Story of Season (random)

Sore ini aku melihat langit ramai oleh layang-layang. Lagi-lagi aku lakukan ini. Di lantai empat gedung ini. Gedung Sekolah Dasar ku dahulu. Aku melihat ke sebuah tempat yang kau bilang akan menjadi tempat tinggalmu, sampai saat ini aku masih mencari jalan untuk dapat kesana, walau aku tahu sebentar lagi kita mungkin akan bertemu.
Aku teringat saat kau akan meninggalkanku, kau ajak aku ke lantai empat ini, kau tunjukkan dimana tempat barumu nanti. Meski aku tahu kau bisa saja salah. Namun saat kau yakinkan aku, aku pun percaya padamu.
Beberapa gumpal awan kecil menggantung di langit yang menudung bumi. Di hamparan sebelah kanan aku lihat langit dua warna, warnanya begitu indah, jingga bercahaya dan abu kebiruan. Dan di tempatmu yang masih aku kira-kira, di hamparan sebelah kiri, suasana tampak sendu dengan awan biru muda. Dan perlahan air mataku pun jatuh menimpa kulit pipiku. Entah kenapa muncul rasa tak ingin bertemu denganmu, mungkin karena aku terlalu naif.
Selama 14 tahun ini kita memang seperti asing, waktu pun kehilangan jejak kita, sehingga tak ada tempat untuk kita menulis cerita. Namun tiga minggu yang lalu, saat waktu kembali menemukan kita, lewat sebuah percakapan singkat telepon seluler, aku seakan tak percaya kau masih ada. Kau bilang kita harus bertemu, dan aku yang masih merasakan ketidakpercayaan ini rasanya ingin menyerah saja. Aku tak menyangka hanya karena sebuah lagu kau bisa mengenaliku.
Lagu yang dulu sering kita nyanyikan bersama, di bawah pohon rindang sekolah kita. Kokoronotomo lagu yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi Jepang. Mayumi Kojima. Aku tahu kau tak akan melupakannya, begitu juga aku. Saat umur kita masih tujuh tahun rasanya sungguh hebat kita hapal lagu asing ini. Namun mungkin tidak terlalu hebat bagimu, karena karena kau memang punya darah Jepang. Aku ingat saat kau pertama masuk di kelasku dan memperkenalkan dirimu. Haruma Miura, nama yang baru sekali aku dengar, aneh dan lucu.

Di sebuah tempat yang dahulu kerap kita sambangi selagi belum seperti sekarang. Mungkin kau akan datang dengan sepedamu dengan gendongan tas gitar dan ransel hitam milikmu. Mungkin juga kau kenakan sepatu putih tak bertali. Aku selalu ingat jikalau kau tak suka tali. Bahkan dulu saat kita masih berseragam putih merah, kau selalu menyuruhku untuk tidak mengikat rambutku. Padahal aku suka sekali ikatan ibu. Tapi kau selalu memintaku untuk membukanya.
Masa itu kembali terkenang kala aku mengingat akan bertemu denganmu. Dan entahlah apakah engkau akan mengingat aku?. Kau tahu pertemuan kala itu teramat singkat. Satu tahun saja. Tapi entah mengapa aku dan kau bisa seakrab itu, mungkin karena kita kanak-kanak. Rasanya tidaklah adil jika pertemuan kita yang setahun itu harus terhenti dengan perpisahan selama 14 tahun ini. Kau harusnya ingat saat kau bilang. Kau kan pergi bersama orang tuamu ke tempat yang kau suka. Dengan sombongnya kau meninggalkanku. Aku ingin katakana sekarang. Jikalau saja kau tahu, saat aku membalikkan badanku, aku bukannya tak peduli padamu, aku hanya tak bisa menahan air mataku. Namun aku tak mau kau tahu.
Kau suka gitar, kau bilang kau ingin menjadi sorang gitaris terkenal. Sambil membawa ranting pohon yang kau pegang layaknya gitar. Kau nyanyikan lagu kesukaanku. Dulu kau selalu menggodaku, Kau bilang aku boleh naik sepedamu jika aku tidak mengikat rambutku, kau memperhatikan cara jalanku. Kau sengaja mendahuluiku dengan sepedamu jika aku menolak membuka ikat rambutku. Kau pun tak mau memboncengku ke sekolah. Namun  diam-diam, setelah kau berada jauh di depanku, kau pun memutar jalan dan kembali mengikutiku. Dan memperhatikan aku dari jauh..
Seikat bunga mawar kau bawa padaku. Dengan sedikit memaksa seperti kebiasaanmu. Kau memintaku membuat pudding mangga kesukaanmu. Sengaja kau pilih yayasan ku sebagai tempat yang sudah kau persiapkan untukku membuat pudding. Kau undang anak-anak disana dan  kau pun beralasan, kau bilang  anak-anak lah yang memintaku membuat pudding. Aku sudah tahu benar tentang kau. Padahal aku lelah. Tapi lagi-lagi aku menyerah, aku tak bisa menolakmu.
Sebelumnya kau memintaku datang ke tempat itu, tempat pertama kita bertemu, tempat yang kita tunjuk sebagai tempat pertemuan kita  untuk berangkat sekolah bersama dan tempat yang kita pilih untuk bertemu setelah 14 tahun lamanya. Hari ini Nampak berbeda, aku pun seperti tak biasa seperti biasanya, kurasakan ada beban yang mengikutiku sejak keberangkatanku dari rumah tadi, setelah ku putuskan untuk mengungkapkan semua yang kurasa namun sesaat aku ragu untuk melakuan itu. Bahkan aku ingin berbalik dan berlari. Namun ku urungkan, ketika melihatmu tengah menungguku di kursi taman itu. Kulihat kau dari dibalik pohon, sesekali kau perhatikan jam tanganmu. Aku pun langkahkan kakiku yang tersa berat ini. Belum saja aku sampai, kau langsung menghampiriku,, “dari mana saja, aku punya kejutan untuk mu” kau pun mendorongku ke tempat yang kau bilang kejutan itu. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya kau berbicara, entah apa yang kau bicarakan, tiba-tiba semua konsentrasiku hilang. Terasa tak karuan.
