Fairy Project (Random)

Angin pagi menghembuskan dedaunan kering yang sesekali menabrak langkah kakiku. Pukul 10 memang waktu paling indah, dimana mentari mulai menghangatkan banyaknya pejalan kaki, termasuk aku. Seperti biasa, bebrapa orang yang meihatku akan tertegun lebih lama, bukan karena kecantikan atau pesonaku. Karena aku tidak sama dengan kebanyakan mereka. Tenang saja, aku manusia normal, yang membedakan aku dengan mereka adalah jilbab yang kupakai. Tentu saja, karena ini Korea, dimana penduduk muslim masih minoritas, akan tetapi mereka tetap ramah dan menyapa.  Mungkin karena laki-laki  disampingku, yang memegang erat tanganku. Kupandangi wajahnya yang berseri, menularkan ketenangan dalam hatiku. Kami muhrim, karena laki-laki yang sedari tadi kupandangi adalah suamiku. Ini tahun ketiga pernikahan kami, sekaligus tahun kedelapan sejak pertama kali kami bertemu di Indonesia. Imamku seorang mualaf, tapi kini justru dialah yang lebih banyak mengajariku tentang islam. Aku masih ingat janjinya saat lima tahun yang lalu, ia berkata akan membahagiakanku dan menjadi imam untukku. Tentu aku sangat yakin padanya, karena selama hampir lima tahun ia mempelajari islam dengan kesungguhan.
Sehari setelah menikah di Indonesia, kami pun langsung pergi ke Korea untuk mengurus segala prosedur pernikahan agar segera disahkan sesuai uu perkawinan di Korea. Aku juga harus mendapatkan visa dan tinggal selama lebih dua tahun disini agar bisa mengajukan izin tinggal tetap, dan tahun inilah aku bisa mulai mengajukannya. Cukup rumit memang, aku juga harus tinggal jauh dengan keluarga di Indonesia, namun setiap tahun kami pasti pulang ke Indonesia. Disini aku juga punya keluarga baru, seorang kakak dan adik ipar.kebetulan orang tua suamiku sudah meninggal dunia. Mereka sangat baik padaku, mereka juga mempunyai rasa toleransi yang tinggi. Kakak iparku seorang wanita, sehingga kami bisa selalu menghabiskan waktu bersama, Aku bekerja di butiknya sebagai designer, beliau juga seorang designer sehingga aku pun banyak belajar darinya. Kakak iparku selalu memerhatikanku. Aku senang karena aku sudah seperti adik kandung baginya, begitu pula dengan adik iparku. Tak jarang, pembicaraan tentang agama sulit dihindarkan, apalagi banyak berita yang memojokkan umat muslim, akan tetapi suami dan kedua iparku selalu ada di depanku, dan itulah yang membuatku merasa aman dan nyaman setiap waktu, karena diskirminasi bisa saja terjadi padaku meskipun awal pertama tinggal disini aku sudah mengikuti pendidikan bahasa korea dan pengenalan budaya agar mempermudah proses adaptasi, tentunya bantuan terbesar adalah dari suami dan iparku.
Aku juga akan menceritakan awal mula pertemuanku dengan suamiku di Indonesia. Delapan tahun yang lalu. Sosok lelaki berwajah oriental menungguku di salah satu restoran di Bandung.  sebelumnya aku sudah mendapatkan telepon dari sepupuku, Rafi. Dia bilang ada salah seorang temannya asal korea yang ingin mempelajari tentang Islam, Rafi memintaku untuk membantunya karena temannya itu tidak fasih berbahasa Inggris, sehingga Rafi sulit membantunya. Sebenarnya aku tak fasih bahasa korea, namun setahun sebelumnya aku mengikuti ujian beasiswa ke korea dan mempelajari bahasanya, namun aku tak lolos. Awalnmya aku keberatan karena aku juga masih harus banyak belajar. Namun Rafi bilang agar kita bisa sama-sama belajar, sehingga aku pun bersedia. Dari hatiku yang paling dalam aku merasa sangan senang, ada seorang non-muslim yang tertarik mempelajari Islam. Mungkin aku juga bisa ikut belajar memperdalam tentang ilmu agamaku.
Awal bertemu kami memang merasa canggung, pembendaharan bahasa inggris dan korea yang aku punya juga tidak begitu baik, begitu pula dengannya, terkadang kami mencamprukan bahasa inggris, korea, dan tentunya bahasa isyarat. Namun seiring berjalannya waktu, semuanya berjalan dengan sangat baik. Ia murah senyum dan sangat mudah beradaptasi sehingga rasa canggung pun semakin hilang dan memudahkan kami untuk lebih akrab berkomunikasi, dan ia sangat serius mempelajari Islam, baik secara otodidak maupun yang kami diskusikan bersama. Namanya Park Woo Hyun, dia seorang mahasiswa pertukaran dari Korea Selatan, ia mengambil jurusan Seni dan Budaya. Menurutya selama hampir delapan bulan tinggal di Indonesia ia begitu banyak bertemu dengan banyak orang Indonesia yang beragama muslim, dan ia mulai tertarik mempelajari  Islam lebih dalam saat ia memerhatikan Rafi berpuasa saat bulan Ramadhan bulan lalu, Woo Hyun juga ikut merayakan Idul Fitri di rumah Rafi, karena saat libur menjelang Idul Fitri, Woo Hyun tak ada teman di Asrama Kampus, sehingga Rafi mengajak Woo Hyun untuk tinggal di rumahnya. Saat pertemuan keluarga Woo Hyun tak ikut ke rumah Nenek kami. Sehingga kami tak sempat bertemu, Rafi hanya menceritakan sedikit padaku, bahwa ada temannnya yang berasal dari Korea di Rumah.
Ia begitu kagum dengan agama Islam. Ia pun Rafi untuk mengenalkan Islam lebih dalam padanya,  dan akhirnya Rafi lah yang menjadi perantara Allah mempertemukan kami. Semuanya memang tak pernah disangka. Berjalan sesuai dengan kehendakNya.
Sudah  sebulan kami menjalin pertemanan, dan yang menyatukan kami adalah Islam. Karena setiap bertemu, hampir 90% hal yang kami bahas hanyalah tentang Islam. Woo Hyun tak tahu bahwa aku lima tahun lebih tua darinya, Woo Hyun pikir kami sebaya. Ia baru tahu ketika aku bilang aku sedang mempersiapkan tesisku. Ia terlihat sangat kaget. Ternyata Rafi juga tak memberitahunya. Aku dan Rafi memang berbeda kampus.
“Aku tak tahu kalau kau lebih tua dariku, karena Rafi hanya memanggil namamu, seharusnya aku memanggilmu Noona (kakak perempuan dari adik laki-laki)”
“Ah tak apa, di sini tak masalah, kita sudah nyaman memanggil nama satu sama lain bukan?”
“Iya, baiklah kalau begitu, lagipula kau terlihat sebaya dengaku, sama sekali aku tak berpikir usiamu lebih tua dariku”
Kami pun tertawa kecil bersama.


