Story of Season (random)
Sore
ini aku melihat langit ramai oleh layang-layang. Lagi-lagi aku lakukan ini. Di
lantai empat gedung ini. Gedung Sekolah Dasar ku dahulu. Aku melihat ke sebuah tempat yang kau bilang akan menjadi tempat tinggalmu, sampai
saat ini aku masih mencari jalan untuk dapat kesana, walau
aku tahu sebentar lagi kita mungkin
akan bertemu.
Aku teringat saat kau
akan meninggalkanku,
kau ajak aku ke lantai empat ini, kau tunjukkan dimana tempat barumu nanti. Meski aku tahu kau bisa
saja salah. Namun saat kau yakinkan aku, aku pun percaya padamu.
Beberapa
gumpal awan kecil menggantung di langit yang menudung bumi. Di hamparan sebelah
kanan aku lihat langit dua warna, warnanya begitu indah, jingga bercahaya dan
abu kebiruan. Dan di tempatmu yang masih aku kira-kira, di hamparan sebelah
kiri, suasana tampak sendu dengan
awan biru muda. Dan perlahan air mataku pun jatuh menimpa kulit pipiku. Entah
kenapa muncul rasa tak ingin bertemu denganmu,
mungkin karena aku terlalu naif.
Selama
14 tahun ini kita memang seperti asing, waktu pun kehilangan jejak
kita, sehingga tak ada tempat untuk kita menulis cerita. Namun tiga minggu yang
lalu, saat waktu kembali menemukan kita, lewat sebuah percakapan singkat
telepon seluler, aku seakan tak percaya kau masih ada. Kau bilang kita harus
bertemu, dan aku yang masih merasakan
ketidakpercayaan ini rasanya ingin menyerah saja. Aku tak menyangka hanya
karena sebuah lagu kau bisa mengenaliku.
Lagu
yang dulu sering kita nyanyikan bersama, di bawah pohon rindang sekolah kita.
Kokoronotomo lagu yang dinyanyikan
oleh seorang penyanyi Jepang. Mayumi Kojima. Aku tahu kau tak akan
melupakannya, begitu juga aku. Saat umur kita masih tujuh tahun rasanya
sungguh hebat kita hapal lagu asing ini. Namun mungkin tidak terlalu hebat
bagimu, karena karena kau memang punya darah Jepang. Aku ingat saat kau pertama
masuk di kelasku dan memperkenalkan dirimu. Haruma Miura, nama yang baru sekali
aku dengar, aneh dan lucu.
Di
sebuah tempat yang dahulu kerap kita sambangi selagi belum seperti sekarang.
Mungkin kau akan datang dengan sepedamu dengan gendongan tas gitar dan ransel
hitam milikmu. Mungkin juga kau kenakan sepatu putih tak bertali. Aku selalu
ingat jikalau kau tak suka tali. Bahkan dulu saat kita masih berseragam putih
merah, kau selalu menyuruhku untuk tidak mengikat rambutku. Padahal aku suka
sekali ikatan ibu. Tapi kau selalu memintaku untuk membukanya.
Masa
itu kembali terkenang kala aku mengingat akan bertemu denganmu. Dan entahlah
apakah engkau akan mengingat aku?. Kau tahu pertemuan kala itu teramat singkat.
Satu tahun saja. Tapi entah mengapa aku dan kau bisa seakrab
itu, mungkin karena kita kanak-kanak. Rasanya tidaklah adil jika pertemuan kita
yang setahun itu harus terhenti dengan perpisahan selama 14 tahun ini. Kau
harusnya ingat saat kau bilang. Kau kan pergi bersama orang tuamu ke tempat
yang kau suka. Dengan sombongnya kau meninggalkanku. Aku ingin katakana
sekarang. Jikalau saja kau tahu, saat aku membalikkan badanku, aku bukannya tak
peduli padamu, aku hanya tak bisa menahan air mataku. Namun aku tak mau kau
tahu.
Kau
suka gitar, kau bilang kau ingin menjadi sorang gitaris terkenal. Sambil
membawa ranting pohon yang kau pegang layaknya gitar. Kau nyanyikan lagu
kesukaanku. Dulu kau selalu menggodaku, Kau bilang aku boleh naik sepedamu jika
aku tidak mengikat rambutku, kau memperhatikan cara jalanku. Kau sengaja
mendahuluiku dengan sepedamu jika aku menolak membuka ikat rambutku. Kau pun
tak mau memboncengku ke sekolah. Namun
diam-diam, setelah kau berada jauh di depanku, kau pun memutar jalan dan
kembali mengikutiku. Dan memperhatikan aku dari jauh..
Seikat
bunga mawar kau bawa padaku. Dengan sedikit memaksa seperti kebiasaanmu. Kau
memintaku membuat pudding mangga kesukaanmu. Sengaja kau pilih yayasan ku
sebagai tempat yang sudah kau persiapkan untukku membuat pudding. Kau undang
anak-anak disana dan kau pun beralasan,
kau bilang anak-anak lah yang memintaku
membuat pudding. Aku sudah tahu benar tentang kau. Padahal aku lelah. Tapi
lagi-lagi aku menyerah, aku tak bisa menolakmu.
Sebelumnya
kau memintaku datang ke tempat itu, tempat pertama kita bertemu, tempat yang
kita tunjuk sebagai tempat pertemuan kita
untuk berangkat sekolah bersama dan tempat yang kita pilih untuk bertemu
setelah 14 tahun lamanya. Hari ini Nampak berbeda, aku pun seperti tak biasa
seperti biasanya, kurasakan ada beban yang mengikutiku sejak keberangkatanku
dari rumah tadi, setelah ku putuskan untuk mengungkapkan semua yang kurasa
namun sesaat aku ragu untuk melakuan itu. Bahkan aku ingin berbalik dan
berlari. Namun ku urungkan, ketika melihatmu tengah menungguku di kursi taman
itu. Kulihat kau dari dibalik pohon, sesekali kau perhatikan jam tanganmu. Aku
pun langkahkan kakiku yang tersa berat ini. Belum saja aku sampai, kau langsung
menghampiriku,, “dari mana saja, aku punya kejutan untuk mu” kau pun
mendorongku ke tempat yang kau bilang kejutan itu. Sepanjang perjalanan tak
henti-hentinya kau berbicara, entah apa yang kau bicarakan, tiba-tiba semua
konsentrasiku hilang. Terasa tak karuan.
