Rose of Edlothia; Chapter IV (FanFic)


Perjalanan ke Shire membuatku tak berhenti mengagumi indahnya pemandangan, aku melihat air terjun, sungai yang jernih, ladang sayuran, pepohonan rindang, bunga-bunga yang beragam dan sesekali aku melihat binatang-binatang kecil seperti tupai yang loncat kesana kemari. Ayah, Ibu dan Lelya entah sedang membicarakan apa, aku tidak terlalu fokus lagi “mencuri’ informasi karena lebih tertarik melihat pemandangan yang kami lewati. Sesekali kami berhenti untuk istirahat. Warna langit sudah mulai berubah jingga, setelah hampir setengah hari perjalanan, kami pun sampai ke Shire, dan benar saja ini seperti Shire yang aku tahu, disini rumah-rumah Hobbit benar-benar nyata. Lebih mungil dar rumah-rumah yang ada d Edlothia. Dan ya, aku melihat beberapa Hobbit di halaman rumah mereka. Ah akhirnya aku bisa melihat mereka. Mereka mungil dengan kaki yang sedikit berbulu. Aku bahagia sekali, sampai-sampai pandanganku tak bisa lepas dari mereka.
“Hello Tuan Varya, Nyonya Mire, Meril, Lelya” salah satu Hobbit menyapa kami satu per satu
“Hello Tuan Wort, semoga harimu indah ” Ayah membalas sapanya dan kami pun tersenyum
Ternyata beberapa diantara mereka ada yang mengenal kami. Mungkin karena kami sering kesini. Tak berapa lama, kami pun berhenti di depan rumah Hobbit dengan pintu berwarna biru.
“Tuan Gell...kami datang” Ayah berteriak dengan memasang wajah gembira
“Lodhi...ini kami” kini giliran Lelya yang berteriak
Akhirnya pintu pun terbuka
“Hello keluarga Varya sahabatku” Hobbit dengan usia yang nampak cukup tua namun mesih bisa menyapa dengan suara yang lantang. Mungkin itu yang namanya Tuan Gell. Lalu muncul lagi Hobbit yang usianya mungkin sama denganku.
“Hello keluarga Varya, aku senang kembali bertemu dengan kalian. Dia pasti Hobbit bernama Lodhi.
 Hobbit memang rata-rata berambut ikal, tapi berbeda dengan keluarga Hobbit yang satu ini, rambutnya terlihat lebih lurus dengan warna cokelat emas.
“Oh Gell sahabatku” Ayah lalu memeluk erat Tuan Gell
“Lihat apa yang kami bawa Gell, makanan kesukaanmu, jamur truffle dengan saus daun basil, kami juga membawa iga domba panggang kesukaan Lodhi” Ibu memperlihatkan masakan yang khusus dibuat untuk Tuan Gell.
Tuan Gell mungkin adalah salah satu bangsa Hobbit yang bersahabat dengan Ayah
“Oooh...terimakasih Nyonya Mire, masakanmu selalu membuat kami bahagia” ujar Tuan Gell
“Ayo masuk” Lodhi menggandeng tangan Lelya dan tanganku
Kami pun masuk ke rumah Tuan Gell, kami harus sedikit menundukkuan kepala saat melewati pintu bulat yang terbuat dari kayu pohon Oak. Kami langsung menuju ruang makan. Tuan Gell dan Lodhi tampak sangat menikmati masakan Ibu. Kami juga ikut makan walaupun hanya mengambil sedikit. Ayah, Ibu dan Tuan Gell berbincang sembari bertukar kabar tentang keadaan di Shire dan Edlothia. Aku, Lelya dan Lodhi pun sama, meski aku lebh banyak diam, aku berusaha sesekali masuk dalam obrolan sembari berhati-hati agar tidak salah bicara. Acara makan-makan pun selesai, kami pun melanjutkan perbincangan. Para orang tua berbincang di dalam sedangkan kami berada di luar sambil melihat tanaman di halaman rumah Tuan Gell.