Hari itu saat kita sedang menikmati indahnya pgi bersama anak-anak panti, aku melihat dia dengan seseorang. Nampaknya laki-laki itu begitu dekat dengannya. Disitu batinku bergejolak, bagaimana bisa?. Bagaimana jika Iu melihatnya?. Aku pun tanpa sadar mencoba memalingkan pandangan Iu. Aku paksa dia melihatku. Aku igin mengalihkan perhatian Iu dari ketidakpercayaan ini. Aku pura-pura merasa sakit sehingga Iu bisa lebih fokus padaku. Syukurlah Iu tidak sempat meilihatnya. Meski begitu aku pun takut Iu merasa aneh tetag gerak-geriku. Akhirnya kita pun pulang karena Iu merasa khawatir akan keadaanku.
Pagi itu dengan sepeda kesayangannya iu datang ke toko bunga milikku, seperti kebiasaan rutin yang ia lakukan setiap hari. Ia menitipkan gitarnya lalu pergi lagi dengan membawa tas kerja gendongnya yang berisi peralataan memotret. Seorang fotografer dan pemusik membuat Iu menjadi sangat sibuk. Tidak lain tidak bukan untuk kelangsungan hidup bersama ibunya. Iu seorang pekerja keras meski aku tahu, ayahnya yang keturunan Jepang bukan orang sembarangan. Meskipun setiap bulan ayahnya selalu mengrim uang, tapi Iu tidak pernah mau menerimanya. Ia selalu menyimpannya tanpa Ibu dan Ayahnya tahu. Memang bukan uang yang Iu butuhkan . ia hanya mau ayahnya ada bersamanya. Ia hanya mau keberadaa ayahnya di sisi ibunya. Apalagi kini ibu sering sakit yangmembuat Iu selalu khawatir bila ia harus kerja seharian dengan meninggalkan ibunya seorang diri di rumah. Walau begitu ibu adalah orang yang kuat. Ia juga tidak mau membuat Iu khawatir. Ayah iu yang seorang pengusaha memamng memilih tinggal di Jepang bersama Istri pertamanya. Dan tidak pernah datang lagi setelah perceraiannya dengan ibu. Ia hanya mengirimkan uang untuk kebutuan sehari-hari setiap bulannya. Namun itulah yang membuat iu semakin tidak terima. Ia berharap ayahnya  bisa kembali bersamanya.
Hari ini iu memang tidak seperti biasa. Ia nampak lesu dan tidak kulihat lesung pipitnya hari ini. Padahal aku tau, hari ini ulang tahun orang yang dia cintai. Dan seperti rencana iu yang ku tahu, ia akan mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Maka dengan spontan aku menawarkan diri merangkaikan bunga untuk dibrerikan pada gadis pujaannya. Iu hanya tersenyum, dan senyuman itu menandakan persetujuannya. Meski terasa sakit bagiku, namun aku tetap tidak ingin iu tahu.
Aku rangkaikan bunga itu untuknya dan tanpa terasa tetes demi tetes airmataku membulir dan terjatuh. ada pertentangan dalam hatiku. Kumasukkan bunga itu ke dalam lemari penyejuk agar selalu segar. Tanpa sadar adikku memperhatikan ku. “Mbak,, kenapa mbak tidak mengungkapakan perasaan mbak kepada kak Iu?, sampai kapam mbak akan menyembunyikan persaan mbak?” lekas aku mengusap air mataku dan mencoba tersenyum. Selama ini hanya adik dan mama yang tahu tentang perasaanku kepada Iu. Namun bagaimanapun aku tidak bisa menjadi seseorang yang bisa dicintai Iu. Tanpa menjawab pertanyaan adiku, aku pun berpamitan pergi. Dan menitipkan bunga itu untuk diberikan kepada iu, saat dia kembali membawa gitarnya.
Aku pun pergi ke tempat yang biasa menjadi penghiburku dikala sedih, anak-anak lucu dan manis membuatku merasa lebih baik. Tempat yang selalu aku kunjungi disaat hatiku tak menentu. Panti asuhan yang tidak jauh dari toko bungaku. Seharian penuh aku bermain bersama anak-anak panti, dan tanpa sadar iu sudah ada di tengah-tengah kami, aku pun tersenyum. “kenapa kau disin?” tanyaku. “bagiamana, apakah kau sudah menemuinya ? apakah dia menerima mu?” aku lesatkan beberapa pertayaan tanpa kusadari. Iu tersenyum dan mengangguk.  Dan saat itu lah hatiku kembali bercampur aduk. Tapi yang biasa aku lakukan adalah tersenyum. “ selamat, pasti itu karena bunga dariku” aku mencoba mencairkan suasana hatiku sendiri. “kau senang?” ia bertanya padaku. “jelas saja aku senang, tidak usah kau tanyakan? Jawabku. “apakah kau merasa bahagia?” ia  kembali bertanya. “kenapa kau ini?, jelas saja ku bahagia. Bila sahabatku bahagia, aku pasti bahagia” elakku. “menangislah” ia menghentakkan hatiku. “menangis? Untuk apa?” tanyaku heran. “selama 2 tahun ini, aku tidak pernah melihatmu menagis, jadi menagislah” jawaban iu semakin membuatku tak mengerti. Meski begitu itu adalah hari diamana iu mengerti hatiku. Airmata yang selalu kupendam di hadapannya, sudah hampir tak terbendung. “ada apa kau ini?” kataku sambil membawa tas miliku dan beranjak pergi. Tiba-tiba ia menarik tasku dengan kuat dan terus memintaku untuk menangis. Hal itu semakin membuat aku tidak kuat menahannya. Aku tarik tas ku namun iu pun kembali menariknya lebih kuat “menangislah” dengan perasaan yang tak karuan ini aku pun meninggalkan iu yang masih memegang tasku. Aku menangis saat membalikkan badanku dan berjalan dengan langkah yang berat. Namun tiba tiba langkahku terhenti saat ia berteriak padaku. “kenapa kau begitu licik?” aku mengusap air mataku dan menoleh dan merasa tak percaya akan kata-kata itu. Ia pun memperjelas kata-katanya. “kenapa kau begitu licik?, kenapa kau banyak menyembunyikan hal-hal yang aku tidak tahu, padahal aku selalu mencurahkan apapun padamu,” sesuatu terlintas di pikranku. Apakah ia sudah tahu? Tentang perasaanku?. Wajahku masih tertegun. “ haruskah kau menyembunyikan perasaan itu” ia pun kembali bertanya. Aku semakin yakin akan maksud ucapannya, darimana dia tahu? Kenapa dia bisa tahu?. Aku pun tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya diam. Dan saat itu adalah saat dimana air mataku tak bisa terbendung dihadapannya. Aku menangis di hadapannya. Aku pun melihat mata iu seketike menggenang, iu tersenyum, dan berkata “ menangislah ane, tidak apa, biarkan aku pun merasakan kesedihanmu, jangan kau biarkan aku menjadi seorang sahabat yang bodoh”, kita pun membiarkan waktu berlalu menemani air mata kita.