Hari
itu saat kita sedang menikmati indahnya pgi bersama anak-anak panti, aku
melihat dia dengan seseorang. Nampaknya laki-laki itu begitu dekat dengannya.
Disitu batinku bergejolak, bagaimana bisa?. Bagaimana jika Iu melihatnya?. Aku
pun tanpa sadar mencoba memalingkan pandangan Iu. Aku paksa dia melihatku. Aku
igin mengalihkan perhatian Iu
dari ketidakpercayaan ini. Aku pura-pura merasa sakit sehingga Iu bisa lebih
fokus padaku. Syukurlah Iu tidak sempat meilihatnya. Meski begitu aku pun takut
Iu merasa aneh tetag gerak-geriku. Akhirnya kita pun pulang karena Iu merasa
khawatir akan keadaanku.
Pagi
itu dengan sepeda kesayangannya iu datang ke toko bunga milikku, seperti
kebiasaan rutin yang ia lakukan setiap hari. Ia menitipkan gitarnya lalu pergi
lagi dengan membawa tas kerja gendongnya yang berisi peralataan memotret.
Seorang fotografer dan pemusik membuat Iu menjadi sangat sibuk. Tidak lain
tidak bukan untuk kelangsungan hidup bersama ibunya. Iu seorang pekerja keras
meski aku tahu, ayahnya yang keturunan Jepang bukan orang sembarangan. Meskipun
setiap bulan ayahnya selalu mengrim uang, tapi Iu tidak pernah mau menerimanya.
Ia selalu menyimpannya tanpa Ibu dan Ayahnya tahu. Memang bukan uang yang Iu
butuhkan . ia hanya mau ayahnya ada bersamanya. Ia hanya mau keberadaa ayahnya
di sisi ibunya. Apalagi kini ibu sering sakit yangmembuat Iu selalu khawatir
bila ia harus kerja seharian dengan meninggalkan ibunya seorang diri di rumah.
Walau begitu ibu adalah orang yang kuat. Ia juga tidak mau membuat Iu khawatir.
Ayah iu yang seorang pengusaha memamng memilih tinggal di Jepang bersama Istri
pertamanya. Dan tidak pernah datang lagi setelah perceraiannya dengan ibu. Ia
hanya mengirimkan uang untuk kebutuan sehari-hari setiap bulannya. Namun itulah
yang membuat iu semakin tidak terima. Ia berharap ayahnya bisa kembali bersamanya.
Hari
ini iu memang tidak seperti biasa. Ia nampak lesu dan tidak kulihat lesung
pipitnya hari ini. Padahal aku tau, hari ini ulang tahun orang yang dia cintai.
Dan seperti rencana iu yang ku tahu, ia akan mengungkapkan perasaannya pada
gadis itu. Maka dengan spontan aku menawarkan diri merangkaikan bunga untuk
dibrerikan pada gadis
pujaannya. Iu hanya tersenyum, dan senyuman itu menandakan persetujuannya.
Meski terasa sakit bagiku, namun aku tetap tidak ingin iu tahu.
Aku
rangkaikan bunga itu untuknya dan tanpa terasa tetes demi tetes airmataku
membulir dan terjatuh. ada pertentangan dalam hatiku. Kumasukkan bunga itu ke
dalam lemari penyejuk
agar selalu segar. Tanpa sadar adikku memperhatikan ku. “Mbak,, kenapa mbak
tidak mengungkapakan perasaan mbak kepada kak Iu?, sampai kapam mbak akan
menyembunyikan persaan mbak?” lekas aku mengusap air mataku dan mencoba
tersenyum. Selama ini hanya adik dan mama yang tahu tentang perasaanku kepada Iu.
Namun bagaimanapun aku tidak bisa menjadi seseorang yang bisa dicintai Iu.
Tanpa menjawab pertanyaan adiku, aku pun berpamitan pergi. Dan menitipkan bunga
itu untuk diberikan kepada iu, saat dia kembali membawa gitarnya.
Aku
pun pergi ke tempat yang biasa menjadi penghiburku dikala sedih, anak-anak lucu
dan manis membuatku merasa lebih baik. Tempat yang selalu aku kunjungi
disaat hatiku tak menentu. Panti asuhan yang tidak jauh dari toko bungaku. Seharian penuh aku
bermain bersama anak-anak panti, dan tanpa sadar iu sudah ada di tengah-tengah
kami, aku pun tersenyum. “kenapa kau disin?” tanyaku. “bagiamana, apakah kau sudah
menemuinya ? apakah dia menerima mu?” aku lesatkan beberapa pertayaan tanpa
kusadari. Iu tersenyum
dan mengangguk. Dan saat itu lah hatiku
kembali bercampur aduk. Tapi yang biasa aku lakukan adalah tersenyum. “
selamat, pasti itu karena bunga dariku” aku mencoba mencairkan suasana hatiku
sendiri. “kau senang?” ia
bertanya padaku. “jelas saja aku
senang, tidak usah kau tanyakan? Jawabku.
“apakah kau merasa bahagia?” ia kembali
bertanya. “kenapa kau ini?, jelas saja ku bahagia. Bila sahabatku bahagia, aku
pasti bahagia” elakku. “menangislah” ia menghentakkan hatiku. “menangis? Untuk
apa?” tanyaku heran. “selama 2 tahun ini, aku tidak pernah melihatmu menagis,
jadi menagislah” jawaban iu semakin membuatku tak mengerti. Meski begitu itu
adalah hari diamana iu mengerti hatiku. Airmata yang selalu kupendam di
hadapannya, sudah hampir tak terbendung. “ada apa kau ini?” kataku sambil
membawa tas miliku
dan beranjak pergi. Tiba-tiba ia menarik tasku dengan kuat dan terus memintaku
untuk menangis.