“Lodhi, apakah ini bunga Fucia?, bunga ini sangat unik, tidak banyak yang memilikinya, harganya pun mahal jika dijual, orang-orang di Istana pasti akan membayar mahal”
“Iya Lelya ini bunga Fucia, kami mendapatkannya secara tidak sengaja saat melakukan perjalanan di hutan utara beberapa hari yang lalu, tapi karena bunga ini cukup langka, aku dan Kakek tidak akan pernah menjualnya”
Jadi Lodhi adalah cucu dari Tuan Gell, pantas saja usia mereka cukup berbeda jauh. Hari ini temanku bertambah lagi. Mungkin Lodhi adalah teman yang disebut oleh bunga mawar itu. Saat ini aku punya dua teman baru, Delian dan Lodhi. Mereka juga terlihat sangat baik.
“Lalu apakah hanya kamu dan Tuan Gell yang memiliki bunga ini?” Aku mencoba masuk ke obrolan
“Iya Meril, saat ini hanya kami yang memilikinya, Kakek bilang bunga ini akan dibudidayakan terlebih dahulu, jika berhasil kami akan memberitahukannya kepada para tetangga untuk ikut menanamnya”
Tidak lama, hujan pun turun. Suasana malam dengan hujan yang indah sungguh sangat sempurna, matahari terbenam disini nampaknya lebih lama daripada di dunia nyata. Sehingga meski malam sudah tiba aku masih bisa melihat pemandangan yang indah dikala hujan.
Aku akan membuat salad yang enak untuk kalian sebagai pencuci mulut, jadi sekarang istirahatlah” ujar Tuan Gell
“Ide yang bagus Gell, kami akan menunggu disini” kata Ayah
“Tidak perlu bantuan Gell?” Ibu menawarkan bantuan memasak
“Tidak..tidak..istirahatlah saja Mire, kalian pasti lelah melakukan perjalanan dari Edlothia ke Shire”
Tuan Gell langsung pergi menuju dapur. Tuan Gell pasti pintar memasak, karena dia begitu yakin menolak bantuan Ibu, Aku melihat hujan yang indah dari jendela kamar Lodhi, dan Lelya nampaknya sudah tertidur pulas. Beberapa tetesan air hujan terkadang mengenai wajahku. Hujan di Shire memang sungguh indah, selain itu aku juga melihat pemandangan rerumputan yang luas di sebelah kiri bawah rumah Tuan Gell, panaorama Shire memang sungguh mengagumkan, namun perlahan malam yang gelap menutupi keindahan itu.
“Kau masih suka melihat hujan Meril” tetiba Lodhi sudah ada di sampingku
“Iya Lodhi hujan ini sangat indah”
“Kau ingat Meril, dulu kita sering bermain di tengah hujan. Saat itu usiamu sekitar 10 tahun dan aku masih 20 tahun”
Usia Hobbit memang berbeda dengan usia manusia, usia anak-anak bangsa Hibbit adalah saat mereka menginjak umur 20 tahun, sehingga saat usia 30 tahun mereka  baru menginjak fase remaja, dan seterusnya. Tapi aku sama sekali tidak mengingat masa kecilku disini, aku harus pura-pura mengingatnya.
“Ah iya Lodhi, saat itu sungguh menyenangkan”
Aku pun dengan seksama mendengar Lodhi berbicara, ia bercerita banyak hal. Dan ini adalah kesempatanku untuk mengenalnya lebih jauh. Lodhi juga ternyata mengenal Delian, Ia juga menyebut nama bangsa manusia lain bernama Dirhael, tapi aku belum pernah bertemu dengannya. Siapa Dirhael? Sepertinya Lelya dan Delian juga belum pernah menyebutkan nama itu. Selain itu dari cerita yang aku dengar ada juga teman hobbit lain yang kini sedang melakukan perjalanan di hutan Selatan, namanya Karlgise. Ia seorang hobbit wanita dengan jiwa petualang yang tinggi.
Bangsa Hobbit pada dasarnya tidak suka berpetualang, akan tetapi Lodhi dan Karlgise mungkin berbeda dengan bangsa Hobbit lain yang lebih suka tinggal di rumah dan hanya mengisi kegiatan sehari-hari dengan makan dan bekebun. Lodhi pun bercerita kalau mereka lebih suka berteman dengan bangsa manusia yang menyuakai petualangan. Maka dari itu Lodhi dan Karlgise lebih menyukai berteman denganku, Lelya, Delian, dan Dirhael ketimbang dengan teman-teman Hobbitnya. Lodhi juga menyebutkan dua nama bangsa Kurcaci, mereka adalah Roli dan Nuth. Rupanya kami bersahabat dan sering mengunjungi satu sama lain. Ternyata benar kata Mawar itu, aku memiliki banyak teman disini. Aku tidak sabar untuk segera bertemu teman-temanku yang lain.