Tidak ada kata-kata yang terucap dari kita berdua. Tak berapa lama, ia pun mengajakku untuk pulang. Aku yang masih bisu, tak tahu harus bagaimana menghadapi keadaan ini. Seperti tak terjadi apa-apa. Kami pun berjalan kembali ke toko bunga. Kini iu kembali menjadi sosok iu yang aku kenal. “jangan pernah kau sembunyian lagi apapun dariku” dengan senyum khasnya ia bicara padaku. Aku tetap bisu. Iu pun seperti nya mengerti akan keadaanku. Ia membawa tasku dan tiba-tiba… aku lihat bunga yang  kurangkai untuk iu ada ditempat sampah. Aku berhenti dan melihat nya lebih seksama dan langsung melihat ke arah iu. “aku sengaja mebuangnya, bunga itu telah membuamu menagis tanpa sepengetauanku” seakan tahu pertanyaan dalam hatiku. Aku kembali tertegun. Kali ini apa yang harus aku bicarakan. tapi lagi-lagi iu menenangkanku” ayo kita pergi” seolah memaksaku untuk melangkah kembali. entah apa yang ada di hati iu. Kali ini aku tidak bisa menebaknya. Tapi yang aku tahu iu tidak sama sekali menemui gadis yang dia cintai
Suasana perjalanan yang tidak pernah kami lewati sebelumnya. Kami hanya terdiam dan sesekali iu menghela nafasnya. Di pintu toko bungaku, aku lihat adikku. Ia tiba-tiba meminta maaf padaku. “maaf mbak, aku sudah tidak bisa melihat mbak seperti ini terus” aku baru mengerti teryaata adiku lah yang mengatakannya kepada iu. “ kenapa kau meminta maaf, kau adalah orang yang membuat aku mengerti kakakmu” iu yang menjwab permintaan maaf dari adikku. Aku tetap menjadi bisu.
Iu berpamit pulang Dan semua berlalu sampai tak kurasa hari sudah pagi. Ada yang berbeda dengan iu, perhatian yang ia berikan tidak lagi kurasakan dari seorang sahabat, kali ini berbeda. Dia mengajaku berjalan-jalan, seolah tidak terjadi apa-apa di hari kemarin. Dan di tengah perjalan ia berkata “jangan pernah lagi menyembunyikan air matamu, biarkan aku tahu. Mulai sekarang aku akan menjadi orang yang paling mengerti dirimu, biarkan aku mencintaimu” kalimat itu membuatku ingin menangis. “aku…” aku mencoba berucap setelah tak ada yang kucapkan sehari kemarin padanya. “sudah jangan biara apa-apa, aku adalah orang yang paling mengerti dirimu, hanya aku” ia seolah tahu aku belum siap untuk menanggapi semua ini.
Sebulan berlalu. Aku dan iu menjalani hari-hari dengan senyum, ia semakin membuatku bahagia. Ia tidak pernah membicarakan gadis yang ia cintai lagi. Ia membuat hari-hariku istimewa. Meski aku tetap tidak tahu apa yang ada dalam hatinya. Ia mengajakku pergi ke acara musiknya, kali ini orchestranya akan mengadakan pertunjukkan di sebuah gedung kesenian. Aku melihat iu begitu memukau di atas panggung, dengan alunan suara nya bergema bersama musik yang mengalun.  Petikan gitar dan suara gitar yang sudah tidak asing bagiku.
Di tengah acara tiba-tiba aku dengar “itu pacar iu, bukannya ane itu sahabat iu? Seseorang yang tidak aku kenal menyebut namaku, tanpa sepengetahuan mereka aku pun semakin mendekat. “ia mungkin, lagipula iu belum cerita apa-apa, aku juga merasa aneh kenapa dengan iu saat ini, ia jadi tidak pernah lagi terlihat bersama laras, selama ini kan dia menyukai laras, aku tahu bagaimana usahanya mendekati laras, sekarang dia tiba-tiba saja menjauhi laras. Ya walaupun aku dengar laras tidak begitu menyukai iu, mungkin iu hanya menjadikan anesebagai  pelariannya”
“aku rasa tidak, mana mungkin iu sejahat itu, aku pikir dia hanya merasa kasihan pada ane, yang aku tahu ane sudah lama punya perasaan lebih pada iu, aku yakin iu hanya ingin membuat sahabatnya bahagia”
“apa iya”
“tentu saja, kau tidak seperti kenal iu saja, dia adalah sahabat yang baik, dia tidak pernah itungan buat sahabatnya sendiri, sekarang ingat, dia rela menjual mobilnya waktu tomy sakit parah dan harus dipoerasi, sekarang kenapa tidak dia mngorbankan persaannya untuk sahabat yang ia sayangi”
Tapi tetap saja iu tidak benar-benar mencintai ane kan”
“ya sudahlah, kita lihat saja nanti, ayo kita latihan lagi”
Percakapan itu membuat sebulan yang kurasakan ini berakhir begitu saja, apakah benar yang mereka katakana?, aku tidak bisa menhan air mataku dan pergio ke toilet untuk menenangkan diriku, rasanya aku semakin tidak bisa menjalani ini dengan cara ini. Setelah aku keluar dari toilet, aku melihat iu sudah ada di depan pintu toilet, dia sepertinya tahu aku kesini. Acara sudah selesai. Ayo kita pulang. Di perjalanan aku pun meminta Iu untuk tidak lagi berpura-pura. “jangan kau paksakan iu, aku baik-baik saja” akhiri sampai disini”
“apa maksud mu” kata iu
Sudah jangan diteruskan.” Iu nampak marah.