Hal itu semakin membuat aku tidak kuat menahannya. Aku tarik tas ku namun iu
pun kembali menariknya lebih
kuat “menangislah” dengan perasaan yang tak karuan ini aku pun meninggalkan iu yang masih
memegang tasku. Aku menangis saat membalikkan badanku dan berjalan dengan
langkah yang berat. Namun tiba tiba langkahku terhenti saat ia berteriak
padaku. “kenapa kau begitu licik?” aku mengusap air mataku dan menoleh dan
merasa tak percaya akan kata-kata itu. Ia pun memperjelas kata-katanya. “kenapa
kau begitu licik?, kenapa kau banyak menyembunyikan hal-hal yang aku tidak
tahu, padahal aku selalu mencurahkan apapun padamu,” sesuatu terlintas di
pikranku. Apakah ia sudah tahu? Tentang perasaanku?. Wajahku masih tertegun. “
haruskah kau menyembunyikan perasaan itu” ia pun kembali bertanya. Aku semakin
yakin akan maksud ucapannya, darimana dia tahu? Kenapa dia bisa tahu?. Aku pun
tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya diam. Dan saat itu adalah saat dimana
air mataku tak bisa terbendung dihadapannya. Aku menangis di hadapannya. Aku
pun melihat mata iu seketike menggenang, iu tersenyum, dan berkata “
menangislah ane, tidak apa, biarkan aku pun merasakan kesedihanmu, jangan kau
biarkan aku menjadi seorang
sahabat yang bodoh”, kita pun membiarkan waktu berlalu menemani air
mata kita.
Tidak ada kata-kata yang terucap dari kita berdua. Tak
berapa lama, ia pun mengajakku untuk pulang. Aku
yang masih bisu, tak tahu harus bagaimana menghadapi keadaan ini. Seperti tak
terjadi apa-apa. Kami pun berjalan kembali ke toko bunga. Kini iu kembali
menjadi sosok iu yang aku kenal. “jangan pernah kau sembunyian lagi apapun
dariku” dengan senyum
khasnya ia bicara padaku. Aku tetap bisu. Iu pun seperti nya mengerti akan
keadaanku. Ia membawa tasku dan tiba-tiba… aku lihat bunga yang kurangkai untuk iu ada ditempat sampah. Aku
berhenti dan melihat
nya lebih seksama dan langsung melihat ke arah iu. “aku sengaja
mebuangnya, bunga itu telah membuamu menagis tanpa sepengetauanku” seakan tahu
pertanyaan dalam hatiku. Aku kembali
tertegun. Kali ini apa yang harus aku bicarakan. tapi lagi-lagi iu
menenangkanku” ayo kita pergi” seolah memaksaku untuk melangkah kembali. entah
apa yang ada di hati iu. Kali ini aku tidak bisa menebaknya. Tapi yang aku tahu
iu tidak sama sekali menemui gadis yang dia cintai
Suasana
perjalanan yang tidak pernah kami lewati
sebelumnya. Kami hanya terdiam dan sesekali iu menghela nafasnya. Di pintu toko
bungaku, aku lihat adikku. Ia tiba-tiba meminta maaf padaku. “maaf mbak, aku
sudah tidak bisa melihat mbak seperti ini terus” aku baru mengerti teryaata
adiku lah yang mengatakannya kepada iu. “ kenapa kau meminta maaf, kau adalah
orang yang membuat aku
mengerti kakakmu” iu yang menjwab
permintaan maaf dari adikku. Aku tetap menjadi bisu.
Iu
berpamit pulang Dan semua berlalu sampai tak kurasa hari sudah pagi. Ada yang
berbeda dengan iu, perhatian yang ia berikan tidak lagi kurasakan dari seorang
sahabat, kali ini berbeda. Dia mengajaku berjalan-jalan, seolah tidak
terjadi apa-apa di hari kemarin. Dan di tengah perjalan ia berkata “jangan
pernah lagi menyembunyikan air matamu, biarkan aku tahu. Mulai sekarang aku
akan menjadi orang yang paling mengerti dirimu, biarkan aku mencintaimu”
kalimat itu membuatku ingin menangis. “aku…” aku mencoba berucap
setelah tak ada yang kucapkan sehari kemarin padanya. “sudah jangan biara
apa-apa, aku adalah orang yang paling mengerti dirimu, hanya aku” ia seolah
tahu aku belum
siap untuk menanggapi semua ini.
Sebulan
berlalu. Aku dan iu menjalani hari-hari dengan senyum, ia semakin membuatku
bahagia. Ia tidak pernah membicarakan gadis yang ia cintai lagi. Ia membuat
hari-hariku istimewa. Meski aku tetap tidak tahu apa yang ada dalam hatinya. Ia
mengajakku pergi ke acara musiknya, kali ini orchestranya akan mengadakan
pertunjukkan di sebuah gedung kesenian. Aku melihat iu begitu memukau di atas panggung,
dengan alunan suara nya
bergema bersama musik yang mengalun.
Petikan gitar dan suara gitar yang sudah tidak asing bagiku.
Di
tengah acara tiba-tiba aku dengar “itu pacar iu, bukannya ane itu sahabat iu?
Seseorang yang tidak aku kenal menyebut namaku, tanpa sepengetahuan
mereka aku pun semakin mendekat. “ia mungkin, lagipula iu belum cerita apa-apa,
aku juga merasa aneh kenapa dengan iu saat ini, ia jadi tidak pernah lagi
terlihat bersama laras, selama ini kan dia menyukai laras, aku tahu bagaimana usahanya mendekati
laras, sekarang dia tiba-tiba saja menjauhi laras. Ya walaupun aku dengar laras
tidak begitu menyukai
iu, mungkin iu hanya menjadikan anesebagai pelariannya”
“aku
rasa tidak, mana mungkin iu sejahat itu, aku pikir dia hanya merasa kasihan
pada ane, yang aku tahu ane sudah lama punya perasaan lebih pada iu,
aku yakin iu hanya ingin membuat sahabatnya bahagia”
“apa
iya”
“tentu
saja, kau tidak seperti kenal iu saja, dia adalah sahabat yang baik, dia tidak pernah itungan buat sahabatnya sendiri, sekarang
ingat, dia rela menjual
mobilnya waktu tomy sakit parah dan harus dipoerasi, sekarang kenapa tidak dia
mngorbankan persaannya untuk sahabat yang ia sayangi”
Tapi
tetap saja iu tidak benar-benar mencintai ane kan”
“ya
sudahlah, kita lihat saja nanti, ayo kita latihan lagi”
Percakapan
itu membuat sebulan yang kurasakan ini berakhir begitu saja, apakah benar yang
mereka katakana?, aku tidak
bisa menhan air mataku dan pergio ke toilet untuk menenangkan diriku, rasanya
aku semakin tidak bisa menjalani ini dengan cara ini. Setelah aku keluar dari
toilet, aku melihat iu sudah ada di depan pintu toilet, dia sepertinya tahu aku
kesini. Acara sudah selesai. Ayo kita pulang. Di perjalanan aku
pun meminta Iu untuk tidak lagi berpura-pura. “jangan kau paksakan iu, aku
baik-baik saja” akhiri sampai disini”
“apa
maksud mu” kata iu
Sudah
jangan diteruskan.” Iu
nampak marah.