Lodhi pun kembali bercerita tentang masa-masa dulu. Ternyata Lodhi pernah menolongku saat aku hampir tenggelam di sungai. Lodhi juga bercerita kalau kami bermain dan menginap di istana jika sedang musim dingin tiba. Aku pun bertanya-tanya, apakah tidak apa-apa jika orang biasa dan makhluk bukan dari bangsa manusia mengunjungi istana hanya untuk menginap dan bermain? Kalau aku tanyakan pasti Lodhi pasti dia akan bingung. Ya sudah aku simpan saja dulu rasa penasaranku. Cerita Lodhi pun segera berakhir setelah mendengar suara lantang Tuan Gell yang menyuruh kami untuk segera menuju ruang makan.
Tuan Gell nampaknya sudah selesai memasak dan kami pun kembali ke ruang makan untuk makan malam. Benar saja salad sayur dan buah yang Tuan Gell buat sangat enak. Berbeda dengan salad di dunia nyata yang terbuat dari mayonaise, rasa salad yang dibuat Tuan Gell cukup ringan, mungkin hanya menggunakan minyak zaitun dengan rempah-rempah di zaman Middle Earth.
Karena kenyang dan hujan masih belum reda, kami semua pun tidur, Kami juga harus kembali ke Edlothia esok pagi, karena kami meminjam kereta kuda Tuan Thalion.
Hari sudah berganti, kami pun bersiap-siap untuk kembali ke Edlothia, Kami pun saling berpelukan dan pamit untuk pulang.
“Lain kali kami akan mengunjungi Edlothia” ujar Tuan Gell dengan senyum yang lebar dan mata yang sedikit berkaca.
“Baiklah sabahatku, aku akan menunggumu. Terimakasih atas jamuannya” Ayah dengan berat melepas pelukan Tuan Gell
“Lodhi, kami pulang dulu ya, nanti kalau kalian mengunjungi Edlothia ajak juga Karlgise”
“Baiklah Meril, sampai jumpa”
“Sampai jumpa...”
Kami pun pulang dengan rasa gembira yang menyelimuti hati kami, perjalanan pulang tidak terasa terlalu lama meskipun tanah tampak becek, kuda Tuan Thalion masih lincah melewati rintangan jalan yang terlihat licin, saat pulang kami hanya beristirahat satu kali dan langsung melanjtkan perjalanan. Setelah sampai di Edlothia, Ayah segera mengembalikan kereta kuda Tuan Thalion dan kami pun berisitirahat di rumah. Cuaca Edlothia tidak secerah biasanya, ada awan mendung yang menggantun seperti kemarin petang. Di kamar, aku bertanya kepada Lelya tentang rasa penasaranku tentang mengapa kita bisa bermain dan menginap di Istana. Aku memancing Lelya dengan cerita musim dingin
“Musim dingin nanti apakah kita akan kembali bermain di Istana Lelya?”
“Tentu saja, tapi sayang musim dingin masih lama, saat aku ikut Ayah ke Istana untuk menjual bunga beberapa hari yang lalu aku ingin bermain lebih lama disana. Tapi ayah sudah menyuruhku pulang”
“Tapi Raja Acer sungguh baik ya, kita bisa menginap dan bermain di Istana, Raja Acer juga sering memberi kita banyak hadiah kan?”
“Tentu saja Meril, tidak ada Raja sebaik Raja Acer”
“Bagaimana kalu kita mengunjungi istana esok hari?”
“Untuk apa? Ini kan bukan musim dingin, tidak lama lagi mungkin Dirhael mengunjungi kita”
Dirhael? Kenapa Lelya baru menyebutkan nama itu? Ini pertama kalinya aku mendengar nama Dirhael dari Lelya. Bahkan aku lebih tahu lebih dulu dari Lodhi. Apa hubungan Dirhael dengan Istana?