Aku pun tidak bisa bertanya lagi.
Ia mengajakku pulang, di perjalanan wajah marahnya tak lagi terlihat, ia kembali membuat aku semakin mencintainya, namun disisi lain rasa itu pun membuatku merasa semakin bersalah padanya. Ia mengantarku sampai bertemu papa dan mama. Mama pun semakin percaya pada iu, namun tidak bagiku, aku semakin ragu padanya. ‘saya titip bidadari saya ya ma” kata iu. Mama mengangguk dan berkata “ ia pangeran” dengan nada bercanda. Aku hanya tersenyum melihat percakapan itu, sungguh membuatku menjadi semakin bersalah. Teryata benar, mama memang semakin percaya pada iu, apalagi mama tahu betapa ku mencintai iu. “liat. Kesabaranmu membuahkan hasil kan?, Allah memberikan yang terbaik, cinta yang kamu pendam tidak lagi terasa menyakitkan” aku menatap wajah mama, dan memeluk mama erat, aku sandarkan tubuhku di pelukan hangat itu. Rasanya hanya pelukan mama yang membuatku nyaman. Air mata kembali menetes. Tapi aku tidak mau mama tahu. Kalau yang aku rasakan adalah kebalikan dari apa yang mama rasakan.
Pagi menjelang
“antarkan makanan ini ke rumah iu ya” mama memintaku mengantarkan puding kesukaan iu.
“ane tidak bisa ma, ane tidak enak badan, aku coba beralasan, bukan apa-apa. Aku hanya ingin sedikit berpikir atas apa yang sudah dilakukan iu.
“kalau ketemu iu pasti sembuh” mamah malah mengejekku
 Bagaimanapun aku tidak bisa menolak apa yang mama suruh. Aku pergi ke rumah iu dengan langkah yang berat. Aku tahu iu tidak ada di rumah. Ia pasti sedang bekerja. Aku memberi salam dan mengetuk pintu, dan tidak lama pintu ter buka,
“iu? Kamu tidak bekerja?” tanyaku
“ibu sakit, vertigo nya kambuh, ayo masuk” ia melebarkan pintu dan kita pun masuk
“ibu sakit? kenapa kamu tidak bilang?”
“iya aku belum sempat”, kamu tahu sendiri kan ibu anti rumah sakit, ibu semakin sakit kalu di bawa kerumah sakit, aku sudah panggil dokter, ibu juga sudah minum obat”
Saat aku sampai ke kamar ibu, ibu sepertimya terlihat begitu lemas, matanya pun tebuka,
“ane?” dengan nada lemas ibu mencoba bangun, aku pun menahannya,
‘’ibu tidur saja, ane bawa puding kesukaan iu, ane kaget waktu iu yang membukakan pintu, ternyata ibu sakit”
‘padahal ibu suah tidak apa-apa, iu yang berlebihan, harusnya hari ini dia kerja, apalagi nanti malam ada pertunjukkan yang dihadiri bapak presiden, pergilah sana, ibu sudah tidak apa-apa”
“tidak apa-apa bagaimana? Tadi pagi ibu pingsan, sampai sekarang saja masih pucat” jawab iu
‘ibu tidak apa-apa, apalagi sudah melihat calon menantu ibu” ibu mengusap tanganku
Aku terkaget dengan ucapan ibu, kenapa lagi ini? Ada harapan yang besar dari mata ibu. Aku pun melihat ke arah iu, iu hanya tersenyum. Aku tidak bisa menyangkal dalam keadaan ibu sedang sakit. Ibu memang begitu baik kepadaku. Saat kecil sebelum perpisahan kami 14 tahun pun ibu adalah orang yang begitu menyayangiku, ibu yang lebih memilih menjewer iu saat iu menganngguku, ibu yang selalu mengikat lagi rambutku setelah iu merusaknya. Aku pun semakin sulit menghadapi semua ini. Kenapa iu senekat ini. Harusnya ia juga pikirkan kebahagiannya sendiri. Kenapa ia harus memaksakan ini sedemikian jauh?. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan,
Iu, kamu pergi saja, biar aku yang menunggu ibu, kalu perlu aku menginap, nanti aku akan telepon mama, mama pasti mengizinkan” kataku
“iya, pergilah nak, ibu sudah tidak apa-apa, ada ane yang menemani ibu, kamu tidak sedang sibuk kan nak? Tanya ibu
“tidak bu”
“baiklah kalau begitu, aku tenang sekarang”
Iu bergegas sersiap-siap, aku dan ibu saling tersenyum. Kami bercakap sebentar mengenai kabar mama dan papa. Tidak lama iu pun berpamit dan meminta doa dari ibu.
Aku mencari watu untuk bicara berdua dengan iu, aku beralasan mengantar iu sampai depan rumah
“bu aku kunci pintu dulu ya”
“ia nak”
“iu tunggu, apa maksud perkataan ibu tadi, iu, aku mohon jangan membuatku merasa bersalah”
“kenapa? Sudahlah aku sudah bilang aku akan mencintaimu seperti kau mencintaku”
“cukup iu, aku tidak ingin ini dilanjutkan, aku sudah bilang aku baik-baik saja, apa yang akan terjadi nanti. Kamu tidak bisa hidup dengan orang yang tidak kau cintai”
“ane, tolong jangan berkata seperti itu lagi, tolong jaga ibu, aku pulang malam” iu menutup pembicraan kami begitu saja
Tiba-tiba ia kembali menoleh dan berkata, “masakan makanan yang enak ya untuk nanti malam bidadariku”
Kata-kata itu membuat gugur keraguanku sesaat, sepertinya hanya kata-kata itu yang bisa membuatku melupakan sejenak ketidakpercayaanku

(sebenaranya iu tahu saat laras bersama laki-laki di taman bermain itu, pada saat ane mncoba mengalihkan pandangan iu dan pura-pura sakit, saat itu iu ia malah melihat dengan jelas dari kaca di belakang ane, yang ane tidak sadari, namun iu hanya terdiam seolah tak melihat apa-apa, dia seperti mengerti  kalau ane hanya ingin mengalihkan padangan iu)

Ingatkah saat hujan turun, kubiarkan kau bicara, dan aku hanya memperhatikan setiap ucapan yang keluar dari mulutmu. Semua huruf, kata, kalimat yang kau rangkai menjadi sebuah hal yang amat bermakna. Tanpa mau melihatmu, kupalingkan wajahku. Dan kutumpahkan air mata ini. Semuanya menjadikan ku merasa bersalah. Rasanya terlalu salah akan semua ini.