Aku pun tidak bisa bertanya lagi.
Ia
mengajakku pulang, di perjalanan wajah marahnya tak lagi terlihat, ia kembali
membuat aku semakin mencintainya, namun disisi lain rasa itu pun membuatku
merasa semakin bersalah padanya. Ia mengantarku sampai bertemu papa dan
mama. Mama pun semakin percaya pada iu, namun tidak bagiku, aku semakin ragu
padanya. ‘saya titip
bidadari saya ya ma” kata iu. Mama mengangguk dan berkata “ ia pangeran” dengan
nada bercanda. Aku hanya
tersenyum melihat
percakapan itu, sungguh membuatku menjadi semakin bersalah. Teryata benar, mama
memang semakin percaya pada iu, apalagi mama tahu betapa ku mencintai iu.
“liat. Kesabaranmu membuahkan hasil kan?, Allah memberikan yang terbaik, cinta
yang kamu pendam
tidak lagi terasa menyakitkan” aku menatap wajah mama, dan memeluk mama erat,
aku sandarkan tubuhku di pelukan hangat itu. Rasanya hanya pelukan mama
yang membuatku nyaman. Air
mata kembali menetes.
Tapi aku tidak mau mama tahu. Kalau yang aku rasakan adalah kebalikan dari apa
yang mama rasakan.
Pagi
menjelang
“antarkan
makanan ini ke rumah iu ya” mama memintaku mengantarkan puding kesukaan iu.
“ane
tidak bisa ma, ane tidak enak badan, aku coba beralasan, bukan apa-apa. Aku
hanya ingin sedikit berpikir atas apa yang sudah dilakukan iu.
“kalau
ketemu iu pasti sembuh” mamah malah mengejekku
Bagaimanapun aku tidak bisa menolak apa yang
mama suruh. Aku pergi ke rumah iu dengan langkah yang berat. Aku tahu iu tidak
ada di rumah. Ia pasti sedang bekerja. Aku memberi salam dan mengetuk pintu,
dan tidak lama pintu ter buka,
“iu?
Kamu tidak bekerja?” tanyaku
“ibu
sakit, vertigo nya
kambuh, ayo masuk” ia melebarkan pintu dan kita pun masuk
“ibu
sakit? kenapa kamu tidak bilang?”
“iya
aku belum sempat”, kamu tahu sendiri kan ibu anti rumah sakit, ibu semakin
sakit kalu di bawa kerumah sakit, aku sudah panggil dokter, ibu juga sudah
minum obat”
Saat
aku sampai ke kamar ibu, ibu sepertimya terlihat begitu lemas, matanya
pun tebuka,
“ane?”
dengan nada lemas ibu mencoba bangun, aku pun menahannya,
‘’ibu
tidur saja, ane bawa puding kesukaan iu, ane kaget waktu iu yang membukakan
pintu, ternyata ibu sakit”
‘padahal ibu suah tidak
apa-apa, iu yang berlebihan, harusnya hari ini dia kerja, apalagi nanti malam ada
pertunjukkan yang dihadiri bapak presiden, pergilah sana, ibu sudah tidak
apa-apa”
“tidak
apa-apa bagaimana? Tadi pagi ibu pingsan, sampai sekarang saja masih pucat” jawab iu
‘ibu
tidak apa-apa, apalagi sudah melihat calon menantu ibu” ibu mengusap tanganku
Aku
terkaget dengan ucapan ibu, kenapa lagi ini? Ada harapan yang besar dari mata
ibu. Aku pun melihat ke arah iu, iu hanya tersenyum. Aku tidak bisa menyangkal
dalam keadaan ibu sedang sakit. Ibu memang begitu baik kepadaku. Saat kecil
sebelum perpisahan
kami 14 tahun pun ibu adalah orang yang begitu menyayangiku, ibu yang lebih
memilih menjewer iu saat iu menganngguku, ibu yang selalu mengikat lagi
rambutku setelah
iu merusaknya. Aku pun semakin sulit menghadapi semua ini. Kenapa iu senekat
ini. Harusnya ia juga pikirkan kebahagiannya sendiri. Kenapa ia harus
memaksakan ini sedemikian jauh?. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan,
Iu,
kamu pergi saja, biar aku yang menunggu ibu, kalu perlu aku menginap, nanti aku
akan telepon mama, mama pasti mengizinkan” kataku
“iya,
pergilah nak, ibu sudah tidak apa-apa, ada ane yang menemani ibu, kamu tidak
sedang sibuk kan nak? Tanya ibu
“tidak
bu”
“baiklah
kalau begitu, aku tenang sekarang”
Iu
bergegas sersiap-siap, aku dan ibu saling tersenyum. Kami bercakap sebentar mengenai
kabar mama dan papa. Tidak lama iu pun berpamit dan meminta doa dari ibu.
Aku
mencari watu untuk bicara berdua dengan iu, aku beralasan mengantar iu sampai
depan rumah
“bu
aku kunci pintu dulu ya”
“ia
nak”
“iu
tunggu, apa maksud perkataan ibu tadi, iu, aku mohon jangan membuatku merasa
bersalah”
“kenapa?
Sudahlah aku sudah bilang aku akan mencintaimu seperti kau mencintaku”
“cukup
iu, aku tidak ingin ini dilanjutkan, aku sudah bilang aku baik-baik saja, apa
yang akan terjadi nanti. Kamu tidak bisa hidup dengan orang yang tidak kau
cintai”
“ane,
tolong jangan berkata seperti itu lagi, tolong jaga ibu, aku pulang malam” iu
menutup pembicraan kami begitu saja
Tiba-tiba
ia kembali menoleh dan berkata, “masakan makanan yang enak ya untuk nanti malam
bidadariku”
Kata-kata
itu membuat gugur keraguanku
sesaat, sepertinya hanya kata-kata itu yang bisa membuatku melupakan sejenak
ketidakpercayaanku
(sebenaranya
iu tahu saat laras bersama laki-laki di taman bermain itu, pada saat ane mncoba
mengalihkan pandangan iu dan pura-pura sakit, saat itu iu ia malah melihat
dengan jelas dari kaca di belakang ane, yang ane tidak sadari, namun iu hanya
terdiam seolah tak melihat apa-apa, dia seperti mengerti kalau ane hanya ingin mengalihkan padangan
iu)
Ingatkah saat hujan turun, kubiarkan kau bicara, dan aku
hanya memperhatikan setiap ucapan yang keluar dari mulutmu. Semua huruf, kata,
kalimat yang kau rangkai menjadi sebuah hal yang amat bermakna. Tanpa mau
melihatmu, kupalingkan wajahku. Dan kutumpahkan air mata ini. Semuanya
menjadikan ku merasa bersalah. Rasanya terlalu salah akan semua ini.