“Lelya, dengarkan aku, semenjak aku tersesat di hutan aku jadi sulit untuk tidur, padahal aku ingin sekali beristirahat dan segera tidur, bisakah kamu bercerita saat kita bermain di istana? Agar aku bisa cepat tidur saat mendengar ceritamu” aku mencari alasan agar Lelya mau bercerita tanpa harus menaruh rasa curiga
“Kau seperti anak kecil saja Meril, baiklah kalau begitu,”
“Terimakasih Lelya” Aku bersiap untuk merebahkan badanku di tempat tidur
“Di Istana kita bisa bermain apa saja, disana juga banyak makanan, kau ingat saat kita bermain boneka salju? Boneka salju buatan kita selalu menjadi boneka salju yang paling disukai Raja Acer, sedangkan boneka salju buatan Delian selalu menjadi yang paling buruk, boneka salju buatan Lodhi dan Karlgise juga tidak kalah buruknya, Roli dan Nuth tidak pernah berpartisipasi karena tahu pasti akan kalah dari kita, hahaha”
“Pantas saja boneka salju Delian tidak bagus, dia kan membuatnya sendiri”
“Iya begitulah, andai saja Dirhael tidak sakit saat musim dingin tentu ia akan ikut bermain boneka salju dan membantu Delian, saat terlalu lama terkena salju di luar Dirhael pasti terlihat cemas dan ketakutan, Raja Acer pasti sangat menyayanginya, sebagai anak satu-satunya Dirhael harus tetap sehat dan meneruskan tahta ayahnya kan Meril?”
“Hmm iya Lelya...”
 “Tapi hal yang paling aku sukai saat menginap di istana adalah saat kita berbincang di depan perapian yang hangat, para hobbit dan kurcaci sibuk makan, sedangkan kita bercerita bagaimana saat awal kita semua bertemu di pesta bunga yang diadakan Istana, entahlah kenapa kita bisa jadi seakrab sekarang ini”
Dari cerita Lelya, aku tahu siapa Dirhael, ternyata Dirhael adalah putra dari Raja Acer, dan nampaknya Dirhael memiliki fobia saat musim dingin. Hal itu mungkin menjadi alasan mengapa kami bisa menginap dan bermain di istana saat musim dingin sekaligus untuk menemani Dirhael, karena saat musim dingin Dirhael tidak bisa keluar dari istana karena fobia yang ia miliki, di satu sisi aku tidak menyangka jika salah satu sahabatku adalah putra dari seorang Raja Arnor, di sisi lain aku juga merasa kasihan pada Dirhael, andai saja ia bisa mengatasi fobianya, mungkin dia bisa keluar istana saat musim dingin. Aku juga ingin sekali bertemu dengannya, seperti apa rasanya bersahabat dengan putra seorang Raja. Cerita dari Lelya pun membuatku semakin mengantuk, Lelya juga nampak lelah, meski matanya tertutup, bibirnya masih berusaha untuk bergerak. Akhirnya kami pun terlelap tidur.

...

“Hari berganti hari, aku pun semakin terbiasa tinggal di Edlothia, menyenangkan sekaligus membuat penasaran. Setiap hari aku pergi ke ladang bunga membantu Ayah dan Lelya. Setelah itu membantu ibu memasak, sedangkan Lelya dan Ayah mengurus ladang bunga yang lain. Delian sesekali mengajakku dan Lelya ke hutan mencari kayu. Kehidupan yang sederhana namun sangat bermakna. Kali ini awan kembali mendung tapi tidak tidak turun hujan, hawanya pun terasa lebih panas meskipun langit cukup gelap. Tidak seperti biasanya hawa di Edlothia seperti ini. Aku dan Ayah mengamati cuaca di halam rumah.
“Ayah kenapa cuaca begitu panas meski awan mendung?”
“Iya ayah juga tidak tahu, kenapa cuaca begitu terasa panas, padahal seperti akan turun hujan”
Tetiba dari kejauhan aku melihat Lodhi dan seorang hobbit wanita. Itu mungkin Karlgise.
“Tuan Varya..” Lodhi berteriak memanggil nama Ayah, ia nampak tergesa-gesa
“Lodhi? Karlgise?” Ayah pun kaget akan kedatangan mereka
Iya betul itu Lodhi dan Karlgise, tapi kenapa meraka hanya berdua? Kemana Tual Gell? Bukankah mereka berjanji akan mengunjungi kita?