Mungkin aku yang belum percaya padamu. Semua yang telah kau katakan. Seharusnya aku percaya padamu, sebagaimana kau telah mempercayaiku. Percaya akan perasaan yang aku miliki padamu. Seharusnya aku percaya padamu. Bahwa kau bisa mencintaiku. Namun apa yang aku perbuat sungguh tak ingin kulakukan. Kau membuktikan semuanaya, hal yang aku ragukan. Hal yang aku ingin percaya namun sulit, hal yang ingin aku ingin namun teramat terasa jauh, hal yang begitu indah namun terasa menyesakkan. Kini aku ingin kau mendengarkanku, aku percaya padamu.
Setiap kata yang kau ucapakan tak akan lagi kuragukan.
Setiap yang berikan padaku, terasa begitu dekat dan berari bagiku, namun aku tak mau sepereti ini, aku tak mau memperbesar rasakau hanya kaerena kebaikanmu. aku ingin menampikkannya, namun semuanya terasa menyedakku. Membuatku nyaris menyerah menghapus rasa ku.
Setiap kata kuhapus namun semakin sering lagi kau menuliskannya. Semua itu membuatku merasa berat. Mungkin aku yang terlalu naif untuk mniadakan rasa ini.
Kau simpan foto masa kecil kita hingga kita bertemu sekarang. Kau abadikan lewat hobi barumu.
Kini aku yang harus pergi. Mungkin yang kau rasakan saat ini adalah cerminan perasaanku kala itu.
Di jepang, kau mengejutkan ku dengan kedatanganmu. Kau ajak aku makan di tempat kesukaanmu. Disana ternyata sudah ada keluargaku dan ayah serta ibumu. Aku benar-benar senang. Kau pun berjanji akan menjadi guide selama 3 hari liburan ini. Kita habiskan hari-hari indah. Syukurku atas apa yang diberikan-Nya. Kau ajak ke semua tempat kesukaanmu. Termasuk masjid yang sering kau kunjungi. Padahal aku baru 3 bulan di Jepang. Lagi-lagi seikat mawar diantara guguran sakura kau tepati janjimu.

Membuatku selalu tersenyum. Dan kata-kata yang selalu teringat juga dalam ingatanku saat kau bilang aku bisa mencintaimu sungguh perasaanku tak menentu kala itu. Aku tak mau membuatmu terpaksa mencintaiku. Namun kau pun slalu menyangkalnya. Keputusanku ke jepang pun karena aku ingin menjauh darimu. Walaupun sebenarnya aku tak mau. Namun kau buktikan semuanya. Kau buktikan kata-katamu. Mungkin aku yang belum bisa mempercayaimu.
Aku duduk di kursi taman itu, menunggu kamu datang denagn sepeda kesayanganmu. Penjual bunga potong disampingku tiada henti memperhatikan gerak-geriku saat menunggumu, ia melempar senyum padaku dan berkata “sebentar lagi ia datang”. Dan kerap aku melihat jam tanganku, yang terus berjalan sama seperti kamu. Dan rasa jenuh membuatku beranjak dan pergi. Mungkin kamu memang tak akan datang. Mungkin penjual bunga itu juga mengerti. Dan seberapa jauh aku melangkahkan kakiku menjauh darimu. Berlawana dari mana kau dating. Dan entah kenapa tiba-tiba kamu sudah ada didepanku. Dengan seyuman manismu.
Saat ku mencoba menghinmdari mu kau begitu sulit kuhindari, saat kita berpayung, ku tak kuasa menahan air mataku.


wish you many, many more successful and as a musician because you are one very wonderfully, lovely, talented man. May this birthday be a blessed one for such an extraordinary person.

Saat ini aku bukannya sulit untuk memilih, karena aku sudah mempunyai pilihan, akan tetapi jika aku memilih pilihanku maka akan  ada yang terluka atas kebahagiaanku, baiknya aku tidak memilih meskipun aku akan melukai diriku sendiri.
“aku tidak cantik, juga tidak tinggi, sedangkan kakak bisa lebih mendapatkan wanita yang lebih baik dalam segala hal”
“apa... ? sekarang beritahu aku dimana aku bisa mendapatkan wanita seperti itu, aku tak mengerti kenapa aku bisa jatuh cinta padamu, menyukai wanita berjilbab yang selama ini jarang kutemui. Kamu bilang aku bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dalam segala hal, tapi bagaimana jika menurutku wanita yang baik dalam segala hal itu dirimu, lalu dimana aku bisa mendapatkan wanita seperti yang kau maksud, aku bukan jatuh cinta karena kau cantik atau kau tinggi, benar memang kalau aku melihat seorang wanita dari fisik, bukan kah itu memang penting?”
“maka dari itu carilah wanita lain”
“aku belum selesai bicara, aku jatuh cinta padamu juga dengan pertimbangan itu”
“apa maksud kakak?”
“aku jatuh cinta pada matamu, apapun yang kau lihat aku jatuh cinta padanya, aku jatuh cinta pada bibirmu, apapun yang kau katakan aku juga jatuh cinta padanya, aku jatuh cinta pada otakmu, apapun yang kau pikirkan aku jatuh cinta kepadanya, aku jatuh cinta pada tangan dan kakimu, apapun yang kau lakukan aku sangat mencintainya, aku mencintai apapun yang kau lakukan, apa itu bukan karena fisik? Sama saja bukan?”