Mungkin aku yang belum percaya padamu. Semua yang telah
kau katakan. Seharusnya aku percaya padamu, sebagaimana kau telah
mempercayaiku. Percaya akan perasaan yang aku miliki padamu. Seharusnya aku
percaya padamu. Bahwa kau bisa mencintaiku. Namun apa yang aku perbuat sungguh
tak ingin kulakukan. Kau membuktikan semuanaya, hal yang aku ragukan. Hal yang
aku ingin percaya namun sulit, hal yang ingin aku ingin namun teramat terasa
jauh, hal yang begitu indah namun terasa menyesakkan. Kini aku ingin kau
mendengarkanku, aku percaya padamu.
Setiap kata yang kau ucapakan tak akan lagi kuragukan.
Setiap yang berikan padaku, terasa begitu dekat dan
berari bagiku, namun aku tak mau sepereti ini, aku tak mau memperbesar rasakau
hanya kaerena kebaikanmu. aku ingin menampikkannya, namun semuanya terasa
menyedakku. Membuatku nyaris menyerah menghapus rasa ku.
Setiap kata kuhapus namun semakin sering lagi kau
menuliskannya. Semua itu membuatku merasa berat. Mungkin aku yang terlalu naif
untuk mniadakan rasa ini.
Kau simpan foto masa kecil kita hingga kita bertemu
sekarang. Kau abadikan lewat hobi barumu.
Kini
aku yang harus pergi. Mungkin yang kau rasakan saat ini adalah cerminan
perasaanku kala itu.
Di
jepang, kau mengejutkan ku dengan kedatanganmu. Kau ajak aku makan di tempat
kesukaanmu. Disana ternyata sudah ada keluargaku dan ayah serta ibumu. Aku
benar-benar senang. Kau pun berjanji akan menjadi guide selama 3 hari liburan
ini. Kita habiskan hari-hari indah. Syukurku atas apa yang diberikan-Nya. Kau
ajak ke semua tempat kesukaanmu. Termasuk masjid yang sering kau kunjungi.
Padahal aku baru 3 bulan di Jepang. Lagi-lagi seikat mawar diantara guguran sakura kau tepati janjimu.
Membuatku
selalu tersenyum. Dan kata-kata yang selalu teringat juga dalam ingatanku saat
kau bilang aku bisa mencintaimu sungguh
perasaanku tak menentu kala itu. Aku tak mau membuatmu terpaksa mencintaiku.
Namun kau pun slalu menyangkalnya. Keputusanku ke jepang pun karena aku ingin
menjauh darimu. Walaupun sebenarnya aku tak mau. Namun kau buktikan semuanya.
Kau buktikan kata-katamu. Mungkin aku yang belum bisa mempercayaimu.
Aku
duduk di kursi taman itu, menunggu kamu datang denagn sepeda kesayanganmu.
Penjual bunga potong disampingku tiada henti memperhatikan gerak-geriku saat
menunggumu, ia melempar senyum padaku dan berkata “sebentar lagi ia datang”. Dan
kerap aku melihat jam tanganku, yang terus berjalan sama
seperti kamu. Dan rasa jenuh membuatku beranjak dan pergi. Mungkin kamu memang
tak akan datang. Mungkin penjual bunga itu juga mengerti. Dan seberapa jauh aku
melangkahkan kakiku menjauh darimu. Berlawana dari mana kau dating. Dan entah
kenapa tiba-tiba kamu sudah ada didepanku. Dengan seyuman manismu.
Saat ku mencoba menghinmdari mu kau begitu sulit
kuhindari, saat kita berpayung, ku tak kuasa menahan air mataku.
wish
you many, many more successful and as a musician because
you are one very wonderfully, lovely, talented man. May this birthday be a
blessed one for such an extraordinary person.
Saat ini aku bukannya sulit untuk memilih, karena aku
sudah mempunyai pilihan, akan tetapi jika aku memilih pilihanku maka akan ada yang terluka atas kebahagiaanku, baiknya
aku tidak memilih meskipun aku akan melukai diriku sendiri.
“aku tidak cantik, juga tidak tinggi, sedangkan kakak
bisa lebih mendapatkan wanita yang lebih baik dalam segala hal”
“apa... ? sekarang beritahu aku dimana aku bisa
mendapatkan wanita seperti itu, aku tak mengerti kenapa aku bisa jatuh cinta
padamu, menyukai wanita berjilbab yang selama ini jarang kutemui. Kamu bilang
aku bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dalam segala hal, tapi bagaimana
jika menurutku wanita yang baik dalam segala hal itu dirimu, lalu dimana aku
bisa mendapatkan wanita seperti yang kau maksud, aku bukan jatuh cinta karena
kau cantik atau kau tinggi, benar memang kalau aku melihat seorang wanita dari
fisik, bukan kah itu memang penting?”
“maka dari itu carilah wanita lain”
“aku belum selesai bicara, aku jatuh cinta padamu
juga dengan pertimbangan itu”
“apa maksud kakak?”
“aku jatuh cinta pada matamu, apapun yang kau lihat
aku jatuh cinta padanya, aku jatuh cinta pada bibirmu, apapun yang kau katakan
aku juga jatuh cinta padanya, aku jatuh cinta pada otakmu, apapun yang kau
pikirkan aku jatuh cinta kepadanya, aku jatuh cinta pada tangan dan kakimu,
apapun yang kau lakukan aku sangat mencintainya, aku mencintai apapun yang kau
lakukan, apa itu bukan karena fisik? Sama saja bukan?”