Aku tak pernah membayangkan Woo Hyun akan mengatakan hal itu, kami begitu banyak perbedaan, meski ia sudh menjadi seorang mualaf, kami masih mempunya banyak perbedaan, usia, budaya, dan negara. Tentu bukanlah hal yang mudah. Meski Ayah dan Ibu sudah mengenal Woo Hyun dengan baik, dan kakak Woo Hyun sudah memberikan restunya aku masih belum bisa menjawabnya. Sebagai seorang muslim aku wajib menikahi muslim, dan sebaik-baiknya imam adalah imam yang bisa membimbing makmumnya. Aku tak bermaksud merendahkan Woo Hyun tapi hatiku benar-benar bimbang. Woo Hyun orang yang sangat baik, aku juga mengaguminya, atas semua usahanya mempelajari Islam seluruh hatinya hingga menjadi mualaf. Woo Hyun bilang ia akan kembali setahun lagi, ia akan mempelajari Islam lebih dalam lagi di Korea, ia berjanji akan berusaha sebaik mungkin menguasai tata cara shalat dan membaaca Al-Quran. Ia pun berjanji saat kembali nanti ia akan menjadi laki-laki mapan dan menjadi Imam yang baik untukku. Dan ia memintaku menunggunya.
Setiap bulan ia memberi kabar padaku, tentang apa saja yang sudah ia pelajari dan ia kuasai. Namun belum genap setahun, tepatnya bulan ke delapan, ia bilang padaku agar tak usah menunggunya. Ia bilang jika aku sudah menemukan seseorang yang siap menikahiku, ia tak akan melarangnya. Dia bilang selama ini tujuannya salah, ia mempelajari Islam karena cintanya padaku, setelah apa yang ia pelajari di Korea bahwa cinta yang hakiki adalah cinta kepada Allah. Dia bilang Allah yang menentukan jodoh setiap umatnya, ia bilang ia akan tetap kembali ke Indonesia.
“Aku akan tetap kembali ke Indonesia, dan aku tetap akan kembali untukmu Anna, tapi tujuannya bisa berbeda, jika kita berjodoh maka aku akan kembali untuk menikahimu, tapi jika kita tak berjodoh mungkin aku akan kembali untuk menghadiri pernikahanmu dengan orang lain, atau jika tidak keduanya aku juga akan tetap kembali untukmu, aku akan mengucapkan terimakasih atas semua yang telah kita lalui bersama, begitu juga Rafi, kalian berdua sangat berarti bagiku”
Setelah mendengar ucapannya, entah apa yang terjadi padaku, tak ada keraguan sedikitpun dalam hatiku. Bahkan dalam istikharaku pun semakin meyakini bahwa ia adalah jodohku, tapi aku tak mau takabur, seperti katanya, jika kita berjodoh maka Allah akan memepertemukan kita dalam sebuah pernikahan. Dan mulai saat itu aku tetap menunggu jawaban-Nya.


Komentar

Postingan Populer