“kakak... “
“kalau kamu bisa mencarikan wanita lain sepertimu maka beritahu aku, dan satu hal lagi, aku pergi ke masjid seoul bukan untuk bisa lebih dekat denganmu, aku lakukan itu karena aku jatuh cinta pada apapun yang kau lakukan, dan akupun ingin melakukannya”
Setelah kakak bicara semua itu padaku, ada yang membuat aku semakin gelisah
“kenapa kamu masih berpikir kalau aku terpaksa mencintaimu? Iya memang salah karena terlambat menyadarinya, tapi apakah cinta yang datang karena cinta itu bukan cinta? Itu juga cinta bukan? Seharusnya kau tidak perlu memikirkan perkataan orang lain yang tidak benar? Lagipula cinta yang baik itu bukan cinta yang muncul secara tiba tiba pada pandangan pertama, cinta yang baik itu tumbuh disaat kita selalu bersama dengan orang yang peduli dan memperhatikan pada kita. aku pikir saat aku berusaha mencarimu setelah kita berpisah 14 tahun lamanya karena aku hanya rindu teman masa kecilku,ternyata bukan.  aku juga berpikir kalau aku selalu ingin membagi kebahagiaan dan kesedihan denganmu hanya karena aku nyaman denganmu, ternyata itu juga bukan hanya sekedar rasa nyaman.  aku baru nyadarinya sekarang, iya itu aku salah, tapi apakah aku masih salah jika aku akhirnya menyadari kalau aku benar benar mencintai orang yang tulus mencintaiku? An...tapi ada satu hal yang aku sadari sejak kita bertemu lagi, saat kita shalat berjamaah bersama, saat kita mengaji bersama, saat kita berdoa bersama, aku menyadari bahwa kamu akan jadi istri dan ibu yang baik. Istri yang selalu aku idam idamkan. Jadi  Tolong jangan hukum aku seprti ini, aku salah karena aku selalu membicarakan wanita yang kusukai denganmu, aku sangat menyesal benar benar meyesal An. Seberapa banyak kamu memintaku untuk berhenti, aku tak akan berhenti An, aku akan terus membuktikan padamu kalau aku benar-benar mencintaimu, bukan karena terpaksa atau apapun, karena aku tidak senaif itu An, aku juga tak mungin melakukan itu karena akhirnya itu akan melukaimu, kamu hatus tahu An. Ibu, ibuku sebenarnya selalu bilang padaku kalau kamu mencintai aku, tapi aku coba mengelaknya, karena aku takut itu hanya perasaan ibu saja, ibuku juga berpesan kalau aku harus membahagiakan kamu An, jadi aku minta tolong sekali lagi, percaya sama aku An. Tapi jika Tuhan memang tidak menakdirkan kita untuk bersama, maka aku akan rela melepasmu, karena cinta yang hakiki bukan pada manusia kan? tapi pada Tuhan, Allah swt.
Sebenarnya aku sudah percaya pada Iu, aku tapi Kata kata Iu semakin membuatku gelisah, orang yang selama ini aku cintai ternyata kini mencintaiku, tapi apa yang akan aku lakukan jika ada orang kakak juga mengatakan hal yang sama. Iu dan kakak sudah melewati banyak hal yang sulit, lalu apakah aku juga akan mempersulit lagi mereka? Aku tak bisa lakukan itu. Aku benar-benar tak bisa memilih.
***
Kak Hide meneruskan perusahaan Ayahnya Takeshi Miura, kak Hide juga punya restoran dan flower shop yang saling berdampingan di daerah Anyang. Meski Ayah Iu dan Kak Hide orang Jepang tetapi sejak dulu kak hide dan Ayahnya tinggal di korea Selatan. Karena Ayah Iu memunyai perusahaan disana, bahkan keluarga besarnya pun tinggal di korea. Saat Iu ke Indonesia, sebelumnya ia juga sudah tinggal di korea.
Saat mengetahui Ibu Iu tak bisa hamil, Ayah Iu menikah lagi dengan wanita korea selatan, akhirnya mereka dinugerahi kak Hide, namun ibu kak Hide bukan ibu yang baik, ia tak pernah mengurus kak Hide dengan baik, sehingga dari umur kak Hide masih dalam hitungan hari, ibu lah yang mengurus kak Hide, saat kak hide berumur 2 tahun ibu kak Hide meninggal karena kecelakaan, sehingga Ibu pun menjadi pengganti ibu kandung kak Hide, kak hide sendiri lebih menyayangi ibu daripada ibu kandungnya, ia bahkan tak mengingat masa kecil dengan ibu kandungnya, yang ia tahu ia hanya punya satu ibu yaitu ibu Iu. Kak hide bahkan belajar shalat dan mengaji dari ibu, semenjak pak takeshi menikah lagi dengan mendiang ibu kak Hide, ia melupakan semua kewajibannya sebagai seorang muslim, ia masuk islam hanya untuk bisa menikah dengan ibu, namun setelah menikah dan kecewa pada ibu karena ibu tak bisa memberikan keturunan, pak takeshi memperlakukan ibu dengan tidak baik, ia masih mempertahankan  ibu unrtuk kak hide, karena kak hide sudah terlanjur menganggap ibu sebagai ibu kandungnya. Bertahun tahun ibu menderita, hanya kak hide yang selalu ada di sisi ibu. Pak takeshi selalu sibuk dengan pekerjaannya, ia selalu berada di luar kota.
Setelah kak Hide berumur tujuh tahun, penantian ibu akhirnya berakhir, ibu dinyatakan positif hamil, namun pak takeshi tak percaya, ia malah menuduh ibu berselingkuh dengan pria lain, karena selama ini pak takeshi jarang pulang ke rumah, tapi semua itu tidak benar, ibu benar-benar mengandung anak pak takeshi. Namun sikap pak takeshi tak berubah, ia tetap tak memperhatikan ibu bahkan sampai iu lahir ke dunia. Pak takeshi hanya sayang pada kak Hide. Namun kak Hide sangat menyayangi Iu, kak Hide yang selalu menjaga dan melindungi Iu selain ibu. Bahkan saat iu diperlakukan tidak adil oleh Ayahnya, tapi kak Hide selalu membela iu. Mungkin karena itulah iu sangat menyayngi kak hide, iu menganggap kak hide bukan hanya sebagai kakak, tapi juga sebagai Ayah untuknya.
Saat usia iu menginjak 7 tahun, ibu diam diam membawa Iu pulang ke Indonesia, itu semua ibu lakukan karena ibu sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan ayah pada Iu. Ibupun mengorbankan kak Hide, meski ibu juga sangat sayang pada kak hide tapi ibu tak punya pilihan lain. Ibu pun meninggalkan kak hide yang saat itu sudah berumur 14 tahun.