“kakak... “
“kalau kamu bisa mencarikan wanita lain sepertimu
maka beritahu aku, dan satu hal lagi, aku pergi ke masjid seoul bukan untuk
bisa lebih dekat denganmu, aku lakukan itu karena aku jatuh cinta pada apapun
yang kau lakukan, dan akupun ingin melakukannya”
Setelah kakak bicara semua itu padaku, ada yang
membuat aku semakin gelisah
“kenapa kamu masih berpikir kalau aku terpaksa
mencintaimu? Iya memang salah karena terlambat menyadarinya, tapi apakah cinta
yang datang karena cinta itu bukan cinta? Itu juga cinta bukan? Seharusnya kau
tidak perlu memikirkan perkataan orang lain yang tidak benar? Lagipula cinta
yang baik itu bukan cinta yang muncul secara tiba tiba pada pandangan pertama,
cinta yang baik itu tumbuh disaat kita selalu bersama dengan orang yang peduli
dan memperhatikan pada kita. aku pikir saat aku berusaha mencarimu setelah kita
berpisah 14 tahun lamanya karena aku hanya rindu teman masa kecilku,ternyata
bukan. aku juga berpikir kalau aku
selalu ingin membagi kebahagiaan dan kesedihan denganmu hanya karena aku nyaman
denganmu, ternyata itu juga bukan hanya sekedar rasa nyaman. aku baru nyadarinya sekarang, iya itu aku
salah, tapi apakah aku masih salah jika aku akhirnya menyadari kalau aku benar
benar mencintai orang yang tulus mencintaiku? An...tapi ada satu hal yang aku
sadari sejak kita bertemu lagi, saat kita shalat berjamaah bersama, saat kita
mengaji bersama, saat kita berdoa bersama, aku menyadari bahwa kamu akan jadi
istri dan ibu yang baik. Istri yang selalu aku idam idamkan. Jadi Tolong jangan hukum aku seprti ini, aku salah
karena aku selalu membicarakan wanita yang kusukai denganmu, aku sangat
menyesal benar benar meyesal An. Seberapa banyak kamu memintaku untuk berhenti,
aku tak akan berhenti An, aku akan terus membuktikan padamu kalau aku
benar-benar mencintaimu, bukan karena terpaksa atau apapun, karena aku tidak
senaif itu An, aku juga tak mungin melakukan itu karena akhirnya itu akan
melukaimu, kamu hatus tahu An. Ibu, ibuku sebenarnya selalu bilang padaku kalau kamu
mencintai aku, tapi aku coba mengelaknya, karena aku takut itu hanya perasaan
ibu saja, ibuku juga berpesan kalau aku harus membahagiakan kamu An, jadi aku
minta tolong sekali lagi, percaya sama aku An. Tapi jika Tuhan memang tidak menakdirkan kita untuk bersama, maka aku akan rela melepasmu, karena cinta yang hakiki bukan pada manusia kan? tapi pada Tuhan, Allah swt.”
Sebenarnya aku sudah percaya pada Iu, aku tapi Kata
kata Iu semakin membuatku gelisah, orang yang selama ini aku cintai ternyata
kini mencintaiku, tapi apa yang akan aku lakukan jika ada orang kakak juga
mengatakan hal yang sama. Iu dan kakak sudah melewati banyak hal yang sulit,
lalu apakah aku juga akan mempersulit lagi mereka? Aku tak bisa lakukan itu.
Aku benar-benar tak bisa memilih.
***
Kak Hide meneruskan perusahaan Ayahnya Takeshi Miura,
kak Hide juga punya restoran dan flower shop yang saling berdampingan di daerah
Anyang. Meski Ayah Iu dan Kak Hide orang Jepang tetapi sejak dulu kak hide dan
Ayahnya tinggal di korea Selatan. Karena Ayah Iu memunyai perusahaan disana,
bahkan keluarga besarnya pun tinggal di korea. Saat Iu ke Indonesia, sebelumnya
ia juga sudah tinggal di korea.
Saat mengetahui Ibu Iu tak bisa hamil, Ayah Iu
menikah lagi dengan wanita korea selatan, akhirnya mereka dinugerahi kak Hide,
namun ibu kak Hide bukan ibu yang baik, ia tak pernah mengurus kak Hide dengan
baik, sehingga dari umur kak Hide masih dalam hitungan hari, ibu lah yang
mengurus kak Hide, saat kak hide berumur 2 tahun ibu kak Hide meninggal karena
kecelakaan, sehingga Ibu pun menjadi pengganti ibu kandung kak Hide, kak hide
sendiri lebih menyayangi ibu daripada ibu kandungnya, ia bahkan tak mengingat
masa kecil dengan ibu kandungnya, yang ia tahu ia hanya punya satu ibu yaitu
ibu Iu. Kak hide bahkan belajar shalat dan mengaji dari ibu, semenjak pak
takeshi menikah lagi dengan mendiang ibu kak Hide, ia melupakan semua
kewajibannya sebagai seorang muslim, ia masuk islam hanya untuk bisa menikah
dengan ibu, namun setelah menikah dan kecewa pada ibu karena ibu tak bisa
memberikan keturunan, pak takeshi memperlakukan ibu dengan tidak baik, ia masih
mempertahankan ibu unrtuk kak hide,
karena kak hide sudah terlanjur menganggap ibu sebagai ibu kandungnya. Bertahun
tahun ibu menderita, hanya kak hide yang selalu ada di sisi ibu. Pak takeshi
selalu sibuk dengan pekerjaannya, ia selalu berada di luar kota.
Setelah kak Hide berumur tujuh tahun, penantian ibu
akhirnya berakhir, ibu dinyatakan positif hamil, namun pak takeshi tak percaya,
ia malah menuduh ibu berselingkuh dengan pria lain, karena selama ini pak
takeshi jarang pulang ke rumah, tapi semua itu tidak benar, ibu benar-benar
mengandung anak pak takeshi. Namun sikap pak takeshi tak berubah, ia tetap tak
memperhatikan ibu bahkan sampai iu lahir ke dunia. Pak takeshi hanya sayang
pada kak Hide. Namun kak Hide sangat menyayangi Iu, kak Hide yang selalu
menjaga dan melindungi Iu selain ibu. Bahkan saat iu diperlakukan tidak adil
oleh Ayahnya, tapi kak Hide selalu membela iu. Mungkin karena itulah iu sangat menyayngi
kak hide, iu menganggap kak hide bukan hanya sebagai kakak, tapi juga sebagai
Ayah untuknya.
Saat usia iu menginjak 7 tahun, ibu diam diam membawa
Iu pulang ke Indonesia, itu semua ibu lakukan karena ibu sudah tidak tahan lagi
dengan perlakuan ayah pada Iu. Ibupun mengorbankan kak Hide, meski ibu juga
sangat sayang pada kak hide tapi ibu tak punya pilihan lain. Ibu pun
meninggalkan kak hide yang saat itu sudah berumur 14 tahun.