“Tuan Varya, Gunung Taru meletus, bahkan sedikit abunya sudah sampai ke Shire dan beberapa hari lagi mungkin akan sampai ke sini”
“Apa? Benarkah?”
“Iya Tuan Varya, aku melakukan perjalanan bersama pamanku dan hutan selatan sudah mulai ditutupi abu. Kami pun segera kembali namun nampaknya abu sudah sampai ke Shire”
“Ini bahaya, alam akan rusak jika Gunung Taru tidak berhenti meletus”
Ibu dan Lelya pun keluar rumah karena mendengar keributan di luar. Begitupun dengan keluarga Tuan Thalion dan beberapa tetangga yang lain.
“Benarkah Gunung Taru meletus? Sudah beratus-ratus tahun gunung itu diam, kenapa tetiba meletus? Menurut sejarah, Gunung Taru adalah dunung terbesar dengan letusan abu yang bisa mencapai ratusan kilometer, itu akan sangat berbahaya bagi mahkuk hidup disekitarnya”
“Kami juga tidak tahu Tuan Thalion” kata Lodhi
Lodhi dan Karlgise nampak ingin berkata sesuatu, tapi mereka terlihat ragu-ragu. Ayah yang juga merasakan gelagat itu mencoba bertanya pada mereka
“Ada apa? Ada hal lain yang ingin kalian sampaikan?”
“Tuan Varya sebenarnya kita tidak hanya terancam akan kerusakan alam saja” Lodhi pun akhirnya berbicara
“ Sebenarnya Karlgise dan pamannya melihat bangsa Orc di hutan Selatan”
“Apa? Orc? Bukankah mereka sudah punah dan tak pernah terlihat?”
“Benar Tuan Varya, sebagian bangsa Orc memang punah, tapi ada beberapa yang berhasil melarikan diri, nampaknya mereka bersembunyi dan berkembang di kaki gunung Taru. Saat Gunung Taru meletus mereka pasti akan mencari tempat berlindung lain, aku dan pamanku melihat beberapa Orc sedang memakan rusa di hutan Selatan, karena takut kami pun hanya bisa memperhatikan mereka dan langsung kembali, kami memang baru pertama kali melihat makhluk itu, tapi paman dan aku yakin kalau makhluk-makhluk itu bangsa Orc, bentuk mereka sangat mirip dengan makhluk Orc yang ada di buku catatan leluhur kami,  mereka sangat meyeramkan”
“Selama ini mereka nyaman tinggal di kaki gunung Taru, tapi karena lahar panas membuat gua-gua mereka hancur, mereka mencari tempat lain, kami takut mereka akan sampai ke Shire” ujar Lodhi
“Tidak mungkin, mereka tidak suka keindahan, mereka kan mencari tempat yang gelap”
“Itu betul Lelya, tapi saat ini gunung Taru tidak berhenti mengeluarkan letusan dan lahar, abu dari letusan gunung Taru lambat laun akan membuat keindahan Shire, Edlothia dan Sindi menjadi kegelapan”
“Kita harus bertemu dengan Raja Acer, abu gunung Taru nampaknya belum sampai ke Istana, kita harus segera memberitahu Istana. Aku dan Delian akan ke istana bersama Lodhi dan Karlgise untuk menyampaikan berita ini kepada Raja Acer, Varya, kau harus berada disini untuk mengawasi situasi di Edlohtia dan Sindi” Tuan Thalion juga nampak sangat khawatir.
“Baiklah aku akan mengawasi Edlothia dan Sindi”
“Tuan Gell sedang mengawasi keadaan di Shire bukan Lodhi?”
“Iya Tuan Thalion, kakekku sedang mengawasi keadaan di sana”
Kami semua panik, dan inilah saat pertamaku dihadapkan dalam situasi yang nampak sangat sulit dan menyeramkan. Setelah aku dimanjakan dengan segala hal yang menyenangkan, akhirnya aku sampai di sebuah situasi menegangkan yang belum pernah aku alami sebelumnya. Gunung meletus yang mengancam kelangsungan kehidupan di Shire, Edlothia dan Sindi. Begitupula dengan kekhawatiran kembalinya bangsa Orc yang dianggap sudah punah dan menghilang beratus-ratus tahun lalu.

Komentar

Postingan Populer