Setelah tahu ibu pergi kak hide sangat terpukul, selain kehilangan sosok ibu ia pun  kehilangan adik kesanyangannya. Kak hide bahkan sering jatuh sakit karena kehilangan dua orang yang ia sayangi.
Di Indonesia, itulah pertama kalinya aku bertemu dengan iu, kami bersekolah di sekolah dasar yang sama. Iu yang saat itu memang berwajah paling berbeda dengan kami selalu menjadi bahan ejekan, kulitnya yang putih dan matanya yang sipit membuat kami menjulukinya anak jepang. Itu juga karena iu punya nama jepang yang unik. Selama setahun lamanya aku dan iu menjadi sahabat, itu semua karena aku tidak suka anak-anak lain mengejeknya, Cuma aku yang mau bermain dengannya. Dimana ada iu disitulah ada aku, namun di tahun kedua pada semester genap aku harus berpisah dengan iu, karena pak takeshi akhirnya menemukan persembunyian ibu di kota bandung. Iu sempat berpamitan padaku, saat itu kami belum begitu mengerti arti perpisahan, sehingga kami masih sedikit gengsi untuk memperlihatkan kesedihan kami jika memang tak akan bisa bertemu lagi, yang aku ingat saat itu aku sama sekali tak mau melihat wajahnya karena aku benar benar tak mau berpisah dengan Iu, aku berusaha menahan airmataku dan menyembunyikannya dari Iu, saat itu benar-benar saat yang menyedihkan yang paling aku ingat.
Pak takeshi membawa iu dan ibu kembali ke korea bukan karena pak takeshi sudah berubah, hal itu ia lakukan semata semata untuk kak hide, kak hide yang sering murung dan sakit sakitan membuat ayah memaksa ibu untuk kembali. Tentu ibu tak bisa menolaknya, karena bagaimnapun juga ibu sudah menganggap kak hide sebagai anak kandungnya. Saat ibu dan iu kembali ke korea kak hide pun kembali bersemangat menajalani hidupnya. Tapi tidak dengan Ayahnya. Pak takeshi tetap tak menganggap ibu dan iu sebagai istri dan anaknya.
Kak hide benar benar menjadi Ayah bagi Iu, sampai Iu lulus sekolah menengah pertama di korea pun kak hide lah yang selau menyempatkan waktu untuk menjadi wali untuk kepentingan sekolah.  Bahkan bila ibu melarangnya kak hide tetap pergi, kak hide malah meminta ibu untuk banyak istirahat di rumah karena sudah mengurusi banyak hal untuk kak hide dan iu. Iu pun tak kehilangan sosok Ayah meski pak takeshi tak pernah ada untuknya, namun meski begitu Iu tetap merasa sedih karena tak pernah dianggap oleh pak takeshi sebagai anak kandungnya. Bahkan nama belakang pak takeshi yang ada pada nama iu itu pun diberikan karena permintaan kak hide.
Menginjak sekolah mengah atas, pak takeshi tak terlalu sering berada di luar kota. Sikap Pak takeshi semakin dingin pada ibu dan Iu. Iu pun semakin tak kuasa menahan perlakuan pak takeshi, sehingga ia memutuskan untuk mengajak ibu kembali pulang ke Indonesia. Kak hide yang mengetahui hal tersebut mencoba melarang, namun kak Hide sadar bahwa selama ini ia hanya menyiksa ibu dan Iu, karena membiarkan ibu dan iu menerima perlakuan tak menyenangkan dari Ayahnya, selama ini ibu dan Iu sudah bertahan di sisi kak hide meski harus tersiksa atas perlakuan pak takeshi. Sehingga kak hide tak bisa berbuat apa-apa. Usaha kak hide untuk membujuk ayahnya berubah pun sia-sia. Pak takeshi mengancam kak hide kalau ia akan terus melukai ibu dan iu jika kak hide tak menuruti kata-katanya. Tentu dengan kekuasaan yang pak takeshi miliki ia bisa melakukan apapun utnuk melukai ibu dan Iu. Ya, cerita tersebut bukan hanya da dalam cerita novel atau televisi. Itu terjadi pada kehidupan Iu. Dengan linangan air mata ibu, iu dan kak hide harus merelakan perpisahan mereka, perceraian ibu dan pak takeshi pun diurus. Kak hide pun tak bisa lagi menemui ibu dan iu karena ancaman pak takeshi. Akhirnya ibu dan iu kembali ke indonesia dan tinggal disana sampai sekarang
Saat ini aku sudah berada di Korea selatan, aku membantu temanku bekerja di KMF. Ya aku kesini bukan hanya untuk menghindari Iu, aku memang sangat ingin merasakan tinggal di negara yang mayoritas nonmuslim, bagainana perjuangan mereka dan kekuatan mereka menjadi seorang muslim. Kebetulan temanku orang indonesia yang bekerja di Korea sebagai manajer di salah satu pabrik benang di korea. Aku diajak bekerja membantunya untuk keperluan KMF karena kekurangan tenaga. Warga asli korea muslim yang ikut bergabung disini pun tak lebih dari 20 orang. Selain itu aku juga bekerja di restoran halal milik orang Turky di Hannam-dong, Yongsan-gu, Seoul sebelah pusat Seoul di sekitar Masjid Itaewon.
Awal pertemuan ko dengan kak Hide di restoran ini, kak Hide ke sini untuk mengenang kebersamaannya bersama Iu dan Ibu kala itu. Kak Hide sering diajak ibu makan disini, Kak Hide juga sangat menyukai makanan disini, jadi jika ia ada waktu luang saat bekerja, atau hanya sekedar melewati tempat ini, kak Hide akan menyempatkan diri untuk makan disini. Karena restoran ini sudah ada sejak belasan tahun lalu. Kak Hide bahkan sangat ingat ketika restoran halal ini pertama kali dibuka saat itu kak Hide sedang berulang tahun ketika usia nya menginjak 15 tahun, saat itulah Ibu mengajak Kak Hide dan Iu untuk makan di restoran ini.