Setelah tahu ibu pergi kak hide sangat terpukul,
selain kehilangan sosok ibu ia pun
kehilangan adik kesanyangannya. Kak hide bahkan sering jatuh sakit
karena kehilangan dua orang yang ia sayangi.
Di Indonesia, itulah pertama kalinya aku bertemu
dengan iu, kami bersekolah di sekolah dasar yang sama. Iu yang saat itu memang
berwajah paling berbeda dengan kami selalu menjadi bahan ejekan, kulitnya yang
putih dan matanya yang sipit membuat kami menjulukinya anak jepang. Itu juga
karena iu punya nama jepang yang unik. Selama setahun lamanya aku dan iu
menjadi sahabat, itu semua karena aku tidak suka anak-anak lain mengejeknya,
Cuma aku yang mau bermain dengannya. Dimana ada iu disitulah ada aku, namun di
tahun kedua pada semester genap aku harus berpisah dengan iu, karena pak
takeshi akhirnya menemukan persembunyian ibu di kota bandung. Iu sempat
berpamitan padaku, saat itu kami belum begitu mengerti arti perpisahan,
sehingga kami masih sedikit gengsi untuk memperlihatkan kesedihan kami jika
memang tak akan bisa bertemu lagi, yang aku ingat saat itu aku sama sekali tak
mau melihat wajahnya karena aku benar benar tak mau berpisah dengan Iu, aku
berusaha menahan airmataku dan menyembunyikannya dari Iu, saat itu benar-benar
saat yang menyedihkan yang paling aku ingat.
Pak takeshi membawa iu dan ibu kembali ke korea bukan
karena pak takeshi sudah berubah, hal itu ia lakukan semata semata untuk kak
hide, kak hide yang sering murung dan sakit sakitan membuat ayah memaksa ibu
untuk kembali. Tentu ibu tak bisa menolaknya, karena bagaimnapun juga ibu sudah
menganggap kak hide sebagai anak kandungnya. Saat ibu dan iu kembali ke korea
kak hide pun kembali bersemangat menajalani hidupnya. Tapi tidak dengan
Ayahnya. Pak takeshi tetap tak menganggap ibu dan iu sebagai istri dan anaknya.
Kak hide benar benar menjadi Ayah bagi Iu, sampai Iu
lulus sekolah menengah pertama di korea pun kak hide lah yang selau
menyempatkan waktu untuk menjadi wali untuk kepentingan sekolah. Bahkan bila ibu melarangnya kak hide tetap
pergi, kak hide malah meminta ibu untuk banyak istirahat di rumah karena sudah
mengurusi banyak hal untuk kak hide dan iu. Iu pun tak kehilangan sosok Ayah
meski pak takeshi tak pernah ada untuknya, namun meski begitu Iu tetap merasa
sedih karena tak pernah dianggap oleh pak takeshi sebagai anak kandungnya.
Bahkan nama belakang pak takeshi yang ada pada nama iu itu pun diberikan karena
permintaan kak hide.
Menginjak sekolah mengah atas, pak takeshi tak
terlalu sering berada di luar kota. Sikap Pak takeshi semakin dingin pada ibu
dan Iu. Iu pun semakin tak kuasa menahan perlakuan pak takeshi, sehingga ia
memutuskan untuk mengajak ibu kembali pulang ke Indonesia. Kak hide yang
mengetahui hal tersebut mencoba melarang, namun kak Hide sadar bahwa selama ini
ia hanya menyiksa ibu dan Iu, karena membiarkan ibu dan iu menerima perlakuan
tak menyenangkan dari Ayahnya, selama ini ibu dan Iu sudah bertahan di sisi kak
hide meski harus tersiksa atas perlakuan pak takeshi. Sehingga kak hide tak
bisa berbuat apa-apa. Usaha kak hide untuk membujuk ayahnya berubah pun
sia-sia. Pak takeshi mengancam kak hide kalau ia akan terus melukai ibu dan iu
jika kak hide tak menuruti kata-katanya. Tentu dengan kekuasaan yang pak
takeshi miliki ia bisa melakukan apapun utnuk melukai ibu dan Iu. Ya, cerita
tersebut bukan hanya da dalam cerita novel atau televisi. Itu terjadi pada
kehidupan Iu. Dengan linangan air mata ibu, iu dan kak hide harus merelakan
perpisahan mereka, perceraian ibu dan pak takeshi pun diurus. Kak hide pun tak
bisa lagi menemui ibu dan iu karena ancaman pak takeshi. Akhirnya ibu dan iu
kembali ke indonesia dan tinggal disana sampai sekarang
Saat ini aku sudah berada di Korea selatan, aku
membantu temanku bekerja di KMF. Ya aku kesini bukan hanya untuk menghindari
Iu, aku memang sangat ingin merasakan tinggal di negara yang mayoritas
nonmuslim, bagainana perjuangan mereka dan kekuatan mereka menjadi seorang
muslim. Kebetulan temanku orang indonesia yang bekerja di Korea sebagai manajer
di salah satu pabrik benang di korea. Aku diajak bekerja membantunya untuk
keperluan KMF karena kekurangan tenaga. Warga asli korea muslim yang ikut
bergabung disini pun tak lebih dari 20 orang. Selain itu aku juga bekerja di
restoran halal milik orang Turky di Hannam-dong, Yongsan-gu, Seoul sebelah
pusat Seoul di sekitar Masjid Itaewon.
Awal pertemuan ko dengan kak Hide di restoran ini,
kak Hide ke sini untuk mengenang kebersamaannya bersama Iu dan Ibu kala itu.
Kak Hide sering diajak ibu makan disini, Kak Hide juga sangat menyukai makanan
disini, jadi jika ia ada waktu luang saat bekerja, atau hanya sekedar melewati tempat
ini, kak Hide akan menyempatkan diri untuk makan disini. Karena restoran ini
sudah ada sejak belasan tahun lalu. Kak Hide bahkan sangat ingat ketika
restoran halal ini pertama kali dibuka saat itu kak Hide sedang berulang tahun
ketika usia nya menginjak 15 tahun, saat itulah Ibu mengajak Kak Hide dan Iu untuk
makan di restoran ini.
