berbunga. Bahkan daun-daunnya mulai mengering dan dimakan hama lebah. Tapi aku sempatkan untuk meyiramnya setiap hari, belum lagi karena mulainya musim hujan bulan ini. hingga akhirnya seminggu yang lalu mulai tumbuh kuncup bunga.
“Tentu tidak Meril, sebenarnya aku ingin menyapamu dari beberapa hari yang lalu, tapi saat itu aku belum benar-benar mekar”
“Apa hanya kamu yang bisa bicara? kenapa bunga mawar yang lain tidak bisa bicara seperti kamu?”
“Iya Meril, hanya aku temanmu, dan hanya kamu yang bisa mendengar dan bicara denganku”
“Tidak tidak, aku akan panggil orang tuaku, mungkin ini hanya khayalanku”
“Percuma saja Meril, mereka tidak akan percaya padamu, karena mereka tidak bisa mendengarku. Meril, mungkin selama ini kamu merasa kamu sendirian dan kesepian, kamu tidak tahu kalau punya beberapa teman yang selalu ada buatmu, salah satunya aku”
Mawar ini benar-benar bicara padaku, aku tidak gila, aku tidak berkhayal. Aku mulai meyakinkan diriku.
“Teman?”
“Iya, tapi mereka tidak disini Meril”
“Lalu dimana mereka?”
“Mereka ada di tempat dan p waktu yang lain”
“Dimana itu?”
“Tempat itu bernama Edlothia, di middle earth, kamu ingin kesana? Aku tahu caranya agar kamu bisa pergi kesana”
“Tunggu dulu, middle earth? Bukankah itu nama tempat dalam periode fiktif karya Tolkien?”
“Tidak Meril, itu bukan fiksi, middle earth benar-benar ada, dan kamu memang ada disana saat itu, kamu hidup bersama teman-temanmu di Edlothia”
“Tidak mungkin, itu periode fiksi! Aku tidak pernah hidup di masa itu, Edlothia? yang aku tahu disana hanya ada Shire, Gondor, Rivendell, Mordor, dan...”
“Meril...percayalah, aku temanmu mana mungkin aku berbohong kepadamu?”
“Siapa teman-temanku? Man? Hobbit? Elf? Dwarf? atau jangan-jangan Orc?”
“Meril, kamu punya beberapa teman diantara mereka, tentu tidak mungkin kamu berteman dengan Orc, mereka makhluk jahat”
Aku benar-benar bingung, semakin bertambah rasa penasaranku. Apakah cerita fiksi yang selama ini aku ketahui benar-benar nyata adanya? Tapi saat aku ingin bertanya hal lain padanya, tetiba tanaman mawar itu tumbuh semakin tinggi. Ada kilauan cahaya berwarna-warni yang mengitarinya. Mulutku sedikit ternganga dan kepalaku juga perlahan mendongak ke atas mengikuti pergerakan tanaman mawar yang menjalar membentuk sebuah mulut terowongan yang cukup besar. Aku setengah tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan mataku.
“Masuklah Meril, kamu akan bertemu dengan teman-temanmu di Edlothia, mereka pasti sedang menunggumu”
“Meril... makan dulu” tetiba Ibu memanggilku di depan pintu kemudian disusul Ayah
Aneh, ibu dan ayah ada di depan pintu tapi terlihat biasa saja. Apakah ibu dan ayah tidak melihat apa yang terjadi di halaman, kenapa mereka tidak menghampiriku? Bibirku kelu dan tak bisa mengatakan satu patah kata pun.
“Meril ayo masuk, keluargamu juga akan ada di Edlothia”
“Maksudmu Ayah, Ibu dan adikku ada disana?”
“Iya Meril, cepat Meril masuklah”
Aku, manusia yang kesepian yang penakut, haruskah menantang diriku sendiri untuk menguji keberanianku?. Mawar itu bilang aku punya beberapa teman yang menungguku. Aku mungkin akan menemukan pengalaman lain disana. Tapi apakah mereka benar-benar ada? Edlothia? Middle Earth?


Komentar

Postingan Populer