Iu sangat bekerja keras untuk membahagiakan ibunya, mobil dan rumah yang ia punya sekarang pun hasil dari kerja kerasnya, tak hanya bekerja di salah satu orkestra terkenal di Bandung, iu juga bekerja menjadi pengajar biola di salah satu studio musik, ia juga menjadi fotografer freelanch di salah satu media online milik temannya. Bekerja dari siang dan malam, tapi Iu tampak tak lelah, karena apa yang ia kerjakan adalah apa yang ia sukai. Tapi demi aku Iu rela keluar dari orkestra milik musisi ternama di Indonesia dan sebagai pengajar di studi musik. Ia memilih membatu kak hide bekerja di restoran milik kak hide di korea, tentu tanpa sepengetahuan ayahnya,  iu yang meinta itu, karena iu tak ingin ayahnya tau. Ia melepaskan pekerjaanya di indonesia demi aku, padahal yang aku tahu iu punya kenangan pahit disini.
“permisi...” ujar beberapa gadis yang berpapasan denganku dan Iu dengan bahasa korea
Mereka terlihat memandangi wajah Iu, kemudian berlalu begitu saja. Entah apa yang gadis-gadis itu lakukan, mereke seperti mengenal Iu, akan tetapi setelah melihat Iu dengan seksama mereka pun langsung pergi. Tapi aku sedikit teringat kata kak Hide, bahwa Iu yang sekarang terlihat seperti salah satu member boy band korea, namanya lee donghae, saat itu kak hide memperlihatkan foto lee donghae., dan ternyata memang ada banyak kesamaan, mungkin Iu versi hitamnya dari lee donghae. Aku hanya tersenyum senyum saja mengingat hal itu.
“kenapa mereka melihatku seperti itu ya”
“entahlah...” aku pura-pura tak tahu dan Iu hanya memasang wajah bingung
“harusnya kamu tak bersikap seprti itu, aku tak pernah melihatmu semarah ini” kataku pada Iu
“aku hanya tidak ingin ibu terluka lagi oleh orang itu”
“orang itu orang itu ayahmu!”
“tapi dia tidak mau mengakuiku sebagai anaknya”
“apa? Ternyata benar, sifat kamu memang seprti itu”
“seperti itu?”
“iya, kamu memperlakukan orang lain seprti hal nya mereka kepadamu, kamu tak mau mengakui ayahmu karena dia tidak mau mengakuimu? Kalu begitu benar, seperti hal nya yang terjadi pada kita, kamu bilang mencintai aku? Apa itu bukan karena aku mencintai kamu? Bahkan saat kecil saja, kamu hanya memperlakukanku dengan baik jika aku menuruti permintaanmu, kamu bilang akan mengantarku ke sekolah jika aku mau melepas ikat rambutku, begitu kan”
“apa? Ana ... jangan samakan hal itu dengan apa yang terjadi antara aku dan pak takeshi”
“sama saja, bagiku itu sma saja, kamu memang seperti itu”
“Ana ...”
“sekarang lebih baik kamu sendiri berpikir, apakah yang telah kamu lakukan selama ini benar, pikirkanlah ...”
Ana pergi meninggalkan Iu
Maaf Iu aku tak bermaksud berkata seprti itu Iu, aku bahkan sangat mempercayaimu, kalau kamu memang benar-benar mencintaiku, aku hanya ingin kamu bisa mengungkapkan perasaanmu yang sebenarnya pada ayahmu, dan aku juga ingin menjadi ganjalan antara kau dan kak hide, kalian sudah banyak melalui hal sulit, dan aku tak ingin membuat kalian mengalami hal sulit lagi. kalian harus bahagia, Ana
Ana, kamu salah, aku bukan orang yang seprti ituaku bahkan ingin sekali memanggilnya Ayah, tapi aku tak bisa, bahkan kamu juga sangat salah, aku mencintaimu bukan karena kamu juga mencintaiku, bahkan saat kamu terus menjauh dariku atau bahkan kau bilang tak lagi mencintaiku, aku akan semakin yakin kalau aku benar benar mencintaimu, karena aku sangat mengenalmu, aku tak akan pernah menyerah, sebelum Tuhan memberi keyakinan padaku untuk menyerah, Iu
Kalau kakak berfikir aku ingin menikah dengan ana karena ana mencintaiku kakak salah, atau kakak juga berfikir kalau aku ingin menikahi ana karena aku begitu mencintainya kakak juga salah, meski semua itu benar adanya, namun bukan itu alasannya. Aku ingin menikahinya karena itu jawaban dari semua doaku kepada Tuhan kak. Aku tak pernah meminta ana menjadi pendamping hidupku, aku berdoa supaya aku dipertemukan jodoh yang baik untukku. Selama ini kami pernah berpisah, lalu ana juga melakukan berbagai cara untuk menghindariku, tapi aku dan ana selalu dipertemukan lagi kak, awalnya aku tak menyadari itu, tapi saat aku berdoa, Tuhan memberikan jawabannya. Kalaupun kami nanti tidak berjodoh, itu juga kehendaknya, namun sampai saat ini aku diberikan keyakinan kalau aku benar benar mencintainya dan ingin menikah dengannya, aku tak tahu apa yang kakak rasakan, namun biarlah waktu yang menjawab semuanya kak. Seandainya Ana memang bukan jodohku, aku akan rela melepasnya. 

Di Korea aku mengenal seo hyun dan min jung. mereka adalah mahasiswa Universitas Seoul fakultas seni dan budaya yang sedang melakukan penelitian tentang Islam di Korea. karena aku menjadi salah satu narasumber mereka akupun jadi kenal dekat dengan keduanya. seohyun dan minjung sangat baik dan mempunyai toleransi yang tinggi, mereka pun sedikit demi sedikit mengenal Islam lebih dalam. mereka setahun lebih tua dariku tapi layaknya sebaya teman. selain rajin berkujung ke Islamic Center di Masjid Seoul untu melakukan wawancara dengan KMF mereka sering berkunjung ke restoran untuk sekedar makan dan bertemu denganku. meski Islam agama minoritas namun penganut Islam semakin meningkat setiap tahunnya. entah itu karena pendatang maupun warga korea asli yang menjadi mualaf. awalnya karena di asrama kampus disediakan Masjid mereka pun mulai tertarik meneliti Islam, aku, seohyun, minjung dan fiza pun menjadi sahabat dekat, meski seohyun laki-laki satu satunya, dia tidak malu jika jalan -jalan bersama kami

Komentar

Postingan Populer