Iu sangat bekerja keras untuk membahagiakan ibunya,
mobil dan rumah yang ia punya sekarang pun hasil dari kerja kerasnya, tak hanya
bekerja di salah satu orkestra terkenal di Bandung, iu juga bekerja menjadi
pengajar biola di salah satu studio musik, ia juga menjadi fotografer freelanch
di salah satu media online milik temannya. Bekerja dari siang dan malam, tapi
Iu tampak tak lelah, karena apa yang ia kerjakan adalah apa yang ia sukai. Tapi
demi aku Iu rela keluar dari orkestra milik musisi ternama di Indonesia dan
sebagai pengajar di studi musik. Ia memilih membatu kak hide bekerja di
restoran milik kak hide di korea, tentu tanpa sepengetahuan ayahnya, iu yang meinta itu, karena iu tak ingin
ayahnya tau. Ia melepaskan pekerjaanya di indonesia demi aku, padahal yang aku
tahu iu punya kenangan pahit disini.
“permisi...” ujar beberapa gadis yang berpapasan
denganku dan Iu dengan bahasa korea
Mereka terlihat memandangi wajah Iu, kemudian berlalu
begitu saja. Entah apa yang gadis-gadis itu lakukan, mereke seperti mengenal
Iu, akan tetapi setelah melihat Iu dengan seksama mereka pun langsung pergi.
Tapi aku sedikit teringat kata kak Hide, bahwa Iu yang sekarang terlihat
seperti salah satu member boy band korea, namanya lee donghae, saat itu kak
hide memperlihatkan foto lee donghae., dan ternyata memang ada banyak kesamaan,
mungkin Iu versi hitamnya dari lee donghae. Aku hanya tersenyum senyum saja
mengingat hal itu.
“kenapa mereka melihatku seperti itu ya”
“entahlah...” aku pura-pura tak tahu dan Iu hanya
memasang wajah bingung
“harusnya kamu tak bersikap seprti itu, aku tak
pernah melihatmu semarah ini” kataku pada Iu
“aku hanya tidak ingin ibu terluka lagi oleh orang
itu”
“orang itu orang itu ayahmu!”
“tapi dia tidak mau mengakuiku sebagai anaknya”
“apa? Ternyata benar, sifat kamu memang seprti itu”
“seperti itu?”
“iya, kamu memperlakukan orang lain seprti hal nya
mereka kepadamu, kamu tak mau mengakui ayahmu karena dia tidak mau mengakuimu?
Kalu begitu benar, seperti hal nya yang terjadi pada kita, kamu bilang
mencintai aku? Apa itu bukan karena aku mencintai kamu? Bahkan saat kecil saja,
kamu hanya memperlakukanku dengan baik jika aku menuruti permintaanmu, kamu
bilang akan mengantarku ke sekolah jika aku mau melepas ikat rambutku, begitu
kan”
“apa? Ana ... jangan samakan hal itu dengan apa yang
terjadi antara aku dan pak takeshi”
“sama saja, bagiku itu sma saja, kamu memang seperti
itu”
“Ana ...”
“sekarang lebih baik kamu sendiri berpikir, apakah
yang telah kamu lakukan selama ini benar, pikirkanlah ...”
Ana pergi meninggalkan Iu
Maaf
Iu aku tak bermaksud berkata seprti itu Iu, aku bahkan sangat mempercayaimu,
kalau kamu memang benar-benar mencintaiku, aku hanya ingin kamu bisa mengungkapkan
perasaanmu yang sebenarnya pada ayahmu, dan aku juga ingin menjadi ganjalan
antara kau dan kak hide, kalian sudah banyak melalui hal sulit, dan aku tak
ingin membuat kalian mengalami hal sulit lagi. kalian harus bahagia, Ana
Ana,
kamu salah, aku bukan orang yang seprti ituaku bahkan ingin sekali memanggilnya
Ayah, tapi aku tak bisa, bahkan kamu juga sangat salah, aku mencintaimu bukan
karena kamu juga mencintaiku, bahkan saat kamu terus menjauh dariku atau bahkan
kau bilang tak lagi mencintaiku, aku akan semakin yakin kalau aku benar benar
mencintaimu, karena aku sangat mengenalmu, aku tak akan pernah menyerah,
sebelum Tuhan memberi keyakinan padaku untuk menyerah, Iu
Kalau
kakak berfikir aku ingin menikah dengan ana karena ana mencintaiku kakak salah,
atau kakak juga berfikir kalau aku ingin menikahi ana karena aku begitu
mencintainya kakak juga salah, meski semua itu benar adanya, namun bukan itu
alasannya. Aku ingin menikahinya karena itu jawaban dari semua doaku kepada
Tuhan kak. Aku tak pernah meminta ana menjadi pendamping hidupku, aku berdoa
supaya aku dipertemukan jodoh yang baik untukku. Selama ini kami pernah
berpisah, lalu ana juga melakukan berbagai cara untuk menghindariku, tapi aku
dan ana selalu dipertemukan lagi kak, awalnya aku tak menyadari itu, tapi saat
aku berdoa, Tuhan memberikan jawabannya. Kalaupun kami nanti tidak berjodoh,
itu juga kehendaknya, namun sampai saat ini aku diberikan keyakinan kalau aku
benar benar mencintainya dan ingin menikah dengannya, aku tak tahu apa yang
kakak rasakan, namun biarlah waktu yang menjawab semuanya kak. Seandainya Ana memang bukan jodohku, aku akan rela melepasnya.
Di Korea aku mengenal seo hyun dan min jung. mereka adalah mahasiswa Universitas Seoul fakultas seni dan budaya yang sedang melakukan penelitian tentang Islam di Korea. karena aku menjadi salah satu narasumber mereka akupun jadi kenal dekat dengan keduanya. seohyun dan minjung sangat baik dan mempunyai toleransi yang tinggi, mereka pun sedikit demi sedikit mengenal Islam lebih dalam. mereka setahun lebih tua dariku tapi layaknya sebaya teman. selain rajin berkujung ke Islamic Center di Masjid Seoul untu melakukan wawancara dengan KMF mereka sering berkunjung ke restoran untuk sekedar makan dan bertemu denganku. meski Islam agama minoritas namun penganut Islam semakin meningkat setiap tahunnya. entah itu karena pendatang maupun warga korea asli yang menjadi mualaf. awalnya karena di asrama kampus disediakan Masjid mereka pun mulai tertarik meneliti Islam, aku, seohyun, minjung dan fiza pun menjadi sahabat dekat, meski seohyun laki-laki satu satunya, dia tidak malu jika jalan -jalan bersama kami


Komentar
Posting Komentar